Apakah shalat ghaib bisa menggugurkan kewajiban shalat jenazah?


Soal: Assalamu alaikum, numpang tanya apakah sholat ghoib itu sudah dapat menggugurkan tuntutan kewajiban mensholati mayit,?  Mohon jawabannya, terima kasih.

(Pertanyaan dari: Bintang Timur)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.

Semua ulama’ yang memperbolehkan shalat ghaib telah bersepakat bahwa shalat ghoib bisa menggugurkan kewajiban menshalati jenazah, kecuali menurut pendapat imam ibnu Al Qathan yang menyatakan bahwa sholat ghoib boleh dikerjakan namun tidak dapat menggugurkan kewajiban menshalati jenazah.

Para ulama' yang menyatakan bahwa kewajiban sholat jenazah telah gugur apabila sholat ghoib telah dilaksanakan memberikan alasan bahwa hukum sholat jenazah adalah fardhu kifayah, sebagaimana diketahui fardhu kifayah adalah kewajiban yang bersifat kolektif dalam arti jika sudah ada yang mengerjakannya maka sudah dianggap cukup, karena itulah jika sudah ada yang melaksanakan sholat ghoib bagi jenazah telah gugur kewajiban mengerjakan sholat jenazah.

Namun ketentuan hukum bahwa sholat ghoib sudah dapat menggugurkan kewajiban sholat jenazah tersebut berlaku apabila memang telah diketahui bahwa sudah ada yang mengerjakan sholat ghoib, dan orang yang melaksanakan sholat ghoib tersebut memang tidak mampu untuk hadir dan melakukan sholat jenazah secara langsung.

Kesimpulannya, menurut pendapat yang mu'tamad (bisa dijadikan pegangan) shalat ghoib sudah dapat menggugurkan kewajiban sholat jenazah. Wallahu a’lam

(dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi:

1. Hasiyah asy-Syarwani 'ala Tuhfatul Muhtaj, juz 3 hal 150

 ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺇﻟﺦ ( ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻷﺳﻨﻰ ﻭﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﻭﻗﺪ ﺃﺟﻤﻊ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺃﺟﺎﺯ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺑﺄﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺴﻘﻂ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺣﻜﻲ  ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻣﺤﻞ ﺍﻟﺴﻘﻮﻁ ﺑﻬﺎ ﺣﻴﺚ ﻋﻠﻢ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ ﺍﻫـ . ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ( ﺃﻱ ﻇﺎﻫﺮ ﺇﻃﻼﻗﻬﻢ ) ﻗﻮﻟﻪ : ﺑﻨﺎﺀ ﺫﻟﻚ ( ﺃﻱ ﺍﻟﺴﻘﻮﻁ ﻭﻋﺪﻣﻪ ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﺦ ( ﺗﻘﺪﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻷﺳﻨﻰ ﻭﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﺍﻋﺘﻤﺎﺩﻩ ) ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ ﺇﻟﺦ ( ﺍﻟﻤﺘﺠﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮ ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﻭﻋﺪﻣﻬﺎ ﻓﺤﻴﺚ ﺷﻖ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻟﻜﺒﺮﻫﺎ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺻﺤﺖ ﻭﺣﻴﺚ ﻻ ﻭﻟﻮ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﺴﻮﺭ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﻡ ﺭ ﺍﻫـ ﺳﻢ ﻋﻠﻰ ﺣﺞ ﻭﻗﺪ ﻳﻔﻴﺪﻩ ﻗﻮﻟﻪ : ﻡ ﺭ ﻭﻟﻮ ﺗﻌﺬﺭ ﺇﻟﺦ ﻭﻣﻨﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺴﺘﻔﺎﺩ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻤﺮﻳﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﻌﺬﺭ ﺑﺎﻟﻤﺮﺽ ﻉ ﺵ . ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻋﺬﺭ ﺇﻟﺦ ( ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻠﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﻋﺒﺎﺭﺗﻬﻤﺎ ﻭﻟﻮ ﺗﻌﺬﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ ﺑﺤﺒﺲ ﺃﻭ ﻣﺮﺽ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺪ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﻛﻤﺎ ﺑﺤﺜﻪ ﺍﻷﺫﺭﻋﻲ ﻭﺟﺰﻡ ﺑﻪ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﺒﻮﺱ ﺍﻫـ ﺯﺍﺩ ﺍﻷﻭﻝ : ﻷﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻋﻠﻠﻮﺍ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﺑﺘﻴﺴﺮ ﺍﻟﺬﻫﺎﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫﺍ ﻗﺘﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺑﺒﻠﺪ ﻭﺃﺧﻔﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻓﺘﺄﻣﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﻟﺦ ﻫﻞ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻓﻲ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺃﻱ ﻓﺘﺼﺢ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﺍﻟﻤﻌﺬﻭﺭ ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻭﺍﻷﻗﺮﺏ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻟﻜﻦ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺩﻓﻦ ﺑﻼ ﺻﻼﺓ ﺃﻥ ﺗﺠﺰﺉ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻄﻌﺎ ﻭﺇﻥ ﻗﻠﻨﺎ ﻻ ﺗﺼﺢ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﺤﺒﻮﺱ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ ﻟﻮﺿﻮﺡ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﻌﺪﻡ ﺍﻟﺼﺤﺔ ﻳﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻄﻴﻞ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺑﺼﺮﻱ

2. Al-Fatwa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, juz 2 hal.4 Cet. Dar al-Fikr

ﻓﻲ ﻓﺮﻭﻉ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺟﺎﺋﺰﺓ ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻧﺘﻜﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻫﺬﺍ ﻟﻔﻈﻪ ﻭﻫﻮ ﻛﺎﻟﺼﺮﻳﺢ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻠﺪﻩ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻟﻜﻦ ﺗﻌﻘﺒﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﻟﻚ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺨﺎﻃﺐ ﺑﻔﺮﻭﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻣﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺴﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺑﺬﻟﻚ ﺍ ﻫـ . ﻭﺟﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﺭﻛﺸﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺍﻷﻗﺮﺏ ﺳﻘﻮﻁ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻨﻬﻢ ﺃﻱ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻠﺪﻩ ﻟﺤﺼﻮﻝ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺍ ﻫـ . ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺟﺮﻯ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺯﻛﺮﻳﺎ ﺳﻘﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻬﺪﻩ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺍﻷﻭﺟﻪ ﺣﻤﻞ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻫﻞ ﻣﻮﺿﻌﻪ ﺑﺼﻼﺓ ﺍﻟﻐﻴﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻤﻮﺍ ﺳﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻨﻬﻢ ﻷﻥ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﺑﻌﺾ ﺳﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺎﻗﻴﻦ ﺍ ﻫـ ﻭﺑﺬﻟﻚ ﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﺳﻘﻮﻁ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺑﺼﻼﺓ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺳﻮﺍﺀ ﺃﻛﺎﻥ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻟﻜﻦ ﺇﺛﻤﻬﻢ ﺑﺘﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺻﻠﻰ ﻋﻨﻪ ﻻ ﻣﺴﻘﻂ ﻟﻪ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻷﻥ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻳﺘﻮﺟﻪ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺃﻭﻻ ﻓﺈﺫﺍ ﺗﺒﺎﻃﺌﻮﺍ ﻋﻨﻪ ﺃﺛﻤﻮﺍ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺘﺒﺎﻃﺆ ﻭﺇﻥ ﻗﺎﻡ ﺑﺎﻟﻔﺮﺽ ﻏﻴﺮﻫﻢ

Hukum menunaikan umrah bagi orang yang belum menunaikan haji


Soal: Assalamu'alaikum sebaiknya umroh dulu apa haji dulu, sehubungan haji nunggu antri lama sementara umruh ga lama antrinya. nuhun.

(Pertanyaan dari: Neng Ajah)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh

Bagi orang yang baru bisa menunaikan umroh dan belum bisa menunaikan haji sebaiknya menununaikan umroh, sebab  semua ulama’ sepakat bahwa menunaikan umroh sebelum menunaikan ibadah haji hukumnya boleh dan sah, baik orang tersebut menunaikan haji pada tahun yang sama atau pada tahun-tahun berikutnya, sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dan Imam Ibnu Abdil Barr.

Diperbolehkannya menunaikan umroh sebelum haji berdasarkan beberapa hadits shahih, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar;

اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan 'umrah sebelum haji". (Shahih Bukhari, no.1651)

Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Mochammad Andre Agustianto, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi:

1. Al Majmu' Syarh al Muhadzdzab, juz 7 hal. 170

أجمع العلماء على جواز العمرة قبل الحج سواء حج في سنته أم لا وكذا الحج قبل العمرة واحتجوا له بحديث ابن عمر (أن النبي صلى الله عليه وسلم اعتمر قبل أن يحج) رواه البخاري وبالأحاديث الصحيحة المشهورة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم اعتمر ثلاث عمر

2. Syarah Az-Zarqoni 'ala al-Muwatha’, juz 2 hal. 352-353

مالك عن عبد الرحمن بن حرملة الأسلمي ) المدني الصدوق ( أن رجلا سأل سعيد بن المسيب فقال أعتمر ) بتقدير همزة الاستفهام ( قبل أن أحج فقال سعيد نعم قد اعتمر رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل أن يحج ) ثلاث عمر. قال ابن عبد البر يتصل هذا الحديث من وجوه صحاح وهو أمر مجمع عليه لا خلاف بين العلماء في جواز العمرة قبل الحج لمن شاء

Ketika Adzan berkumandang, Apakah Dilanjutkan Mengajar Atau Menjawab Adzan?


Soal: Assalamualaikum, saya menjumpai dua model pak kiyai;

1. Saat ta'lim (mengajar) dikala adzan berkumandang maka berhenti sejenak untuk menjawab adzan

2. Ta'lim tetap lanjut kala adzan berkumandang dengan alasan kalau litta'lim tidak apa-apa

Yang saya tanyakan adakah keterangan dalam kitab-kitab salaf untuk nomer 2 Sekalian alasan yang nomer 1 juga boleh ustad. Terimakasih.

(Pertanyaan dari : Pencari Tahu)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh,

Ketika terdengar suara adzan dikumandangkan saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, sebaiknya proses belajar mengajar berhenti sejenak guna menjawab adzan, sebab menjawab adzan hukumnya sunah bagi orang yang mendengarkan adzan berkumandang untuk menjawab adzan tersebut, baik bagi orang yang sedang dalam keadaan berwudhu atau tidak, kecuali bagi orang yang sedang melakukan hubungan intim dan sedang qodhil hajat (buang air besar/kecil).

Sedangkan menanggapi sebagian orang yang tetap melanjutkan mengajar saat terdengar suara adzan dikumandangkan, berikut ini kami kutipkan penjelasan Imam sya’roni dalam kitab al-Uhud al-Muhammadiyyah, beliau berkata;

"Kita telah terikat perjanjian umum dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menjawab orang yang sedang adzan sebagaimana telah dijelaskan dalan As-Sunnah, dan untuk tidak membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya atau membicarakan hal lain, untuk menunjukkan sikap sopan santun kita pada Nabi Muhammad yang telah menetapkan syari'at.

Sebab segala sesuatu itu ada waktunya; menjawab adzan ada waktunya, untuk ilmu ada waktunya, tasbih ada waktunya, membaca al-qur'an juga ada waktunya sendiri. Sebagaimana pada waktu membaca fatihah kita tidak boleh menggantinya dengan istighfar, tempatnya rukuk dan sujud tidak boleh ditempati membaca, begitu juga tempatnya tasyahud tidak boleh ditempati untuk hal lain, dan begitu seterusnya. Pahamilah hal ini!

Perjanjian ini (kesunahan menjawab adzan) telah banyak ditinggalkan oleh para penuntut ilmu agama, apalagi selain mereka!, mereka tidak lagi mau menjawab adzan, bahkan terkadang meninggalkan sholat jama'ah sampai sholat jama'ah selesai dikerjakan. Sedangkan mereka sedang asyik muthola'ah (mempelajari) ilmu nahwu, ushul atau fiqih, dan mereka berkata: "Ilmu lebih dikedepankan daripada hal lain secara mutlak", ucapan itu tentu saja tidak benar, sebab terdapat perincian dalam masalah tersebut, karena tak semua ilmu lebih dikedepankan daripada sholat jama'ah, sebagaimana telah diketahui oleh orang yang pernah "mencium bau" tingkatan-tingkatan perintah-perintah syari'at.

Karena itulah, tuanku, Syaikh Ali Al-Khowwash rahimahullah keika mendengar adzan berkumandang berkata: "Hayya 'alas sholah" (Mari mengerjakan sholat), badan beliau gemetar dan hampir meleleh karena merasakan haibatullah (kewibawaan), beliau menjawab adzan dengan hudhur dan khusyu' yang sempurna, semoga Allah meridhoi beliau. Ketahuilah hal itu, semoga Allah memberikanmu petunjuk."

Dari kutipan penjelasan Imam Sya'roni diatas kiranya kita telah dapat mengambil kesimpulan bahwasanya melanjutkan mengajar saat mendengar adzan berrkumandang dengan alasan bahwa tidak menjawab adzan karena sedang mengajar itu tidak dibenarkan, karena ilmu tak selalu lebih didahulukan dari ibadah-ibadah lainnya, dan lagi semua amal kebaikan itu ada waktunya sendiri-sendiri. Wallahu a'lam. 

(Dijawab oleh: Ulinuha Asnawi , Kudung Khantil Harsandi Muhammad,Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi:

1. Nihayatuz Zain, juz 1 hal 97

و) سنّ (لسامعهما) أَي الْمُؤَذّن والمقيم (أَن يَقُول وَلَو غير متوضىء) أَو جنبا أَو حَائِضًا أَو نفسَاء خلافًا للسبكي حَيْثُ قَالَ يسن للمحدث لَا للْجنب وَالْحَائِض وَخِلَافًا لِابْنِهِ وَهُوَ التَّاج السُّبْكِيّ حَيْثُ قَالَ تجيب الْحَائِض لطول أمدها بِخِلَاف الْجنب (مثل قَوْلهمَا) والمجامع وقاضي الْحَاجة يجيبان بعد فرَاغ شغلهما كغيرهما مَا لم يطلّ الْفَصْل عرفا وَإِلَّا لم تسْتَحب لَهما الْإِجَابَة

2. I'anatut Tholibin, juz 1 hal.279

(( فائدة )) ﻗﺎﻝ اﻟﻘﻄﺐ اﻟﺸﻌﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻌﻬﻮﺩ اﻟﻤﺤﻤﺪﻳﺔ: ﺃﺧﺬ ﻋﻠﻴﻨﺎ اﻟﻌﻬﺪ اﻟﻌﺎﻡ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺃﻥ ﻧﺠﻴﺐ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﺑﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻓﻲ اﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻻ ﻧﺘﻼﻫﻰ ﻋﻨﻪ ﻗﻂ ﺑﻜﻼﻡ ﻟﻐﻮ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺩﺑﺎ ﻣﻊ اﻟﺸﺎﺭﻉ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -. ﻓﺈﻥ ﻟﻜﻞ ﺳﻨﺔ ﻭﻗﺘﺎ ﻳﺨﺼﻬﺎ، ﻓﻺﺟﺎﺑﺔ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﻭﻗﺖ، ﻭﻟﻠﻌﻠﻢ ﻭﻗﺖ، ﻭﻟﻠﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﻗﺖ، ﻭﻟﺘﻼﻭﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻗﺖ. ﻛﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻟﻠﻌﺒﺪ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻣﻮﺿﻊ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ اﺳﺘﻐﻔﺎﺭا، ﻭﻻ ﻣﻮﺿﻊ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭاﻟﺴﺠﻮﺩ ﻗﺮاءﺓ، ﻭﻻ ﻣﻮﺿﻊ اﻟﺘﺸﻬﺪ ﻏﻴﺮﻩ. ﻭﻫﻜﺬا ﻓﺎﻓﻬﻢ. ﻭﻫﺬا اﻟﻌﻬﺪ ﻳﺒﺨﻞ ﺑﻪ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻃﻠﺒﺔ اﻟﻌﻠﻢ ﻓﻀﻼ ﻋﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ، ﻓﻴﺘﺮﻛﻮﻥ ﺇﺟﺎﺑﺔ اﻟﻤﺆﺫﻥ، ﺑﻞ ﺭﺑﻤﺎ ﺗﺮﻛﻮا ﺻﻼﺓ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺣﺘﻰ ﻳﺨﺮﺝ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻫﻢ ﻳﻄﺎﻟﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﻋﻠﻢ ﻧﺤﻮ ﺃﻭ ﺃﺻﻮﻝ ﺃﻭ ﻓﻘﻪ، ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻘﺪﻡ ﻣﻄﻠﻘﺎ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﺈﻥ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺗﻔﺼﻴﻞ، ﻓﻤﺎ ﻛﻞ ﻋﻠﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻘﺪﻣﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﻮﻗﺖ ﻋﻠﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻋﻨﺪ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺷﻢ ﺭاﺋﺤﺔ ﻣﺮاﺗﺐ اﻷﻭاﻣﺮ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ. ﻭﻛﺎﻥ ﺳﻴﺪﻱ ﻋﻠﻲ اﻟﺨﻮاﺹ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﺫا ﺳﻤﻊ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﻳﻘﻮﻝ: ﺣﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﻼﺓ. ﻳﺮﺗﻌﺪ ﻭﻳﻜﺎﺩ ﻳﺬﻭﺏ ﻣﻦ ﻫﻴﺒﺔ اﻟﻠﻪ ﻋﺰﻭﺟﻞ، ﻭﻳﺠﻴﺐ اﻟﻤﺆﺫﻥ ﺑﺤﻀﻮﺭ ﻗﻠﺐ ﻭﺧﺸﻮﻉ ﺗﺎﻡ، ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ. ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﻭاﻟﻠﻪ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻫﺪاﻙ. اﻩ.

Hukum Mengunyahkan Makanan Untuk Anak Ketika Puasa


Soal: Assalamu'alaikum, para sahabat Fiqih Kontemporer, anggota baru izin bertanya, Apa boleh seorang ibu Mengunyah Makanan untuk Anak nya padahal ibu tersebut sedang Berpuasa?

(Pertanyaan dari: Mbah Pakoh)

Jawab: Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh..
Pada dasarnya orang yang sedang berpuasa dimakruhkan mencicipi makanan, karena dikhawatirkan makanan tersebut akan terrtelan sehingga puasanya menjadi batal. Hanya saja para ulama' mengecualikan keadaan apabila hal tersebut dilakukan karena hajat, seperti mengunyahkan makanan atau merasakan rasa makanan untuk anaknya. Keadaan tersebut dianggap sebagai hajat yang memperbolehkan orang yang sedang puasa untuk mengunyah makanan, meskipun rasa dan aroma makanan masih terasa dilidah. Kebolehan terswebut selama makanannya tidak tertelan, jika sampai tertelan maka puasanya batal.

Jadi kesimpulannya seorang ibu diperbolehkan mengunyahkan makanan untuk anakanya dan puasanya tetap sah selama makanan tersebut tidak tertelan. Wallahu a’lam

(Dijawab oleh: Mazz Rofii ,Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Ubaid Bin Aziz Hasanan ,IdAd UQi )

Referensi :
1. Hasiyah Al-Jamal Ala Syarh Al-Manhaj, juz 2 hal 329

ﻭَ ﺗَﺮْﻙُ ﺫَﻭْﻕٍ ﻟِﻄَﻌَﺎﻡٍ ﺃَﻭْ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺧَﻮْﻑَ ﻭُﺻُﻮﻟِﻪِ ﺣَﻠْﻘَﻪُ ﻭَﺗَﻘْﻴِﻴﺪُ ﺍْﻷَﺻْﻞِ ﺑِﺬَﻭْﻕِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﺟَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻐَﺎﻟِﺐِ ﻭَ ﺗَﺮْﻙُ ﻋَﻠْﻚٍ ﺑِﻔَﺘْﺢِ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦِ ِﻷَﻧَّﻪُ ﻳَﺠْﻤَﻊُ ﺍﻟﺮِّﻳﻖَ ﻓَﺈِﻥْ ﺑَﻠَﻌَﻪُ ﺃَﻓْﻄَﺮَ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻪٍ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺑْﻘَﺎﻩُ ﻋَﻄَّﺸَﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻜْﺮُﻭﻩٌ ﻛَﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉِ ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺧَﻮْﻑَ ﻭُﺻُﻮﻟِﻪِ ﺣَﻠْﻘَﻪُ ( ﻧَﻌَﻢْ ﺇﻥِ ﺍﺣْﺘَﺎﺝَ ﺇﻟَﻰ ﻣَﻀْﻎِ ﻧَﺤْﻮِ ﺧُﺒْﺰٍ ﻟِﻄِﻔْﻞٍ ﻟَﻢْ ﻳُﻜْﺮَﻩْ ﺍﻫـ ﺷَﺮْﺡُ ﻡ ﺭ ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻭَﺗَﺮْﻙُ ﻋَﻠْﻚٍ ( ﺃَﻱْ ﻻَ ﻳَﺘَﺤَﻠَّﻞُ ﻣِﻨْﻪُ ﺟِﺮْﻡٌ ﻭَﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﻠِّﺒَﺎﻥُ ) ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺑِﻔَﺘْﺢِ ﺍﻟْﻌَﻴْﻦِ ( ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞُ ﺃَﻱْ ﺍﻟْﻤَﻀْﻎُ ) ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻓِﻲ ﻭَﺟْﻪٍ ( ﺃَﻱْ ﺿَﻌِﻴﻒٍ ﻭَﺍﻟﺼَّﺤِﻴﺢُ ﺧِﻼَﻓُﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﺮَﻭَّﺡَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺮِّﻳﻖَ ﺑِﺮِﻳﺤِﻪِ ﺃَﻭْ ﻭَﺟَﺪَ ﻓِﻴﻪِ ﻃَﻌْﻤَﻪُ ﺍﻫـ

2. Tuhfatul muhtaj, juz 3 hal 425

ﻭَ ﻋَﻦْ ﺫَﻭْﻕِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻭَﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺑَﻞْ ﻳُﻜْﺮَﻩُ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻣِﻦْ ﻭُﺻُﻮﻟِﻪِ ﺇﻟَﻰ ﺣَﻠْﻘِﻪِ ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺇﻟَﻰ ﺣَﻠْﻘِﻪِ ( ﻗَﻀِﻴَّﺘُﻪُ ﺃَﻥَّ ﻭُﺻُﻮﻟَﻪُ ﻗَﻬْﺮًﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣُﻔْﻄِﺮٌ ﻭَﻻَ ﻳَﺒْﻌُﺪُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺇﺫَﺍ ﺍﺣْﺘِﻴﺞَ ﻟِﻠﺬَّﻭْﻕِ ﺃَﻥْ ﻻَ ﻳَﻀُﺮَّ ﺳَﺒْﻘُﻪُ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﻮْﻑِ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺆْﺧَﺬُ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻘَﺪَّﻡَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤَﺎﺷِﻴَﺔِ ﻋَﻦِ ﺍْﻷَﻧْﻮَﺍﺭِ ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺑَﻞْ ﻳُﻜْﺮَﻩُ ﺇﻟَﺦْ ( ﻧَﻌَﻢْ ﺇﻥِ ﺍﺣْﺘَﺎﺝَ ﺇﻟَﻰ ﻣَﻀْﻎِ ﻧَﺤْﻮِ ﺧُﺒْﺰٍ ﻟِﻄِﻔْﻞٍ ﻟَﻢْ ﻳُﻜْﺮَﻩْ ﻧِﻬَﺎﻳَﺔٌ ﻭَﺇِﻳﻌَﺎﺏٌ ﻗَﺎﻝَ ﻉ ﺵ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻧَﻌَﻢْ ﺇﻥِ ﺍﺣْﺘَﺎﺝَ ﺇﻟَﺦْ ﻗَﻀِﻴَّﺔُ ﺍﻗْﺘِﺼَﺎﺭِﻩِ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻟِﻚَ ﻛَﺮَﺍﻫَﺔُ ﺫَﻭْﻕِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻟِﻐَﺮَﺽِ ﺇِﺻْﻼَﺣِﻪِ ﻟِﻤُﺘَﻌَﺎﻃِﻴﻪِ ﻭَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻋَﺪَﻡُ ﻛَﺮَﺍﻫَﺘِﻪِ ﻟِﻠْﺤَﺎﺟَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻣُﻔْﻄِﺮٌ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ِﻷَﻧَّﻪُ ﻗَﺪْ ﻻَ ﻳُﻌْﺮَﻑُ ﺇﺻْﻼَﺣُﻪُ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢِ ﺍﻫـ ) ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺘْﻦِ ﻭَﺫَﻭْﻕِ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻭَﺍﻟْﻌِﻠْﻚِ ( ﻭَﻣَﺤَﻠُّﻪُ ﻓِﻲ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﻳَﺘَﻔَﺘَّﺖُ ﺃَﻣَّﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻴَﻘَّﻦَ ﻭُﺻُﻮﻝَ ﺑَﻌْﺾِ ﺟِﺮْﻣِﻪِ ﻋَﻤْﺪًﺍ ﺇﻟَﻰ ﺟَﻮْﻓِﻪِ ﺃَﻓْﻄَﺮَ ﻭَﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﻳَﺤْﺮُﻡُ ﻣَﻀْﻐُﻪُ ﺑِﺨِﻼَﻑِ ﻣَﺎ ﺇﺫَﺍ ﺷَﻚَّ ﺃَﻭْ ﻭَﺻَﻞَ ﻃَﻌْﻤُﻪُ ﺃَﻭْ ﺭِﻳﺤُﻪُ ِﻷَﻧَّﻪُ ﻣُﺠَﺎﻭِﺭٌ ﺍﻫـ