Template information

Home » , , » Keadaan - Keadaan Yang Memperbolehkan Istri Menolak Berhubungan Intim Dengan Suaminya

Keadaan - Keadaan Yang Memperbolehkan Istri Menolak Berhubungan Intim Dengan Suaminya

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum.
Bapak ustadz, mohon penjelasan hal-hal yang memperbolehkan istri menolak ajakan suami untuk bersetubuh beserta ibarotnya. Terima kasih.

(Dari:  Sari Similikti).


Jawaban:
Wa alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh.
Telah diketahui bersama bahwa seorang istri tidak diperkenankan menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri tidak mendatanginya, hingga dia bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (Shahih  Bukhari, no.3237, 5193 dan Shahih Muslim, no.1436).

Syekh Al-Munawi menjelaskan; “Hadits ini memberikan tuntunan bagi seorang istri untuk membantu dan mencari ridho suaminya. Sebab seorang lelaki lebih sulit menahan syahwat untuk berhubungan intim daripada wanita, dan lagi salah satu perkara yang paling mengganggu pikiran seorang lelaki adalah hasrat untuk berhubungan intim, karena itulah seorang wanita didorong untuk membantu suaminya dalam menuntaskan syahwatnya agar sang suami dapat berkonsentrasi dalam beribadah”.

Meskipun begitu, terdapat beberapa keadaan yang membolehkan seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan intim, Berikut ini uraiannya:

1.  Haid
     Semua ulama’ telah sepakat mengenai keharaman menggauli wanita yang sedang haid, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi. Diantara dalilnya adalah firman Allah:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” (QS. Al-Baqoroh : 222).

Imam Syafi’i mengatakan; “Orang yang melakukannya (menggauli wanita haidh) bebarti telah melakukan dosa besar”.

2.  Nifas
     Imam Ibnu Jarir menukil ijma’ (kesepakan ulama’) mengenai keharaman menggauli wanita yang sdang mengeluarkan darah nifas. Imam Syairozi menjelaskan bahwa darah haidh diberikan hukum sama (dalam banyak hal) dengan darah haid, sebab darah nifas merupakan darah haid yang baru keluar saat melahirkan setelah sebelumnya tertahan karena seorang wanita sedang dalam masa kehamilan.

3. I’tikaf
     Allah ta’ala berfirman dalam al-qur’an:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
     Berdasarkan hadits diatas para ulama’ sepakat (ijma’) bahwa orang yang sedang dalam keadaan i’tikaf diharamkan melakukan hubungan intim.

4. Puasa wajib
     Para ulama’ telah sepakat bahwa orang yang sedang berpuasa wajib diharamkan melakukan hubungan intim, dan orang yang melakukannya puasanya batal dan diwajibkan membayar kafaroh (tebusan). Diantara dalilnya adalah hadits:
عَنْ حَكِيمِ بْنِ عِقَالٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا يَحْرُمُ عَلَيَّ مِنِ امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ؟ قَالَتْ: فَرْجُهَا
“Dari Hakim bin Iqol, bahwasanya ia berkata; “Aku pernah bertanya pada Aisyah ummul mukminin mengenai perkara yang diharamkan bagiku atas istriku ketika aku berpuasa, beliau menjawab; ‘alat kelaminnya’ (menggaulinya)” (Sunan Baihaqi, no.1509)

5. Ihrom
    Imam Ibnul Mundzir menuturkan dalam kitab Al-Ijma’  bahwa ulama’ telah sepakat mengenai keharaman berhubungan intim bagi orang yang sedang melakukan ihrom. Syekh Ilkiya Al-Harrosi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “Rofats” pada ayat:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“ (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji tidak boleh mengerjakan rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (QS. Al-Baqoroh : 197)

adalah “berhubungan intim” sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas.

6. Dhihar
     Tidak diperselisihkan lagi dikalangan ulama’ bahwa seorang suami yang men-dhihar istrinya, maka sang suami diharamkan berhubungan intim dengannya. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Orang-orang yang mendhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 3)

7.  Sakit yang membahayakan.
     Ketika istri dalam keadaan sakit, ia boleh menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim. Sakit yang dimaksud disini adalah sakit yang pada umumnya atau menurut keterangan dokter apabila ia berhubungan intim sakitnya akan bertambah parah atau tidak kunjung sembuh.

8. Alat kelamin suaminya terlalu besar
     Jika alat kelamin suami terlalu besar sehingga menyebabkan seorang istri tak sanggup melakukan hubungan intim dengan sang suami, maka seorang istri diperbolehkan menolak berhubungan intim dengan suaminya. Hanya saja ketidak mampuan istri untuk berhubungan intim dengan suaminya dengan alas an alat kel;amin suami yang terlalu besar harus dibuktikan dengan 4 saksi atau dengan penelitian dari seorang dokter ahli.
     kebolehan istri menolak ajakan hubungan intim dalam 2 keadaan diatas berdasarkan keumuman firman Allah:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Gaulilah para wanita kalian dengan cara yang baik” (QS. An-Nisa’ : 19)
     Dan sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak diperbolehkan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain” (Sunan Ibnu Majah, no.2340)
9.  Suami mengajak berhunungan intim di hadapan istri yang lain.
Para ulama’ telah menetapkan bahwa ketika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan intim bersama dengan istri lainnya, maka sang istri diperbolehkan untuk menolaknya. Penolakan istri tersebut tidak dikategorikan sebagai suatu pembangkangan, sebab para ulama’ juga tidak menyukai (makruh) cara seperti itu, bahkan sebagian diantaranya menyatakan bahwa berhubungan intim bersama dengan beberapa istri sekaligus hukumnya haram. Imam Al-Hasan pernah ditanya mengenai  seorang lelaki yang memiliki dua istri yang menghuni satu tempat tinggal, berkata :
كَانُوا يَكْرَهُونَ الْوَجْسَ، وَهُوَ أَنْ يَطَأَ إِحْدَاهُمَا وَالْأُخْرَى تَنْظُرُ أَوْ تَسْمَعُ

"Mereka (yakni para sahabat Nabi, atau pembesar tabi'in) tidak sukamengerjakan "al- wajs". Yaitu berhubungan intim dengan salah satu isteri, sedangkan isteri yang lain melihat atau  mendengarnya". (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.17549)

7.  Alat kelamin suami dalam keadaan najis.
     Seorang istri diperbolehkan untuk menolak berhubungan sengan suaminya apabila alat kelamin suaminya sedang dalam keadaan najis, sebab para ulama’ telah menetapkan keharoman berhubungan intim pada saat alat alat kelamin seorang lelaki dalam kedaaan najis.
     hanya saja keharaman ini tidak berlaku bagi lelaki yang menderita beser (air kencingnya keluar terus menerus) dan apabila seorang lelaki memiliki kebiasaan apabila alat kelaminnya dicuci dengan air sebelum berhubungan intim, syahwatnya malah akan melemah.

     Demikianlah beberapa kondisi  yang membolehkan seorang istri menolak ajakan suami untuk bersetubuh. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Siroj Munir, Al Murtadho, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Dimas Wawan Brawijaya).


Referensi:
1. Faidhul Qodir Syarah Jami’us Shoghir, Jilid: 1  Hal: 344

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه) ليطأها (فأبت) امتنعت بلا عذر وليس حقيقة الإباء هنا بمرادة إذ هو أشد الامتناع والشدة غير شرط كما تفيده أخبار أخر (فبات) أي فبسبب ذلك بات وهو (غضبان عليها) فقد ارتكبت جرما فظيعا ومن ثم (لعنتها الملائكة حتى تصبح) يعني ترجع كما في رواية أخرى قال ابن أبي حمزة: وظاهره اختصاص اللعن بما إذا وقع ذلك ليلا وسره تأكيد ذلك الشأن ليلا وقوة الباعث إليه فيه ولا يلزم منه حل امتناعها نهارا وإنما خص الليل لكونه المظنة وفيه إرشاد إلى مساعدة الزوج وطلب رضاه وأن يصبر الرجل على ترك الجماع أضعف من صبر المرأة وأن أقوى المشوشات على الرجل داعية النكاح ولذلك حث المرأة على مساعدته على كسر شهوته ليفرغ فكره للعبادة

2. Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab,  Jilid: 2  Hal: 358-359

قال المصنف رحمه الله: ويحرم الوطئ في الفرج لقوله تعالى (ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله)
......................
الشرح: أجمع المسلمون علي تحريم وطئ الحائض للآية الكريمة والأحاديث الصحيحة قال المحاملي في المجموع قال الشافعي رحمه الله من فعل ذلك فقد أتى كبيرة

3. Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab,  Jilid: 2  Hal: 518-519

قال المصنف رحمه الله: دم النفاس يحرم ما يحرمه الحيض ويسقط ما يسقطه الحيض لأنه حيض مجتمع احتبس لأجل الحمل فكان حكمه حكم الحيض
............................
الشرح: ................ وهذا الذي ذكرناه من أن النفساء لها حكم الحائض لا خلاف فيه ونقل ابن جرير إجماع المسلمين عليه

3. Al Fiqh al Islamiy wa Adillatuh,  Jilid: 3  Hal: 1776 - 1777

مبطلات الاعتكاف: .............. 2-الجماع، ولو كان عند الجمهور ناسيا أو مكرها ليلا أو نهارا؛ لأن الوطء في الاعتكاف حرام بالإجماع، لقوله تعالى: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد، تلك حدود الله فلا تقربوها} [البقرة:187/ 2] فإن وطئ في الفرج عمدا أفسد اعتكافه بالإجماع

4. Sunan Kubro Lil-Baihaqi, Jilid: 1  Hal: 469

وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب، ثنا بحر بن نصر، قال: قرئ على شعيب بن الليث أخبرك أبوك، عن بكير، عن أبي مرة مولى عقيل بن أبي طالب عن حكيم بن عقال، أنه قال: سألت عائشة أم المؤمنين ما يحرم علي من امرأتي وأنا صائم؟ قالت: فرجها

5. Al-Ijhma’ Li Ibnul Mundzir, Hal: 52

وأجمعوا على أن المحرم ممنوع من: الجماع

6. Tafsir Ayat Ahkam Li Ilkiya Al-Harrosi Asy-Syafi’i, Jilid: 1  Ha; 113

الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج
......................
قوله: (فلا رفث ولا فسوق) قال ابن عمر: الرفث الجماع. وعن ابن عباس مثل ذلك. وروي عنه أنه التعريض بالنساء. والأصل في الرفث الإفحاش في القول، وبالفرج الجماع، وباليد الغمز للجماع، هذا أصل اللغة. فدلت الآية، على النهي عن الرفث في هذه الوجوه كلها، ومن أجله حرم العلماء ما دون الجماع في الإحرام

7. Ahkamul Qur’an Lil Imam Asy-Syafi’i,  Jilid: 1  Hal: 234

قال الشافعي: والذي حفظت  مما سمعت في: (يعودون لما قالوا) .-: أن المتظاهر حرم مس امرأته بالظهار


6. Mughnil Muhtaj, Jilid: 5  Hal: 169

وعبالة زوج، أو مرض يضر معه الوطء عذر
......................................
وعبالة زوج) وهي بفتح العين كبر آلته بحيث لا تحتملها الزوجة (أو مرض) بها (يضر) ها (معه الوطء عذر) في منعها من وطئه فتستحق النفقة مع منع الوطء لعذرها إذا كانت عنده لحصول التسليم الممكن، ويمكن التمتع بها من بعض الوجوه، وتثبت عبالته بأربع نسوة؛ لأنها شهادة يسقط بها حق الزوج ولهن نظر ذكره في حال الجماع للشهادة بذلك




7. Tuhfatul Muhtaj, Jilid: 7  Hal: 443

قوله ويكره إلخ) ظاهره كراهة التنزيه وبه صرح المصنف في تعليقه على التنبيه اهـ مغني وظاهر التعليل الآتي أن هذا الحكم لا يختص بالزوجات بل يجري في زوجة وسرية وفي سريات فليراجع (قوله مع علم الأخرى إلخ) بل يحرم إن قصد إيذاء الأخرى أو لزم منه رؤية محرمة للعورة م ر اهـ سم عبارة الرشيدي قوله مع علم الأخرى عبارة غيره بحضرة الأخرى اهـ ومن الغير المغني (قوله ولا تلزمها الإجابة) ولا تصير ناشزة بالامتناع اهـ

8. Mughnil Muhtaj, Juz : 4  Hal : 416-417

قال الشيخان: كره أن يطأ إحداهما بحضرة الأخرى؛ لأنه بعيد عن المروءة، وظاهره كراهة التنزيه، وبه صرح المصنف في تعليقه على التنبيه، وقضية كلام جماعة تحريم ذلك، وصرح به القاضي أبو الطيب، وصوبه الأذرعي، وقال إنه مقتضى نصه في الأم لما في ذلك من سوء العشرة وطرح الحياء اهـ. ويمكن الجمع بينهما بأن يكون محل التحريم إذا كانت إحداهما ترى عورة الأخرى

9. Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 4  Hal : 37

حدثنا أبو بكر قال: نا عباد بن العوام، عن غالب، قال: سألت الحسن، أو سئل، عن رجل تكون له امرأتان في بيت قال: كانوا يكرهون الوجس، وهو أن يطأ إحداهما والأخرى تنظر أو تسمع

10. Busyrol Karim, Jilid: 1  Hal: 136

ويحرم جماع من تنجس ذكره إلا سلساً، ومن يعلم من عادته أن الماء يفتر ذكره

11. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Jilid: 44  Hal: 44-22

موانع الوطء المشروع
موانع الوطء المشروع تسعة، اتفق الفقهاء على ستة منها: وهي الحيض والنفاس والاعتكاف والصوم والإحرام والظهار قبل التكفير، واختلفوا في ثلاثة منها: وهي الاستحاضة، وعدم الاغتسال بعد الطهر من الحيض، والإقامة في دار الحرب، وبيان ذلك فيما يلي
أولا: الحيض: اتفق أهل العلم على حرمة وطء الحائض في الفرج، لقوله تعالى: {فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن} . وما ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في شأن الاستمتاع بالحيض: اصنعوا كل شيء إلا النكاح
ثانيا: النفاس: اتفق الفقهاء على حرمة وطء النفساء في الفرج، وأن حكم دم النفاس في حظر الوطء وفي اقتضاء الغسل بعده ووجوب الكفارة - حكم الحيض اتفاقا واختلافا
رابعا: الاعتكاف: اتفق الفقهاء على أن الوطء في الاعتكاف حرام، وأنه مفسد له ليلا كان أو نهارا إذا كان عامدا لقوله تعالى: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد
خامسا: الصوم: اتفق الفقهاء على حرمة الوطء عمدا على الصائم في رمضان، وأنه مفسد للصوم، وموجب للكفارة، أنزل أو لم ينزل
سادسا: الإحرام: اتفق الفقهاء على حرمة الوطء على المحرم بنسك حج أو عمرة، لقوله تعالى: {فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال في الحج} . حيث جاء في تفسير الرفث: أنه ما قيل عند النساء من ذكر الجماع وقول الفحش، وبناء على ذلك تكون الآية دليلا على تحريم الجماع على المحرم بطريق دلالة النص، أي من باب أولى. كما فسر الرفث أيضا بالجماع نفسه، فتكون الآية نصا فيه
سابعا: الظهار: لا خلاف بين الفقهاء في حرمة وطء الزوجة المظاهر منها قبل التكفير، وذلك لقوله تعالى: {والذين يظاهرون من نسائهم ثم يعودون لما قالوا فتحرير رقبة من قبل أن يتماسا

0 komentar:

Posting Komentar