Template information

Ketika Adzan berkumandang, Apakah Dilanjutkan Mengajar Atau Menjawab Adzan?


Soal: Assalamualaikum, saya menjumpai dua model pak kiyai;

1. Saat ta'lim (mengajar) dikala adzan berkumandang maka berhenti sejenak untuk menjawab adzan

2. Ta'lim tetap lanjut kala adzan berkumandang dengan alasan kalau litta'lim tidak apa-apa

Yang saya tanyakan adakah keterangan dalam kitab-kitab salaf untuk nomer 2 Sekalian alasan yang nomer 1 juga boleh ustad. Terimakasih.

(Pertanyaan dari : Pencari Tahu)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Ketika terdengar suara adzan dikumandangkan saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, sebaiknya proses belajar mengajar berhenti sejenak guna menjawab adzan, sebab menjawab adzan hukumnya sunah bagi orang yang mendengarkan adzan berkumandang untuk menjawab adzan tersebut, baik bagi orang yang sedang dalam keadaan berwudhu atau tidak, kecuali bagi orang yang sedang melakukan hubungan intim dan sedang qodhil hajat (buang air besar/kecil).

Sedangkan menanggapi sebagian orang yang tetap melanjutkan mengajar saat terdengar suara adzan dikumandangkan, berikut ini kami kutipkan penjelasan Imam sya’roni dalam kitab al-Uhud al-Muhammadiyyah, beliau berkata;

"Kita telah terikat perjanjian umum dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menjawab orang yang sedang adzan sebagaimana telah dijelaskan dalan As-Sunnah, dan untuk tidak membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya atau membicarakan hal lain, untuk menunjukkan sikap sopan santun kita pada Nabi Muhammad yang telah menetapkan syari'at.

Sebab segala sesuatu itu ada waktunya; menjawab adzan ada waktunya, untuk ilmu ada waktunya, tasbih ada waktunya, membaca al-qur'an juga ada waktunya sendiri. Sebagaimana pada waktu membaca fatihah kita tidak boleh menggantinya dengan istighfar, tempatnya rukuk dan sujud tidak boleh ditempati membaca, begitu juga tempatnya tasyahud tidak boleh ditempati untuk hal lain, dan begitu seterusnya. Pahamilah hal ini!

Perjanjian ini (kesunahan menjawab adzan) telah banyak ditinggalkan oleh para penuntut ilmu agama, apalagi selain mereka!, mereka tidak lagi mau menjawab adzan, bahkan terkadang meninggalkan sholat jama'ah sampai sholat jama'ah selesai dikerjakan. Sedangkan mereka sedang asyik muthola'ah (mempelajari) ilmu nahwu, ushul atau fiqih, dan mereka berkata: "Ilmu lebih dikedepankan daripada hal lain secara mutlak", ucapan itu tentu saja tidak benar, sebab terdapat perincian dalam masalah tersebut, karena tak semua ilmu lebih dikedepankan daripada sholat jama'ah, sebagaimana telah diketahui oleh orang yang pernah "mencium bau" tingkatan-tingkatan perintah-perintah syari'at.

Karena itulah, tuanku, Syaikh Ali Al-Khowwash rahimahullah keika mendengar adzan berkumandang berkata: "Hayya 'alas sholah" (Mari mengerjakan sholat), badan beliau gemetar dan hampir meleleh karena merasakan haibatullah (kewibawaan), beliau menjawab adzan dengan hudhur dan khusyu' yang sempurna, semoga Allah meridhoi beliau. Ketahuilah hal itu, semoga Allah memberikanmu petunjuk."

Dari kutipan penjelasan Imam Sya'roni diatas kiranya kita telah dapat mengambil kesimpulan bahwasanya melanjutkan mengajar saat mendengar adzan berrkumandang dengan alasan bahwa tidak menjawab adzan karena sedang mengajar itu tidak dibenarkan, karena ilmu tak selalu lebih didahulukan dari ibadah-ibadah lainnya, dan lagi semua amal kebaikan itu ada waktunya sendiri-sendiri. Wallahu a'lam. 

(Dijawab oleh: Ulinuha Asnawi , Kudung Khantil Harsandi Muhammad,Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi:

1. Nihayatuz Zain, juz 1 hal 97

و) سنّ (لسامعهما) أَي الْمُؤَذّن والمقيم (أَن يَقُول وَلَو غير متوضىء) أَو جنبا أَو حَائِضًا أَو نفسَاء خلافًا للسبكي حَيْثُ قَالَ يسن للمحدث لَا للْجنب وَالْحَائِض وَخِلَافًا لِابْنِهِ وَهُوَ التَّاج السُّبْكِيّ حَيْثُ قَالَ تجيب الْحَائِض لطول أمدها بِخِلَاف الْجنب (مثل قَوْلهمَا) والمجامع وقاضي الْحَاجة يجيبان بعد فرَاغ شغلهما كغيرهما مَا لم يطلّ الْفَصْل عرفا وَإِلَّا لم تسْتَحب لَهما الْإِجَابَة

2. I'anatut Tholibin, juz 1 hal.279

(( فائدة )) ﻗﺎﻝ اﻟﻘﻄﺐ اﻟﺸﻌﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻌﻬﻮﺩ اﻟﻤﺤﻤﺪﻳﺔ: ﺃﺧﺬ ﻋﻠﻴﻨﺎ اﻟﻌﻬﺪ اﻟﻌﺎﻡ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃﻥ ﻧﺠﻴﺐ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﺑﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ اﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻻ ﻧﺘﻼﻫﻰ ﻋﻨﻪ ﻗﻂ ﺑﻜﻼﻡ ﻟﻐﻮ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺩﺑﺎ ﻣﻊ اﻟﺸﺎﺭﻉ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -. ﻓﺈﻥ ﻟﻜﻞ ﺳﻨﺔ ﻭﻗﺘﺎ ﻳﺨﺼﻬﺎ، ﻓﻺﺟﺎﺑﺔ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﻭﻗﺖ، ﻭﻟﻠﻌﻠﻢ ﻭﻗﺖ، ﻭﻟﻠﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻗﺖ، ﻭﻟﺘﻼﻭﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻗﺖ. ﻛﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻣﻮﺿﻊ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ اﺳﺘﻐﻔﺎﺭا، ﻭﻻ ﻣﻮﺿﻊ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭاﻟﺴﺠﻮﺩ ﻗﺮاءﺓ، ﻭﻻ ﻣﻮﺿﻊ اﻟﺘﺸﻬﺪ ﻏﻴﺮﻩ. ﻭﻫﻜﺬا ﻓﺎﻓﻬﻢ. ﻭﻫﺬا اﻟﻌﻬﺪ ﻳﺒﺨﻞ ﺑﻪ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻃﻠﺒﺔ اﻟﻌﻠﻢ ﻓﻀﻼ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻓﻴﺘﺮﻛﻮﻥ ﺇﺟﺎﺑﺔ اﻟﻤﺆﺫﻥ، ﺑﻞ ﺭﺑﻤﺎ ﺗﺮﻛﻮا ﺻﻼﺓ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﺨﺮﺝ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻫﻢ ﻳﻄﺎﻟﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﻧﺤﻮ ﺃﻭ ﺃﺻﻮﻝ ﺃﻭ ﻓﻘﻪ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻘﺪﻡ ﻣﻄﻠﻘﺎ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﺈﻥ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺗﻔﺼﻴﻞ، ﻓﻤﺎ ﻛﻞ ﻋﻠﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻘﺪﻣﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﻮﻗﺖ ﻋﻠﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻋﻨﺪ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺷﻢ ﺭاﺋﺤﺔ ﻣﺮاﺗﺐ اﻷﻭاﻣﺮ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ. ﻭﻛﺎﻥ ﺳﻴﺪﻱ ﻋﻠﻲ اﻟﺨﻮاﺹ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﺫا ﺳﻤﻊ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﻳﻘﻮﻝ: ﺣﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ. ﻳﺮﺗﻌﺪ ﻭﻳﻜﺎﺩ ﻳﺬﻭﺏ ﻣﻦ ﻫﻴﺒﺔ اﻟﻠﻪ ﻋﺰﻭﺟﻞ، ﻭﻳﺠﻴﺐ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﺑﺤﻀﻮﺭ ﻗﻠﺐ ﻭﺧﺸﻮﻉ ﺗﺎﻡ، ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ. ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻫﺪاﻙ. اﻩ.

Hukum Shalat Saat Hadir Di Masjid Bertepatan Dengan Adzan Jum’at



Pertanyaan:
Assalamu'alaikum.
Saya mau tanya, kenapa kalau ada yang lagi adzan tidak boleh sholat? seperti kemarin waktu Jum'at orang yang datang belakangan berdiri semua dan tidak ada  yang shalat karena sedang dikumandangkan adzan.

(Dari: Aceng Ingin DiCinta).


Jawaban:
Wa alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Para ulama' telah menetapkan bahwa ketika seseorang masuk masjid pada saat mu'adzin sedang mengumandangkan adzan hendaknya orang tersebut menunggu sampai muadzin selesai adzan, baru setelah itu ia mengerjakan sholat tahiyat masjid. Tujuannya adalah agar memperoleh 2 pahala sekaligus, yaitu pahala menjawab adzan dan sholat sunat tahiyat masjid.

Hanya saja terjadi menurut pendapat madzhab Syafi'i dan Hanbali; orang yang masuk masjid ketika muadzin sedang adzan menunggu selesainya adzan sambil berdiri, sedangkan menurut pendapat madzhab Hanafi orang tersebut menunggu mu'adzin menyelesaikan adzan sambil duduk.

Jadi kesimpulannya, orang yang masuk masjid pada saat muadzin sedang mengumandangkan adzan tidak mengerjakan sholat tujuannya agar ia memperoleh 2 pahala, yaitu pahala menjawab adzan dan sholat tahiyat masjid, karena menjawab adzan itu hukumnya sunat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ المُؤَذِّنُ

"Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin." (Shahih Bukhari, no.611 dan Shahih Muslim, no.383).

Begitu juga halnya dengan sholat tahiyat masjid, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

إذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua raka'at". (Shahih Bukhari, no.1110 dan Shahih Muslim, no.714).

Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Al Murtadho dan Siroj Munir).


Referensi:

1. Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah juz 34 hal. 111.

إذا دخل المسلم المسجد ، والمؤذن يؤذن ، فهل يظل قائما أو يجلس؟ للفقهاء اتجاهان
ذهب الشافعية والحنابلة إلى أنه إذا دخل المصلي المسجد، والمؤذن قد شرع في الأذان، لم يأت بتحية ولا بغيرها، بل يجيب المؤذن واقفا، حتى يفرغ من أذانه، ليجمع بين أجر الإجابة والتحية
وذهب الحنفية إلى أنه إذا دخل المصلي المسجد ، والمؤذن يؤذن أو يقيم قعد حتى يفرغ المؤذن من أذانه، فيصلي التحية بعدئذ  ليجمع بين أجر الإجابة وتحية المسجد

2. Mughnil Muhtaj, Jilid: 1  Hal: 327-328 (Madzhab Syafi'i)

ويسن لسامعه) أي المؤذن ومستمعه كما فهم بالأولى، ومثل المؤذن المقيم (مثل قوله) لقوله - صلى الله عليه وسلم - «إذا سمعتم النداء فقولوا مثل ما يقول المؤذن» متفق عليه ويقاس بالمؤذن المقيم، وتناولت عبارته الجنب والحائض ونحوهما وهو المعتمد كما جزما به خلافا للسبكي في قوله لا يجيبان لحديث «كرهت أن أذكر الله إلا على طهر» ولابنه في قوله: ويمكن أن يتوسط، فيقال: تجيب الحائض لطول زمنها بخلاف الجنب، وتناولت أيضا المجامع وقاضي الحاجة، لكن إنما يجيبان بعد الفراغ
كما قاله في المجموع، ومحله ما لم يطل الفصل، فإن طال لم تستحب لهما الإجابة، وفارق هذا تكبير العيد المشروع عقب الصلاة حيث يتدارك وإن طال الفصل بأن الإجابة تنقطع مع الطول بخلاف التكبير ومن في صلاة، والأصح أنه لا يستحب له الإجابة بل تكره، فإن قال في التثويب: صدقت وبررت، أو قال: حي على الصلاة أو الصلاة خير من النوم بطلت صلاته، بخلاف صدق رسول الله - صلى الله عليه وسلم - لا تبطل به كما صرح به في المجموع، وإن أجاب في أثناء الفاتحة وجب استئنافها، وإذا كان السامع أو المستمع في قراءة أو ذكر استحب له أن يقطعهما ويجيب، أو في طواف أجاب فيه كما قاله الماوردي

3. Kasyaful Qona', Jilid: 1  Hal: 246-247 (Madzhab Hanbali)      

ولو دخل المسجد والمؤذن قد شرع في الأذان لم يأت بتحية المسجد ولا بغيرها، بل يجيب) المؤذن (حتى يفرغ) من أذانه فيصلي التحية بشرطه، ليجمع بين أجر الإجابة والتحية    

3. Hasyiyah Ibnu Abidin, Jilid: 1  Hal. 400 (Madzhab Hanafi)

دخل المسجد والمؤذن يقيم قعد إلى قيام الإمام في مصلاه
........................
قوله: قعد) ويكره له الانتظار قائما، ولكن يقعد ثم يقوم إذا بلغ المؤذن حي على الفلاح انتهى هندية عن المضمرات

Penggunaan Alat Pengeras Suara Ketika Adzan, Sholat Jama'ah, Khutbah,dl. Bid’ahkah ? - Fatwa Syeikh Isma'il Utsman Zain Al-Yamani



Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan beberapa hukum bagi kita, dan telah menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram.
Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad pemimpin umat manusia yang telah bersabda;

مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْراً يُفَقّهْهُ في الدّين

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya maka Alloh akan memberikan pemahaman agama kepadanya".

Sholawat serta salam semoga terlimpahkan pula kepada keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in) dalam menapaki jalan lurus.

Amma ba'du,
Orang yang sangat mengharap pengampunan Alloh, Isma'il Utsman Zain Al-Yamani Al-Makki Asy-Syafi'i -semoga Alloh senantiasa mengasihinya- berkata;

Sebagian orang bertanya tentang hukum menggunakan alat pengeras suara saat adzan, sholat jama'ah, sholat jum'at, khutbah sholat jum'at, dan hal-hal lain yang dianjurkan untuk mengeraskan bacaan dan disengar oleh orang lain, sebab sebagian orang yang menganggap dirinya seorang 'alim mengatakan bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan dan menyatakannya sebagai perbuatan bid'ah.

Aku berkata; Ketahuilah bahwasanya setiap permasalahan yang sedang terjadi atau akan terjadi hingga hari kiamat nanti ada hukumnya dalam syari'at kita yang sangat jelas. Baik hal tersebut terdapat dalam nash atau dengan penggalian hukum yang dilakukan oleh ulama' ahli fiqih yang mengerti dan sudah diakui kebaikannya yang sempurna, dan diakui oleh orang-orang yang pandai dan memiliki keutamaan dalam berpikir. Mereka itu adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Alloh;

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ

“ dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabut : 43)

dan firman Alloh;

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

“dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri  di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri) (QS. An-Nisa’ : 83)

Selain itu sebagian dari qoidah-qoidah yang telah ditetapkan dan sudah dikenal dikalangan ahli ilmu terutama dikalangan madzhab syafi'i -semoga Alloh merahmati beliau dan para pengikutnya-  adalah; "Lil Wasa'il Hukmul Maqoshid" (Semua perantara memiliki hukum sebagaimana tujuannya). Qoidah ini mencakup kelima hukum islam tergantung dari tujuannya, jadi apabila yang dituju adalah perkara yang wajib maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga wajib, apabila yang dituju adalah perkara yang sunat maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga sunat, apabila yang dituju adalah perkara yang haram maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga haram, apabila yang dituju adalah perkara yang makruh maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga makruh, dan apabila yang dituju adalah perkara yang wajib maka perantara kepada perkara tersebut hukumnya juga makruh.

Sebagian contohnya adalah kewajiban bagi khotib untuk memperderngarkan rukun khutbahnya kepada 40 jama'ah sholat jum'at, karena itu apabilahal tersebut tak bisa terlaksana kecuali dengan menggunakan pengeras suara maka penggiunaan pengeras suara tersebut hukumnya adalah wajib, sebab sesuatu yang dapat menyempurnakan perkara yang wajib juga dihukumi wajib, sedangkan apabila hal tersebut sudah bisa terlaksana dengan tanpa menggunakan pengeras suara maka penggunaan pengeras suara tersebut hukumnya sunatuntuk menambahkan faedah (pembacaan khutbah) dan kesempurnaan tujuannya (tujuan khutbah agar bisa didengar semua jama'ah yang hadir).

Begitu pula pemilik syari'at yang bijaksana menganjurkan untuk mengeraskan suara ketika adzandan mennyampaikan suaranya sampai jauh dan menganjurkan untuk menempati tempat yang tinggi seperti menara. Selain itu sianjurkan juga untuk meletakkan 2 jari telunjuk pada kedua telinga dengan tujuan agar suara yang dihasilkan bisa didengar dari jarak yang jauh. Berdasarkan itu semua maka penggunaan pengeras suara ketika adzan hukumya sunat sebab penggunaan alat tersebut dapat membantu agar suara adzan yang dikumandangkan bisa terdengar sampai jauh. 

Disini kami akan sedikit mengemukakan pernyataan para fuqoha' dari kalangan madzhab syafi'i dalam kitab-kitab matan dan syarah mereka yang menunjukkan bahwa mengeraskan suara agar bisa didengar sampai jauh itu dianjurkan dengan tujuan agar menambah penyampaian;

1. Dalam kitab Mughil Muhtaj, jilid 1, halaman 128 dijelaskan;

"Pelaksanaan adzan disunatkan untuk dilakukan oleh orang yang  suaranya paling tinggi. Hal ini didasarkan pada sabda rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan Abdullaoh bin Zaid;

أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا

"Ajarkanlah kepada Bilal karena sesungguhnya dia lebih kencang suaranya daripada kamu." (Sunan Abu Dawud, no.512, Sunan Baihaqi, no.1873. Hadits ini dishohihkan Ibnu Hibban).

Pada halaman 127 diterangkan;

"Disunatkan untuk mengerjakan adzan ditempat yang tinggi seperti menara atau diatas atap, berdasarkan hadits dalam shohih bukhori dan shohih muslim;

كَانَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنَانِ بِلَالٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai dua orang muadzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Dan tidak ada jarak antara keduanya, kecuali waktu Bilal turun (dari sini) dan Ibnu Ummi Maktum naik dari sini " (Shohih Muslim, no.1092)

2. Dalam kitab Fathul Jawad, Juz 1, halaman 104

"Dan dianjurkan untuk mengeraskan suaranya dengan sangat asalkan tidak sampai memayahkan dirinya, sebab rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untyuk mengeraskan suara. Beliau juga menjelaskan alasan (illat) dari perintah itu, yaitu bahwa manusia dan jin yang mendengar suara adzan tersebut kelak akan memberikan saksi pada hari kiamat".

3. Penjelasan dalam kitab Syarah Al-Muhadzdzab yang diberi nama "Al-Majmu'" karya Imam Nawawi rahimahullah;

"Kedua: Dsisunatkan untuk adzan ditempat yang tinggi, seperti menara atau tempat lainnya, dan hal ini sudah disepakati oleh ulama'. Ashab kita (ashab madzhab syafi'i) mendasarkan kesunatan ini pada dalil yang dikemukakan oleh mushonnif (maksudnya pengarang kitab Muhadzdzab, yaitu Imam Al-Shirozi) dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata;

كَانَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنَانِ بِلَالٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ» قَالَ: وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mempunyai dua orang mudzin, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum yang buta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Sesungguhnya Bilal itu adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan." Dan tidaklah jarak antara keduanya, kecuali waktu Bilal turun (dari sini) dan Ibnu Ummi Maktum naik dari sini".(Shohih Muslim, no.1092)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari riwayat Ibnu Umar dan Aisyah, sedangkan yang dipakai diatas adalah redaksi Imam Muslim.

Kesunatan tersebut juga didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Urwah bin Az-Zubair dari seorang wanita dari Bani Najar, ia berkata;

كَانَ بَيْتِي مِنْ أَطْوَلِ بَيْتٍ حَوْلَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ عَلَيْهِ الْفَجْرَ

"Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah-rumah yang lain di sekitar Masjid, dan Bilal mengumandangkan adzan subuh di atasnya" (Sunan Abu Dawud, no.519)

Dan kini alat pengeras suara sudah dianggap mencukupi dan tak perlu lagi naik ketempat yang tinggi seperti menara atau tempat semisalnya, hal tersebut sudah sangat jelas dan hal tersebut adalah suatu kesunatan yang tak diragukan lagi.

Kesimpulan akhir dari semua yang telah kami paparkan dalam lembaran-lembaran ini adalah bahwa penggunaan alat pengeras suara ketika adzan dan hal-hal lain yang dianjurkan untuk mengeraskan bacaan adalah merupakan perbuatan yang terpuji secara syari'at, dan inilah pendapat yang benar.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kita pada jalan yang lurus. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga beliau dan para sahabatnya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي شرع لنا الأحكام، وبيّن الحلال من الحرام. والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الأنام القائل: {مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْراً يُفَقّهْهُ في الدّين}. وعلى آله وصحبه والتابعين لهم على النهج القويم والطريق المستقيم

أما بعد: فيقول الفقير إلى عفو الله تعالى إسماعيل عثمان زين اليمني المكي الشافعي، لطف الله به: سألني بعض المحبين عن حكم مكبّرات الصوت أثناء الأذان وصلاة الجماعة والجمعة وخطبتيها وغير ذلك مما يطلب فيه الجهر وإسماع الغير، لأن بعض من يدعي العلم يرى أن ذلك لا يجوز، لأنه بدعة

فأقول وبالله التوفيق: إعلم أنه ما من موضوع كائن أو يكون إلى يوم الدين إلا وله حكم في شرعنا المبين، سواء كان نصا أو استنباطا يستنبطه الفقهاء العارفون المشهود لهم بالخيرية الكاملة، ويعرفه العلماء الأذكياء، ذوو الألباب الفاضلة الذين قال الله تعالى فيهم: وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ. وقال فيهم:  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

ثم إن من القواعد المقررة المشهورة بين أهل العلم، خصوصا في مذهب إمامنا الشافعي رحمه الله تعالى وأصحابه رضوان الله عليهم أن للوسائل حكم المقاصد. وهذه القاعدة تدخلها الأحكام الخمسة بحسب المقاصد، فمتى كان المقصد واجبا فالوسيلة إليه واجبة، ومتى كان مندوبا فالوسيلة إليه مندوبة، ومتى كان حراما فالوسيلة إليه محرمة، ومتى كان مكروها فالوسيلة إليه مكروهة، ومتى كان مباحا فالوسيلة إليه مباحة

فمن أمثلة ذلك أنه يجب على الخطيب إسماع أربعين من أهل الجمعة أركان الخطبة، فإذا لم يتأتّ ذلك إلا باستعمال المكبر كان استعماله واجبا، لأن ما ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب، وإن تأتى بدون ذلك فاستعماله حينئذٍ مندوب لمزيد الفائدة وتمام الغَرَض

وإذا كان الشارع الحكيم قد طلب في الأذان رفع الصوت وإبلاغه إلى مدى بعيد ونَدَب الوقوفَ على مكان عالٍ كالمنارة مثلا وندب وضع السبابتين في الأذنين لأنه أندى وأبعد للصوت، فيكون استعمال المكبر فيه مندوبا، لأنه مما يستعان به على إبلاغ صوت المؤذن إلى مدى بعيد
 
وقد بينت السنة النبوية الشريفة فوائد ذلك، وإن منها أنه لا يبلغ مدى صوت المؤذن شيئا، جِنًّا أو إنسا، حيوانا أو جمادا إلا شهد له يوم القيامة كما سيأتى. ومن الفوائد أيضا أن الشيطان يشرد ويهرب عند سماع الأذان فكلما كان المدى بعيدا كانت الفائدة أكثر

ولا ينبغى الإغترار بما يقوم به الآن بعض من يدعى العلم من الإنكار على بعض الأمور التي لها دَخَلٌ في أحكام الدين، ولها به إتصالٌ قويٌّ متين مدّعيا أن ذلك بدعة، لأنه ليس من فعل السلف. وهؤلاء الكثير منهم يلهجون بلفظ السلف ولا يعرفون من هم المستحقون لهذا الوصف، ويلهجون بالدليل وهم لا يعرفون كيفية الإستدلال به، ولا يحسنون الإستفادة من معناه، ولا يعلمون أن الأخذ بالدليل يحتاج إلى أهل لذلك، بحيث يعرفون الصالح للإستدلال وغير الصالح، يعرفون هل هو صحيح أو حسن، ثم يعرفون هل هو محكم أم منسوخ، ثم يعرفون عام أو خاص. وإذا كان عاما ينظرون هل له مخصص أم لا، ويعرفون هو مطلق أم مقيّد، ويعرفون هل هو مما أطبق أهل العلم على العمل بمقتضاه، وإلا فهو شاذ متروك ولو كان في أعلى درجة الصحة

وهاك نصَّ الإمام الشافعي رحمه الله تعالى، وهو من فضلاء السلف وخيارهم. قال رحمه الله تعالى: كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف، لأن تركهم للعمل به قد يكون لعذر قام لهم في الوقت، أو لما هو أفضل منه، أو لعله لم يبلغ جميعهم علمٌ به انتهى

فهكذا يكون جواب أهل العلم والإتصاف. ولا عبرة بأهل الجهل والجراءة والإعتساف وإن كثروا، فقد جاء في الأحاديث الصحيحة ـأنه في آخر الزمان يقل العلم ويكثر الجهل، وقد أصبح الكثير الآن يدعى العلم وليس له من عُدّةٍ سوى الجراءة والتمسك بالشواذ والإستدلال بما لا يعرف المقصود منه أو بالنفي للدليل ولا يدرى هذا المسكين أن عدم دليل الفعل ليس دليلا للمنع. فأمثال هؤلاء يعتبر الواحد منهم شخصيةً مؤذيةً وفتنةً تمشى على رجلين آخذٌ بالشاذّ من القول أو بالقول المهجور فَقَاهَتُهُ بالتشهّى ودعواه بلا برهان. والله المستعان

ولنذكر هنا نبذة يسيرة من كلام الفقهاء الشافعية في متونهم وشروحهم الدال على طلب زيادة مدى الصوت لزيادة الإبلاغ

ففي مغنى المحتاج الجزء الأول صفحة 128: "ويسن للأذان مؤذن حر لأنه أكمل من غيره صيِّتٌ أي عالى الصوت لقوله صلى الله عليه وسلم في خبر عبد الله بن زيد {أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ فَإِنَّهُ أَنْدَى مِنْكَ صَوْتًا} أي أبعد ولزيادة الإبلاغ" انتهى

وفي صغحة 127: "ويسن أن يؤذن على موضع عال كمنارة وسطح لخبر الصحيحين: {كَانَ لِرَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم مُؤَذّنَانِ: بِلاَلٌ وَابْنُ أُمّ مَكْتُومٍ، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَىَ هَذَا}، ولزيادة الإعلام" انتهى

وفي فتح الجواد الجزء الأول صفحة 104: "ويبالغ في الجهر مالم يُجْهِدْ نفسَهُ، لأمره صلى الله عليه وسلم برفع الصوت، وعلله بأنه لا يسمع مدى صوت المؤذن جنٌّ ولا إنسٌ إلا شهد له يوم القيامة" انتهى

وعبارة شرح المهذب المسمى بالمجموع للإمام النووي رحمه الله تعالى: "الثانية يستحب أن يؤذن على موضع عال، من منارة  أو غيرها. وهذا لا خلاف فيه، واحتج له الأصحاب بما ذكر المصنف، وبحديث ابن عمر رضي الله عنهما قال: {كَانَ لِرَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم مُؤَذّنَانِ: بِلاَلٌ وَابْنُ أُمّ مَكْتُومٍ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ، قَالَ: وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَىَ هَذَا} رواه البخاري ومسلم من رواية ابن عمر وعائشة، وهذا لفظ مسلم. وعن عروة بن الزبير عن إمرأة من بني النجار قالت: {كانَ بَيْتِيْ أَطْوَلَ بَيْتٍ حَوْلَ المَسْجِدِ، فَكَانَ بِلاَلٌ يُؤَذِّنُ عَلَيْهِ الفَجْرَ} رواه أبو داود

وقد صارت آلة مكبرات الصوت مُغْنِيَةً عن الصعود على موضع عالٍ كالمنارة وأشباهها، وذلك ظاهر بلا خفاء ومستحب بلا مراء

والحاصل من جميع ما ذكرناه ونقلناه في هذه الوريقات أن استعمال مكبّرات الصوت في الأذان وغيره مما يطلب فيه الجهر أمرٌ محمودٌ شرعًا، وهذا هو الحق والصواب

والله الهادى إلى سواء السبيل. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا. والحمد لله رب العالمين

Hukum adzan kedua pada shalat jum’at - Lembaga Fatwa Mesir



Adzan Kedua Pada Shalat Jum'at

Tanggal Jawaban : 01/11/2007
Nomor Urut : 1788

Memperhatikan permintaan fatwa No. 1760 tahun 2007, yang berisi:     Apa hukum adzan kedua ketika shalat Jum'at?

Jawaban : Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum'ah Muhammad

Allah mensyariatkan adzan sebagai sarana untuk memberitahu orang-orang tentang masuknya waktu shalat dan untuk mengingatkan mereka agar melakukannya. Adapun iqamat disyariatkan agar mereka langsung bangkit untuk melaksanakan shalat. Untuk setiap kali shalat wajib, disyariatkan satu kali adzan.

Adzan pertama kali disyariatkan pada tahun pertama hijrah. Hal itu seperti dipaparkan dalam hadits tentang mimpi Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  yang diriwayatkan oleh Tirmidzi serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.  Sejak masa Nabi saw. sampai masa Abu Bakar r.a. dan Umar radhiyallahu ‘anhu , pada setiap satu shalat wajib hanya terdapat satu adzan dan satu iqamat, begitu pula pada shalat Jum'at. Lalu pada masa Utsman radhiyallahu ‘anhu, dia menambahkan azan kedua karena adanya keperluan disebabkan jumlah masyarakat semakin banyak. Dari sini dipahami bahwa adzan adalah perkara yang disyariatkan, dan tidak ada halangan untuk menambah adzan lain jika diperlukan. Itu pulalah yang dipahami oleh Bilal radhiyallahu ‘anhu ketika dia melakukan shalat sunnah wudhu padahal hal itu tidak pernah diperintahkan dengan dalil khusus. Kisah penambahan adzan kedua oleh Utsman radhiyallahu ‘anhu tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya. Diriwayatkan oleh as-Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, "Pada masa Nabi saw., Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu, panggilan pertama (adzan) untuk shalat Jum'at dilakukan ketika khatib telah duduk di mimbar. Ketika masa Utsman radhiyallahu ‘anhu, dan masyarakat telah menjadi ramai, dia menambah panggilan ketiga (azan pertama) yang dikumandang di Zawra`." Adzan pertama dalam riwayat ini dinamakan panggilan ketiga, karena perawi menamakan iqamat dengan istilah adzan.

Apa yang dilakukan oleh Utsman bukanlah suatu perbuatan yang menyimpang, karena hal itu disetujui oleh para sahabat lainnya. Bahkan, hal itu tetap dilakukan pada masa setelahnya, yaitu sejak zaman Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sampai hari ini.

Imam Bukhari kembali meriwayatkan atsar di atas dari jalur lain. Dalam redaksi itu disebutkan, "Dari Zuhri, dia berkata;

عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ، يَقُولُ: «إِنَّ الأَذَانَ يَوْمَ الجُمُعَةِ كَانَ أَوَّلُهُ حِينَ يَجْلِسُ الإِمَامُ، يَوْمَ الجُمُعَةِ عَلَى المِنْبَرِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَلَمَّا كَانَ فِي خِلاَفَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَكَثُرُوا، أَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ الجُمُعَةِ بِالأَذَانِ الثَّالِثِ، فَأُذِّنَ بِهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ، فَثَبَتَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

"Saya mendengar as-Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu berkata, "Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar, adzan pertama untuk shalat Jum'at dilakukan ketika imam (khatib) telah duduk di atas mimbar. Ketika masa Khalifah Utsman, dan umat Islam semakin banyak, dia menambah panggilan azan ketiga yang dikumandang di Zawra`. Lalu hal itu terus dilakukan."

Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam Fathul Bârî berkata, "Secara eksplisit, ketika itu semua orang di seluruh wilayah negara Islam mengambil pendapat Utsman, karena dia adalah seorang khalifah yang ditaati." Ibnu Hajar juga mengatakan, "Segala sesuatu yang tidak ada pada zaman Rasulullah saw. adalah perbuatan bid'ah, tapi ada yang bid'ah hasanah dan ada yang tidak demikian. Dari kisah yang diriwayatkan dalam atsar di atas, nampak jelas bahwa Utsman melakukan perbuatan yang baru itu (bid'ah) guna memberitahu masyarakat tentang masuknya waktu shalat. Hal ini diqiyaskan dengan azan untuk shalat-shalat lainnya, sehingga shalat Jum'at dimasukkan ke dalamnya. Lalu dia tetap mempertahankan kekhasan shalat Jum'at itu dengan azan yang dilakukan ketika khatib telah menaiki mimbar. Dalam kasus ini terdapat penyimpulan sebuah makna dari sebuah dalil tanpa membatalkan dalil tersebut."

Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa azan kedua adalah sunah yang dilakukan oleh Utsman radhiyallahu ‘anhu dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda;

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ

"Barang siapa dari kalian yang masih hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk." (HR. Ibnu Hibban dan Hakim).

Utsman radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu dari para khalifah yang mendapat petunjuk itu (al-khulafâ` al-mahdiyyîn ar-râsyidîn). Dan dari zaman para sahabat sampai hari ini, telah tercapai ijmak amali (bersifat perbuatan) atas penerimaan azan yang kedua. Sehingga, barang siapa yang menyalahkan azan kedua itu, berarti dia telah menyalahkan ijmak dan syiar-syiar Islam yang diridhai oleh para ulama sepanjang sejarah. Orang yang menganggap azan kedua sebagai bid'ah maka dia telah menyimpang dari hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah saw. bahwa umat ini tidak akan bersepakat dalam kesesatan.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

الأذان الثاني للجمعة

تاريخ الإجابة : 01/11/2007
الرقـم المسلسل : 1788

اطلعنا على الطلب المقيد برقم 1760 لسنة 2007 م المتضمن: ما حكم الأذان الثاني يوم الجمعة؟

الـجـــواب : فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد

شرع الله الأذان لإعلام الناس بدخول وقت الصلاة، وتنبيههم للإقدام عليها، وشرعت الإقامة لاستنهاض الناس لأداء الصلاة، وشُرِعَ أذانٌ واحدٌ لكل فريضة، وكان زمن التشريع للأذان بعد الهجرة في السنة الأولى، كما ثبت في حديث رؤيا عبد الله بن زيد وعمر بن الخطاب -رضي الله عنهما-، رواه الترمذي وصححه ابن خزيمة وابن حبان، وكان لكل فريضة أذان واحد وإقامة، وكانت الجمعة كسائر الفرائض في عهد النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- وصاحبيه أبي بكر وعمر -رضي الله عنهما-، وزاد عثمان -رضي الله عنه- الأذان الثاني يوم الجمعة للحاجة إليه، وهي كثرة الناس، فعُلِمَ أن الأذان مشروع بأصله، وليس هناك مانع من زيادة أذان مشروع في وقت يحتاج الناس إليه، كما فهم بلال -رضي الله عنه- ذلك عندما صلى سنة الوضوء مع كونها لم تكن مشروعةً بخصوصها، وأورد الإمام البخاري زيادة عثمان -رضي الله عنه- للأذان الثاني، فعن السائب بن يزيد -رضي الله عنه- قال: "كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رضي الله عنهما- فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ -رضي الله عنه- وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ"، وسماه البخاري الثالث؛ لأنه يُسمِّي الإقامة أذانًا

وما فعله عثمان -رضي الله عنه- لم يشذ به عن باقي الأمة؛ فقد أقره الصحابة في عهده، وثبت الأمر على ذلك بعده في عهد علي بن أبي طالب -رضي الله عنه- إلى يومنا هذا، ولقد روى البخاري نفس الحديث برواية أخرى زاد فيها: "عن الزهري قال: سمعت السائب بن يزيد -رضي الله عنه- يقول: "إِنَّ الأَذَانَ يَوْمَ الجُمُعَةِ كَانَ أَوَّلُهُ حِينَ يَجْلِسُ الإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى المِنْبَرِ في عهد رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- وأبي بكر وعمر -رضي الله عنهما-، فلما كان في خلافة عثمان -رضي الله عنه- وكثروا أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فأذن به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك

ويقول ابن حجر العسقلاني في "فتح الباري" 2/ 394: "والذي يظهر أن الناس أخذوا بفعل عثمان في جميع البلاد إذ ذاك؛ لكونه خليفةً مطاعَ الأمر". إلى أن قال: "وكل ما لم يكن في زمنه -صلى الله عليه وآله وسلم- يسمى بدعة، لكن منها ما يكون حسنا، ومنها ما يكون بخلاف ذلك، وتبين بما مضى أن عثمان أحدثه لإعلام الناس بدخول وقت الصلاة؛ قياسًا على بقية الصلوات، فألحق الجمعة بها، وأبقى خصوصيتها بالأذان بين يدي الخطيب، وفيه استنباط معنى من الأصل لا يبطله

ومما سبق نعلم أن الأذان الثاني للجمعة سَنَّهُ سيدنا عثمان -رضي الله عنه-، وقد قال النبي -صلى الله عليه وآله وسلم-: ((مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا؛ فَعَلَيْكُمْ بسنتي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ)). رواه ابن حبان والحاكم، وعثمان -رضي الله عنه- من الخلفاء الراشدين، ولقد قام الإجماع العملي من لدن الصحابة إلى يومنا هذا على قبول الأذان الثاني، فالذي يطعن فيه وينكره فإنه يطعن في إجماعٍ وفي شعائر الإسلام التي ارتضاها العلماء عبر القرون، والذي يدعي أنه بدعة ضلالة يخالف ما تواتر عن النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- من أن الله سبحانه لا يجمع أمته على ضلالة. والله سبحانه وتعالى أعلم


Sumber : Situs Lembaga Fawa Mesir / دار الإفتاء المصرية
http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=1788