Apakah shalat ghaib bisa menggugurkan kewajiban shalat jenazah?


Soal: Assalamu alaikum, numpang tanya apakah sholat ghoib itu sudah dapat menggugurkan tuntutan kewajiban mensholati mayit,?  Mohon jawabannya, terima kasih.

(Pertanyaan dari: Bintang Timur)

Jawab: Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.

Semua ulama’ yang memperbolehkan shalat ghaib telah bersepakat bahwa shalat ghoib bisa menggugurkan kewajiban menshalati jenazah, kecuali menurut pendapat imam ibnu Al Qathan yang menyatakan bahwa sholat ghoib boleh dikerjakan namun tidak dapat menggugurkan kewajiban menshalati jenazah.

Para ulama' yang menyatakan bahwa kewajiban sholat jenazah telah gugur apabila sholat ghoib telah dilaksanakan memberikan alasan bahwa hukum sholat jenazah adalah fardhu kifayah, sebagaimana diketahui fardhu kifayah adalah kewajiban yang bersifat kolektif dalam arti jika sudah ada yang mengerjakannya maka sudah dianggap cukup, karena itulah jika sudah ada yang melaksanakan sholat ghoib bagi jenazah telah gugur kewajiban mengerjakan sholat jenazah.

Namun ketentuan hukum bahwa sholat ghoib sudah dapat menggugurkan kewajiban sholat jenazah tersebut berlaku apabila memang telah diketahui bahwa sudah ada yang mengerjakan sholat ghoib, dan orang yang melaksanakan sholat ghoib tersebut memang tidak mampu untuk hadir dan melakukan sholat jenazah secara langsung.

Kesimpulannya, menurut pendapat yang mu'tamad (bisa dijadikan pegangan) shalat ghoib sudah dapat menggugurkan kewajiban sholat jenazah. Wallahu a’lam

(dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi:

1. Hasiyah asy-Syarwani 'ala Tuhfatul Muhtaj, juz 3 hal 150

 ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺇﻟﺦ ( ﻋﺒﺎﺭﺓ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻷﺳﻨﻰ ﻭﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﻭﻗﺪ ﺃﺟﻤﻊ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺃﺟﺎﺯ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺑﺄﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺴﻘﻂ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺣﻜﻲ  ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﻭﻇﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻣﺤﻞ ﺍﻟﺴﻘﻮﻁ ﺑﻬﺎ ﺣﻴﺚ ﻋﻠﻢ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ ﺍﻫـ . ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ( ﺃﻱ ﻇﺎﻫﺮ ﺇﻃﻼﻗﻬﻢ ) ﻗﻮﻟﻪ : ﺑﻨﺎﺀ ﺫﻟﻚ ( ﺃﻱ ﺍﻟﺴﻘﻮﻁ ﻭﻋﺪﻣﻪ ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﺦ ( ﺗﻘﺪﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻷﺳﻨﻰ ﻭﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﺍﻋﺘﻤﺎﺩﻩ ) ﻗﻮﻟﻪ : ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ ﺇﻟﺦ ( ﺍﻟﻤﺘﺠﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮ ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﻭﻋﺪﻣﻬﺎ ﻓﺤﻴﺚ ﺷﻖ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻟﻜﺒﺮﻫﺎ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﺻﺤﺖ ﻭﺣﻴﺚ ﻻ ﻭﻟﻮ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﺴﻮﺭ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﻡ ﺭ ﺍﻫـ ﺳﻢ ﻋﻠﻰ ﺣﺞ ﻭﻗﺪ ﻳﻔﻴﺪﻩ ﻗﻮﻟﻪ : ﻡ ﺭ ﻭﻟﻮ ﺗﻌﺬﺭ ﺇﻟﺦ ﻭﻣﻨﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻳﺴﺘﻔﺎﺩ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺒﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺸﻘﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻤﺮﻳﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﻌﺬﺭ ﺑﺎﻟﻤﺮﺽ ﻉ ﺵ . ) ﻗﻮﻟﻪ : ﻭﻋﺬﺭ ﺇﻟﺦ ( ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻠﻨﻬﺎﻳﺔ ﻭﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ﻋﺒﺎﺭﺗﻬﻤﺎ ﻭﻟﻮ ﺗﻌﺬﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ ﺑﺤﺒﺲ ﺃﻭ ﻣﺮﺽ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺪ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﻛﻤﺎ ﺑﺤﺜﻪ ﺍﻷﺫﺭﻋﻲ ﻭﺟﺰﻡ ﺑﻪ ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﺒﻮﺱ ﺍﻫـ ﺯﺍﺩ ﺍﻷﻭﻝ : ﻷﻧﻬﻢ ﻗﺪ ﻋﻠﻠﻮﺍ ﺍﻟﻤﻨﻊ ﺑﺘﻴﺴﺮ ﺍﻟﺬﻫﺎﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﺫﺍ ﻗﺘﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺑﺒﻠﺪ ﻭﺃﺧﻔﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﻓﺘﺄﻣﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺇﻟﺦ ﻫﻞ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻓﻲ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺃﻱ ﻓﺘﺼﺢ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮ ﺍﻟﻤﻌﺬﻭﺭ ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻼﻑ ﻭﺍﻷﻗﺮﺏ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻟﻜﻦ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺩﻓﻦ ﺑﻼ ﺻﻼﺓ ﺃﻥ ﺗﺠﺰﺉ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻄﻌﺎ ﻭﺇﻥ ﻗﻠﻨﺎ ﻻ ﺗﺼﺢ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﺤﺒﻮﺱ ﺑﺎﻟﺒﻠﺪ ﻟﻮﺿﻮﺡ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺑﻌﺪﻡ ﺍﻟﺼﺤﺔ ﻳﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ ﺗﻌﻄﻴﻞ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺑﺼﺮﻱ

2. Al-Fatwa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, juz 2 hal.4 Cet. Dar al-Fikr

ﻓﻲ ﻓﺮﻭﻉ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺟﺎﺋﺰﺓ ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻧﺘﻜﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻫﺬﺍ ﻟﻔﻈﻪ ﻭﻫﻮ ﻛﺎﻟﺼﺮﻳﺢ ﻓﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻠﺪﻩ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻟﻜﻦ ﺗﻌﻘﺒﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﻟﻚ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺨﺎﻃﺐ ﺑﻔﺮﻭﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﻣﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺴﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺑﺬﻟﻚ ﺍ ﻫـ . ﻭﺟﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﺭﻛﺸﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺍﻷﻗﺮﺏ ﺳﻘﻮﻁ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻨﻬﻢ ﺃﻱ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺑﻠﺪﻩ ﻟﺤﺼﻮﻝ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﺍ ﻫـ . ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺟﺮﻯ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺯﻛﺮﻳﺎ ﺳﻘﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻬﺪﻩ ﻓﻘﺎﻝ ﻭﺍﻷﻭﺟﻪ ﺣﻤﻞ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻄﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻫﻞ ﻣﻮﺿﻌﻪ ﺑﺼﻼﺓ ﺍﻟﻐﻴﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻤﻮﺍ ﺳﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻨﻬﻢ ﻷﻥ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﺑﻪ ﺑﻌﺾ ﺳﻘﻂ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﺎﻗﻴﻦ ﺍ ﻫـ ﻭﺑﺬﻟﻚ ﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﺳﻘﻮﻁ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺑﺼﻼﺓ ﺍﻟﻐﺎﺋﺐ ﺳﻮﺍﺀ ﺃﻛﺎﻥ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻟﻜﻦ ﺇﺛﻤﻬﻢ ﺑﺘﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺻﻠﻰ ﻋﻨﻪ ﻻ ﻣﺴﻘﻂ ﻟﻪ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻷﻥ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻳﺘﻮﺟﻪ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺃﻭﻻ ﻓﺈﺫﺍ ﺗﺒﺎﻃﺌﻮﺍ ﻋﻨﻪ ﺃﺛﻤﻮﺍ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺘﺒﺎﻃﺆ ﻭﺇﻥ ﻗﺎﻡ ﺑﺎﻟﻔﺮﺽ ﻏﻴﺮﻫﻢ

Hukum Sholat Jenazah Dengan Hanya Satu Kali Salam



Pertanyaan:
Assalamu alaikum, sholat jenazah di masjis nabawi menggunakan satu kali salam. Pertanyaanya shalat jenazah dengan cara seperti itu mengikuti madzhab syafii atau hanbali?

(Dari: Ali Mustofa)


Jawaban:
Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Menurut madzhab hanbali hukum salam kedua dalam sholat jenazah juga sunat. Syaikh Mansur bin Yusuf Al-Bahuti, seorang ulama' madzhab hanbali dalam kitab beliau Kasysyaf al-Qona' 'An Matn al-Iqna' menjelaskan, mengerjakan 2 salam ketika sholat hukumnya wajib kecuali dalam sholat jenazah, karena dalam sholat jenazah cukup melakukan salam satu kali (salam kedua tidak wajib), hanya saja salam yang kedua sunat untuk dikerjakan.

Sedangkan menurut madzhab syafi'i, salam kedua pada sholat jenazah hukumnya juga sunat. Syaikh Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyah 'Ala Syarh Ibnu Qosim menjelaskan bahwa salam yang dikerjakan dalam sholat jenazah hukumnya sama dengan salam yang dikerjakan pada sholat-sholat lainnya, baik dalam hal tata cara dan bilangannya, maksudnya salam yang pertama hukumnya wajib sedangkan salam yang kedua hukumnya sunat.

Syaikh al-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa ketentuan hukum ini didasarkan pada satu riwayat;

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: " ثَلَاثُ خِلَالٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُنَّ، تَرَكَهُنَّ النَّاسُ , إِحْدَاهُنَّ: التَّسْلِيمُ عَلَى الْجِنَازَةِ مِثْلُ التَّسْلِيمِ فِي الصَّلَاةِ

"Dari Abdullah, beliau berkata: "Ada tiga perkara yang dikerjakan oleh Nabi namun ditinggalkan oleh banyak orang, salah satunya adalah salam pada sholat jenazah yang dikerjakan sebagaimana salam pada sholat (lainnya)". (Sunan Baihaqi, no.6989)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sholat jenazah yang dikerjakan dengan satu salam itu bisa saja dilakukan oleh orang yang bermadzhab syafi'i maupun hanbali, sebab sholat jenazah yang dikerjakan dengan satu salam hukumnya sah baik menurut madzhab syafi'i maupun hanbali, karena salam yang kedua hukumnya sunat. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Imam Al-Bukhori dan Izal Ya Fahri)

Referensi:
1. Hasyiyah Al-Bajuri Ala Syarah Ibnu Qosim, jilid 1 hal. 485

قوله: (والسلام هنا) أي في صلاة الجنازة. وقوله: (في كيفيته) أي كالتفاته في التسليمة الأولى على يمينه وفي الثانية على يساره. وقوله: (وعدده) أي كونه تسليمتين لكن الأولى واجبة والثانية مندوبة كما في صلاة غير الجنازة

2. Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 248

فصل: قال في الأم: يكبر في الرابعة ويسلم وقال في البويطي يقول: اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده والتسليم كالتسليم في سائر الصلوات لما روي عن عبد الله أنه قال: ثلاث خلال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفعلهن وتركهن الناس: إحداهن التسليم على الجنازة مثل التسليم في الصلاة

3. Kasysyaf al-Qona', jilid 1 hal. 388-389

و) الثالث عشر (التسليمتان) لقوله - صلى الله عليه وسلم - «وتحليلها التسليم» وقالت عائشة «كان النبي - صلى الله عليه وسلم - يختم صلاته بالتسليم» وثبت ذلك من غير وجه ولأنهما نطق مشروع في أحد طرفيها فكان ركنا كالطرف الآخر (إلا في صلاة جنازة وسجود تلاوة وشكر) فيخرج منها بتسليمة واحدة، ويأتي في محله. (و) إلا في (نافلة فتجزي) تسليمة (واحدة على ما اختاره جمع منهم المجد) عبد السلام بن تيمية قال (في المغني والشرح: لا خلاف أنه يخرج من النفل بتسليمة واحدة قال القاضي الثانية سنة في الجنازة والنافلة رواية واحدة انتهى

Hukum sholat jenazah untuk jenazah yang belum ditemukan



Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya solat jenazah tapi mayitnya belum diketemukan karena kecelakaan kapal?

( Dari : Daun Khinanti )


Jawaban :
Sholat jenazah yang diperuntukkan bagi jenazah yang belum diketemukan hukumnya tidak sah, sebab salah syarat diperbolehkannya melakukan sholat jenazah adalah orang tersebut sudah benar-benar meninggal dunia, sedangkan orang yang mengalami kecelakaan itu belum jelas apakah ia sudah meninggal atau belum.

Imam Nawawi dalam kitab “Roudlotut Tholibin” menjelaskan; “Disunatkan untuk menyegerakan pemandian dan pengurusan jenazah jika sudah nyata-byata meninggal dunia, semisal orang tersebut mati karena suatu penyakit, atau nampak tanda-tanda kematiannya semisal kedua telapak kakinya menjadi lunak dan tidak bisa ditegakkan, hidungnya miring, cekung kedua pelipisnya, menjadi panjang kulit wajahnya, kedua telapak tangannya terlepas dari pergelangannya, menyust 2 buah pelirnya keatas bersama kulit. Jadi jika masih diragukan mengenai kematiannya, karena orang tersebut tidak memiliki penyakit dan mungkin saja hanya diam sejenak, atau nampak tanda-tanda terkejut atau yang lainnya, maka pengurusannya harus diakhirkan sampai benar-benardiyakini kematiannya, baik diketahui dengan perubahan baunya atau tanda yang lain”.

Selain itu sholat jenazah harus dilakukan setelah jenazah dimandikan, jika jenazah tersebut belum dimandikan maka tidak boleh disholatkan. Sayyid Abdurrohman Al-Masyhur dalam kitab beliau; “Bughyatul Mustarsyidin” menjelaskan : “Tidak sah sholat untuk orang yang yang sedang ditawan atau hilang atau perahunya tenggelam, meskipun hakim sudah menyatakan bahwa orang tersebut telah meninggal dunia, kecuali jika sudah diyakini bahwa mayit tersebut telah dimandikan”.

Kesimpulannya sholat jenazah yang diperuntukkan bagi orang yang mengalami kecelakaan dan tidak diketahui keadaannya hukumnya tidak sah, karena sholat jenazah hanya boleh dilakukan jika seseorang telah jelas-jelas meninggal dunia dan setelah dimandikan. Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Imam Cakep Aja Deeh dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Roudlotut Tholibin, Juz : 2  Hal : 98
2. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 197


Ibarot :
Roudlotut Tholibin, Juz : 2  Hal : 98


يستحب المبادرة إلى غسله وتجهيزه إذا تحقق موته، بأن يموت بعلة، أو تظهر أمارات الموت، بأن يسترخي قدماه، فلا ينتصبا، أو يميل أنفه، أو ينخسف صدغاه، أو تمتد جلدة وجهه، أو ينخلع كفاه من ذراعيه، أو تتقلص خصيتاه إلى فوق مع تدلي الجلدة، فإن شك بأن لا يكون به علة، واحتمل أن يكون به سكتة، أو ظهرت أمارات فزع أو غيره، أخر إلى اليقين بتغيير الرائحة أو غيره

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 197


لا تصح الصلاة على من أسر أو فقد أو انكسرت به سفينة ، وإن تحقق موته أو حكم به حاكم ، إلا إن علم غسله أو علق النية على غسله ، إذ الأصح أنه لا يكفي غرقه ، ولا يجوّزها تعذر الغسل ، خلافاً للأذرعي وغيره اهـ. قلت : وعبارة الإمداد فعلم أن من مات بنحو هدم وتعذر إخراجه لا يصلى عليه وهو المعتمد كما في الروضة ، وأصلها عن المتولي وأقراه ، وفي المنح لا خلاف فيه ، وجزم به في المنهاج

Membaca surat fatihah setelah takbir kedua dalam shalat jenazah



Pertanyaan :
Mohon bantuannya, pertanyaan titipan; bagaimana hukumnya seorg musholli yang lupa membaca fatihah pada takbir pertama dalam sholat jenazah, bolehkah fatihah tersebut dibaca pada takbir kedua? Trimakasih..

( Dari : Senja Yang Jingga )


Jawaban :
Dalam kitab Fathul Mu’in, Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari menjelaskan :

“Rukun sholat janazah yang keempat yaitu membaca surat al-fatihah, apabila tidak mampu maka membaca gantinya surat al-fatihah, jika membaca gantinya juga tidak mampu maka diam dengan kadar bacaan alfatihah. Dan menurut pendapat yang mu'tamad sudah dianggap mencukupi pembacaan surat al-fatihah jika dibaca pada selai setelah takbir pertama.”

Berdasar keterangan diatas, bisa dipahami bahwa pembacaan surat al-fatihah dalam sholat jenazah bisa dikerjakan setelah takbir kedua, ketiga atau keempat. Jadi kesimpulannya orang yang lupa membaca surat fatihah psetelah takbir pertama bisa membacanya setelah takbir kedua. Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Jack Koko )


Referensi :
Hasyiyah I’anatut Tholibin Ala Fathul Mu’in, Juz : 2  Hal : 142


Ibarot :
Hasyiyah I’anatut Tholibin Ala Fathul Mu’in, Juz : 2  Hal : 142

ورابعها: فاتحة فبدلها فوقوف بقدرها والمعتمد أنها تجزئ بعد غير الأولى
..........................................
قوله: والمعتمد أنها) أي الفاتحة (وقوله: تجزئ بعد غير الاولى) أي بعد غير التكبيرة الاولى من الثانية وما بعدها