Hukum Menyembelih Aqiqah Secara Berangsur


Pertanyaan:
Assalamualaikum, orang awam mau tanya, aqiqoh untuk anak laki-laki dua ekor kambing, lalu bolehkah aqiqoh dicicil? maksudnya menyembelih satu ekor dulu dan dilain waktu menyembelih seekor lagi.

(Dari: Kemuning Senja)

Jawaban:
Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Sebelumnya perlu diketahui bahwasanya ketentuan hewan yang disembelih untuk mengaqiqahi anak laki-laki adalah satu ekor saja,  berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

"Bahwasannya Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam mengaqiqahi untuk Hasan dan Husain dengan masing-masing satu kambing." (Sunan Abu Dawud, no.2841)

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa jika seseorang telah menyembelih satu ekor kambing untuk mengaqiqahi anak lelaki karena kemampuannya hanya menyembelih satu ekor, maka ia sudah melaksanakan aqiqah sesuai ketentuan.

Namun jika dikemudian hari ia memiliki kemampuan untuk menyembelih lagi satu ekor untuk menggenapkan penyembelihan 2 ekor kambing bagi satu anak lelaki, itu malah lebih baik, sebab memang dianjurkan untuk menyembelih 2 ekor kambing untuk mengaqiqahi seorang lelaki, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu 'anha ;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُمْ عَنِ الغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan untuk anak perempuan cukup satu kambing" (Sunan turmudzi, no.1513).

Syaikh Mula Ali Al-Qori ketika membahas tentang hadits yang meriwayatkan bahwa Nabi hanya menyembelih satu ekor kambing untuk mengaqiqahi Hasan, beliau menjelaskan bahwa hadits ini bisa saja menjelaskan kebolehan dan dianggap cukupnya penyembelihan minimal (hanya satu ekor), atau menunjukkan bahwa penyembelihan 2 ekor kambing untuk seorang anak lelaki tidak harus dilakukan pada hari ketujuh sekaligus, jadi dimungkinkan penyembelihan pertama dilakukan pada hari kelahiran dan penyembelihan kedua dilakukan pada hari ketujuh. Kesimpulan tersebut dihasilkan dari penggabungan beberapa riwayat berbeda mengenai masalah jumlah hewan yang disembelih untuk aqiqah.

Kesimpulannya penyembelihan 2 ekor kambing untuk mengaqiqahi seorang anak lelaki bisa dicicil, menyembelih seekor dulu lalu menyembelih seekor lagi ketika sudah mampu. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Imam Al-Bukhori, Ubaid Bin Aziz Hasanan

dan Siroj Munir) 

Referensi:
1. Mughnil Muhtaj, juz 4 hal. 293

ﻭﻳﺘﺄﺩﻯ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﻼﻡ ﺑﺸﺎﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ: ﺃﻧﻪ ﺹ ﻋﻖ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻛﺒﺸﺎ ﻛﺒﺸﺎ

2. Al-Manhajul Qowim, juz 1 hal. 384

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﺰﻯﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﺷﺎﺓ ﺑﺼﻔﺔ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻷﻧﺜﻰ ﻭ ﻟﻜﻦ ﺍﻷﻛﻤﻞ ﺷﺎﺗﺎﻥ ﻣﺘﺴﺎﻭﻳﺘﺎﻥ ﻟﻠﺬﻛﺮ ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺑﺎﻟﻮﺍﺣﺪﺓ ﻓﻴﻪ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻧﻌﻖ ﻋﻦ ﺍﻟﻐﻼﻡ ﺑﺸﺎﺗﻴﻦ ﻣﺘﺴﺎﻭﻳﺘﻴﻦ ﻭﻋﻦ ﺍﻟﺠﺎﺭﻳﺔ ﺑﺸﺎﺓ

3. Mirqotul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih, juz 7 hal. 2689

والحديث يحتمل أنه لبيان الجواز في الاكتفاء بالأقل، أو دلالة على أنه لا يلزم من ذبح الشاتين أن يكون في يوم السابع، فيمكن أنه ذبح عنه في يوم الولادة كبشا وفي السابع كبشا، وبه يحصل الجمع بين الروايات، أو عق النبي - صلى الله عليه وسلم - من عنده كبشا. وأمر عليا أو فاطمة بكبش آخر، فنسب إليه - صلى الله عليه وسلم - أنه عق كبشا على الحقيقة وكبشين مجازا، والله أعلم

Hukum Penyembelihan Dengan Metode Stunning (Pemingsanan) - Fatwa MUI


PENYEMBELIHAN HEWAN SECARA MEKANIS

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya pada hari Senin, tanggal 24 Syawa11396 H/18 Oktober 1976 setelah :

Mendengar :

1. Penjelasan lisan dan kemudian disusul dengan tertulis (lampiran II) dari Pimpinan PD Dharma Jaya tentang cara-cara penyembelihan hewan dengan sistem mekanisasi pemigsanan yang menggambarkan :

  • Bahwa penggunaan mesin untuk pemingsanan dimaksudkan mempermudah roboh dan jatuhnya hewan yang akan disembelih di tempat pemotongan dan untuk meringankan rasa sakit hewan dan penyembelihannya dilakukan dengan pisau yang tajam memutuskan hulqum (tempat berjalan nafas), mari' (tempat berjalan makanan), dan wadajaain (dua urat nadi) hewan yang disembelih oleh juru sembelih Islam, denganterlebih dahulu membaca basmalah.
  • Bahwa hewan yang roboh dipingsankan di tempat penyembelihan apabila tidak disembelih akan bangun sendiri lagi segar seperti semula keadaanya, dan
  • Bahwa penyemelihan dengan sistem ini tidak mengurangi keluarnya darah mengalir, bahkan akan lebih  banyak dan lebih lancar sehingga dagingnya lebih bersih.

Mengingat :

1. Syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi penyembelihan hewan menurut Islam, menurut empat mazhab dan madzhab para sahabat, dan

2. Hadis Nabi riwayat Muslim dari Syaddad bin Aus tentang ketetapan berbuat ihsan dalam segala tindakan (lampiran I).

MEMUTUSKAN

Menetapkan / memfatwakan bhwa penyembelihan hewan secara mekanis pemingsanan merupakan modernisasi berbuat ihsan kepada hewan yang disembelih sesuai dengan ajaran Nabi dan memenuhi persyaratan ketentuan syar'i dan hukumnya sah clan halal, dan oleh karenanya, diharapkan supaya kaum Muslimin tidak meragukannya.

Jakarta 24 Syawal 1396H
18 Oktober 1976 M

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

                                         Ketua,                                           

                                K.H.M. SYUKRI GHOZALI                                

Sekretaris,

H. AMIRUDDIN SIREGAR


Lampiran I

4. Yang dimaksud dengan hewan dalam fatwa ini adalah hewan yang hidup dan halal seperti sapi, kerbau, kambing dan lain-lainnya.
5. Hadits Nabi Riwayat Muslim dari Syaddad bin Aus selengkapnya :
"Bahwanya Allah menetapkan ihsan (berbuat baik) atas tiap-tiap sesuai (tindakan). Apabila kamu ditugaskan membunuh maka dengan cara baiklah kamu membunuh dan apabila engkau hendak menyemelih maka sembelihlah dengan cara baik. Dan hendaklah mempertajam salah seorang kaum akan pisaunya dan memberikan kesenangan kepada yang disembelinya (yaitu tidak disiksa dalam penyembelihannya). "

Waktu Pelaksanaan Aqiqah Setelah Lewatnya Hari Ketujuh


Pertanyaan:
Assalamu’alaikum...
Telah maklum bahwa dianjurkan menyembelih aqiqoh pada hari ke 7 dari kelahiran si buah hati. Hal ini sebagaimana termaktub di dalam kitab salaf, salah satunya di dalam kitab Fath al-Mu’in, hal 63. Akan tetapi, karena beberapa hal, sebagian orang ada yang baru bisa menyembelihnya setelah hari ke 7. Dalam kasus penyembelihan aqiqoh pada hari ke 7 ini, terdapat dua anggapan di masyarakat:
1.    Apabila belum bisa menyembelih aqiqoh pada hari ke 7, maka penyembelihan dilakukan pada hari ke 14 atau 21.
2.    Apabila belum bisa menyembelih aqiqoh pada hari ke 7, maka penyembelihan dilakukan pada hari selapannya atau hari ke 40.
Pertanyaan:
Diantara dua anggapan tersebut, manakah yang benar dalam pandangan fiqh, atau justru kedua-duanya benar?

(Dari: NN)


Jawaban:
Wa’alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Menurut qoul mukhtar (pendapat yang dipilih oleh ulama’) dalam madzhab syafi’i, setelah lewat masa 7 hari, aqiqoh bisa dilakukan kapan saja ketika seseorang sudah mampu melakukan aqiqoh, sampai masa baligh. Alasannya sebab penyembelihan aqiqoh setelah lewatnya hari ke 7 sifatnya adalah qodho’, jadi kalau bisa secepatnya dikerjakan ketika sudah mampu.

Hanya saja penyembelihan aqiqah dianjurkan untuk dilakukan pada hari ke 14, dan jika tidak bisa maka pada hari ke 21, begitu seterusnya dengan hitungan kelipatan 7, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Al-Busyaihi, salah seorang ashab madzhab syafi’i. Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Dari Ummu Kurz dan Abi Kurz:

نَذَرَتِ امْرَأَةٌ مِنْ آلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ إِنْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ نَحَرْنَا جَزُورًا، فَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «لَا بَلِ السُّنَّةُ أَفْضَلُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُقْطَعُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرَ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ، وَلْيَكُنْ ذَاكَ يَوْمَ السَّابِعِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ

“Seorang wanita dari keluargaAbdurrohman bin Abu Bakar bernadzar, apabila istri Abdurrohman melahirkan seorang bayi maka aku akan menyembelih seekor unta, mendengar hal itu Aisyah berkata: “Jangan, mengerjakan kesunahan itu lebih utama, bagi anak lelaki 2 kambing yang besar, dan bagi anak perempuan satu kambing, yang dipotong sepenggal-penggal, dan tulangnya tidak dipecah, kemudian (dagingnya) dimakan dan disedekahkan. Dan itu semua hendaknya dikerjakan pada hari ke-7, jika tidak maka dikerjakan pada hari ke-14, dan jika tidak, maka dikerjakan pada hari ke-21”. (Al-Mustadrok, No.7595. Hadits ini dishohihkan oleh Imam Hakim dan Imam Adz-Dzahabi).

Berdasarkan uraian ini, maka pandangan yang benar adalah yang pertama. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Siroj Munir)


Referensi:
1. Al-Majmu’, 8/431

قال أصحابنا ولا تفوت بتأخيرها عن السبعة لكن يستحب أن لا يوخر عن سن البلوغ
قال أبو عبد الله البوشيحى من أئمة أصحابنا إن لم تذبح في السابع ذبحت في الرابع عشر وإلا ففي الحادي والعشرين ثم هكذا في الأسابيع

2. Kifayatul Akhyar, Hal: 534

وفي العدة والحاوي للماوردي أنها بعد السابع تكون قضاء والمختار أن لا يتجاوز بها النفاس فإن تجاوزته فيختار أن لا يتجاوز بها الرضاع فإن تجاوز فيختار أن لا يتجاوز بها سبع سنين فإن تجاوزها فيختار أن لا يتجاوز بها البلوغ

3. Al-Mughni Li Ibnu Qudamah, 9/461

مسألة: قال: ويذبح يوم السابع، قال أصحابنا: السنة أن تذبح يوم السابع، فإن فات ففي أربع عشرة، فإن فات ففي إحدى وعشرين. ويروى هذا عن عائشة. وبه قال إسحاق.
     وعن مالك، في الرجل يريد أن يعق عن ولده، فقال: ما علمت هذا من أمر الناس، وما يعجبني. ولا نعلم خلافا بين أهل العلم القائلين بمشروعيتها في استحباب ذبحها يوم السابع
     والأصل فيه حديث سمرة، عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: «كل غلام رهينة بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه، ويسمى فيه، ويحلق رأسه
     وأما كونه في أربع عشرة، ثم في أحد وعشرين، فالحجة فيه قول عائشة - رضي الله عنها - وهذا تقدير، الظاهر أنها لا تقوله إلا توقيفا.

4. Al-Mustadrok Ala As-Shohihain, 4/266

    أخبرنا أبو عبد الله محمد بن يعقوب الشيباني، ثنا إبراهيم بن عبد الله، أنبأ يزيد بن هارون، أنبأ عبد الملك بن أبي سليمان، عن عطاء، عن أم كرز، وأبي كرز، قالا: نذرت امرأة من آل عبد الرحمن بن أبي بكر إن ولدت امرأة عبد الرحمن نحرنا جزورا، فقالت عائشة رضي الله عنها: «لا بل السنة أفضل عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة تقطع جدولا ولا يكسر لها عظم فيأكل ويطعم ويتصدق، وليكن ذاك يوم السابع فإن لم يكن ففي أربعة عشر فإن لم يكن ففي إحدى وعشرين» هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه "      [التعليق - من تلخيص الذهبي] ٧٥٩٥ - صحيح

Haruskah orang yang berkurban menyaksikan proses penyembelihan hewan kurbannya?



Pertanyaan:
Assalamualaikum....
Apa orang berkorban harus melihat hewannya atau hal itu hanya kesunahan?

(Dari: Adi Reza)


Jawaban:
Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh..

Penyembelihan hewan kurban disunahkan untuk dilakukan oleh orang yang berkurban sendiri apabila ia mampu mengerjakannya, sebab berkurban merupakan suatu badah, sedangkan mengerjakan sendiri secara langsung lebih utama daripada menyerahkannya kepada orang lain. Namun apabila ia seseorang tidak mampu menyembelih sendiri lebih baik menyerahkannya pada orang lain. Dalilnya adalah hadits;

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Dari Anas, dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut." (Shahih Bukhari, no.5565 dan Shahih Muslim, no.1966).

Meskipun begitu, bagi lelaki maupun wanita diprbolehkan mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya walaupun mampu mengerjakannya sendiri diserahkan kepada seorang muslim yang mengerti tentang hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan penyembelihan dan kurban. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Jabir radhiyallahu ‘anha;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاقَ مَعَهُ مِائَةَ بَدَنَةٍ، فَلَمَّا انْصَرَفَ إِلَى الْمَنْحَرِ نَحَرَ ثَلَاثًا وَسِتِّينَ بِيَدِهِ، ثُمَّ أَعْطَى عَلِيًّا فَنَحَرَ مَا غَبَرَ مِنْهَا

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggiring 100 ekor unta bersama beliau, lalu ketika beliau mendatangi tempat penyembelihan, beliau menyembelih sendiri 63 ekor dengan tangannya sendiri, kemudian menyerahkannya pada Ali, lalu Ali menyembelih sisanya”. (Shahih Ibnu Hibban, no.4018)

Hanya saja, ketentuan diatas mengecualikan para wanita, sebab bagi seorang wanita yang hendak berkurban disunahkan untuk menyerahkan penyembelihan hewan kurbannya kepada seorang lelaki.

Para ulama’ menjelaskan, bahwa ketika seseorang menyerahkan penyembelihannya pada orang lain maka disunahkan bagi orang yang berkurban untuk menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurbannya, berdasarkan hadits yang mengisahkan ketika Fatimah radhiyallahu ‘anha berkurban dan menyerahkan penyembelihannya pada orang lain, ketika hewan kurbannya hendak disembelih nabi berkata kepada Fatimah;

يَا فَاطِمَةُ قَوْمِي إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ

“Wahai Fatimah, beranjaklah kepada hewan kurbanmu, lalu saksikanlah, sebab semua dosa-dosa yang telah engkau perbuat akan diampuni pada saat tetes pertama darahnya”. (Al-Mustadrok, no.7524, 7525).

Jadi, kesimpulannya orang yang berkurban disunahkan untuk melihat prosesi penyembelihan hewan kurbannya. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Al-Murtadho dan Siroj Munir)


Referensi:
1. Al Mausu'ah al Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 5/100

ما يستحب في التضحية من أمور ترجع إلى المضحي
أن يذبح بنفسه إن قدر عليه ، لأنه قربة ، ومباشرة القربة أفضل من تفويض إنسان آخر فيها ، فإن لم يحسن الذبح فالأولى توليته مسلما يحسنه ، ويستحب في هذه الحالة أن يشهد الأضحية لقوله صلى الله عليه وسلم لفاطمة رضي الله عنها : "يا فاطمة قومي إلى أضحيتك فاشهديها". وقد اتفقت المذاهب على هذا

2. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, 8/405

والمستحب أن يضحي بنفسه لحديث أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم (ضحى بكبشين ووضع رجله على صفاحهما وسمى وكبر) ويجوز أن يستنيب غيره لما روى جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم (نحر ثلاثا وستين بدنة ثم أعطى عليا فنحر ما غبر منها) والمستحب أن لا يستنيب الا مسلما لانه قربة فكان الافضل أن لا يتولاها كافر ولانه يخرج بذلك من الخلاف لان عند مالك لا يجزئه ذبحه فان استناب يهوديا أو نصرانيا جاز لانه من أهل الذكاة. ويستحب أن يكون عالما لانه أعرف بسنة الذبح. والمستحب إذا استناب غيره أن يشهد الذبح لما روى أبو سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لفاطمة رضى الله عنها قومي إلى أضحيتك فاشهديها فانه بأول قطرة من دمها يغفر لك ما سلف من ذنبك
.............................
الشرح: حديث أنس رواه البخاري بلفظه وحديث جابر رواه مسلم بلفظه وهو من جملة حديث جابر الطويل في صفة حجة النبي صلى الله عليه وسلم (وأما) حديث أبي سعيد فرواه البيهقي من رواية أبي سعيد ومن رواية علي (وقوله) ما غبر أي ما بقي وهو - بفتح الغين المعجمة والباء الموحدة
أما الأحكام فقال الشافعي والأصحاب: يستحب أن يذبح هديه وأضحيته بنفسه قال الماوردي إلا المرأة فيستحب لها أن توكل في ذبح هديها وأضحيتها رجلا
قال الشافعي والأصحاب ويجوز للرجل والمرأة أن يوكلا في ذبحهما من تحل ذكاته والأفضل أن يوكل مسلما فقيها بباب الصيد والذبائح والضحايا وما يتعلق بذلك لأنه أعرف بشروطه وسننه ولا يجوز أن يوكل وثنيا ولا مجوسيا ولا مرتدا ويجوز أن يوكل كتابيا وامرأة وصبيا لكن قال أصحابنا يكره توكيل الصبي وفي كراهة توكيل المرأة الحائض وجهان (أصحهما) لا يكره لأنه لم يصح فيه نهي والحائض أولى من الصبي والصبي أولى من الكافر الكتابي. ويستحب إذا وكل أن يحضر ذبحها ودليل الجميع في الكتاب

Do’a dan dzikir sebelum menyembelih hewan kurban



Pertanyaan:
Assalamu'alaikum...
Adakah do'a atau bacaan khusus sebelum menyembelih hewan qurban?
Terima kasih.

( Dari: M Salamun)


Jawaban:
Wa'alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Sebelum menyembelih hewan kurban disunahkan membaca do’a dan dzikir sebagai berikut:

1. Membaca basmalah, berdasarkan firman Allah;

فَكلُوا ممَّا ذُكِرَ اسمُ الله عَلَيْه

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya”. (QS. Al-An’am : 118)

2. Membaca takbir tiga kali, berdasarkan hadits;

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Dari Anas, dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut." (Shahih Bukhari, no.5565 dan Shahih Muslim, no.1966).

Dalam satu riwayat Imam Muslim, beliau mengucapkan;

بِاسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

“Bismillah Wallahu Akbar (dengan menyebut nama Allah dan maha besar Allah)” (Shahih Muslim, no.1966).

3. Membaca sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad, untuk memperoleh keberkahan. Kesunahan ini dinash (ditetapkan) oleh Imam Syafi’i karena diqiyaskan dengan keadaan-keadaan lainnya. Alasan lainnya sebab sebelumnya telah disebut nama Allah karena itu disyari’atkan pula untuk menyebut nama Nabinya, sepertihalnya ketika adzan.

4. Berdo’a agar kurbannya diterima disisi Allah, dengan membaca:

اللَّهُمَّ هَذَا مِنْك وَإِلَيْك فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ

ALLOHUMMA HADZA MINKA WA ILAIKA FATAQOBBAL MINNI

“Ya Allah (kurban) ini adalah dari-Mu, dan juga untuk-Mu, maka terimalah dariku”

Dalam satu hadits diriwayatkan;

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ، فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ، فَقَالَ لَهَا: «يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ» ، ثُمَّ قَالَ: «اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ» ، فَفَعَلَتْ: ثُمَّ أَخَذَهَا، وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ، ثُمَّ ذَبَحَهُ، ثُمَّ قَالَ: «بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

 “Dari 'Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menyuruh untuk diambilkan dua ekor domba bertanduk yang di kakinya berwarna hitam, perutnya terdapat belang hitam, dan di kedua matanya terdapat belang hitam. Kemudian domba tersebut di serahkan kepada beliau untuk dikurbankan, lalu beliau bersabda kepada 'Aisyah: "Wahai 'Aisyah, bawalah pisau kemari." Kemudian beliau bersabda: "Asahlah pisau ini dengan batu." Lantas 'Aisyah melakukan apa yang di perintahkan beliau, setelah di asah, beliau mengambilnya dan mengambil domba tersebut dan membaringkannya lalu beliau menyembelihnya." Kemudian beliau mengucapkan: "Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan ummat Muhammad." Kemudian beliau berkurban dengannya." (Shahih Muslim, no.1967)

Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Ibnu Mawardi, Al Murtadho dan Siroj Munir)


Referensi:
1. Al-Iqna’ Syarah Taqrib, 2/591

ويستحب عند الذبح) مطلقا (خمسة) بل تسعة (أشياء) الأول (التسمية) بأن يقول بسم الله ولا يجوز أن يقول بسم الله واسم محمد (و) الثاني (الصلاة) والسلام (على) سيدنا (رسول الله صلى الله عليه وسلم) تبركا بهما. (و) الثالث (استقبال القبلة بالذبيحة) أي بمذبحها فقط على الأصح دون وجهها ليمكنه الاستقبال أيضا. (و) الرابع (التكبير ثلاثا) بعد التسمية كما قاله الماوردي. (و) الخامس (الدعاء بالقبول) بأن يقول اللهم هذا منك وإليك فتقبل مني

2. Kifayatul Akhyar, 1/532-533

ويستحب عند الذبح خمسة أشياء التسمية والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم واستقبال القبلة بالذبيحة والتكبير والدعاء بالقبول
......................
تستحب التسمية لقوله تعالى {فكلوا مما ذكر اسم الله عليه} ورد أنه عليه الصلاة والسلام حين ذبح أضحيته قال باسم الله فلو لم يسم حلت لأن الله تعالى أباح ذبائح أهل الكتاب وهم لا يسمون غالبا وورد أن أناسا قالوا يا رسول الله إن قوما من الأعراب يأتوننا باللحم ما ندري أذكروا اسم الله عليه أم لا فقال صلى الله عليه وسلم سموا الله تعالى وكلوا فدل على أنها غير واجبة وغير ذلك من الأدلة
وأما الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فقد نص الشافعي على استحبابها قياسا على سائر المواضع ولأن الله تعالى رفع ذكره فلا يذكر إلا ويذكر معه وقد ثبت ذكر التسمية
وأما توجيه الذبيحة إلى القبلة فلأنها خير الجهات ولأنه عليه الصلاة والسلام وجه ذبيحته إلى القبلة وقيل ينبغي أن يكره لأنها حالة إخراج نجاسة فهي كالبول وأجيب بأنها حالة يستحب فيها ذكر الله تعالى بخلاف تلك وفي كيفية التوجيه أوجه أصحها توجيه المذبح ليكون الذابح مستقبلا كما هو الأفضل
وأما التكبير ففي رواية أنس رضي الله عنه أنه عليه الصلاة والسلام ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده الكريمة سمى وكبر ووضع رجله المشرفة على صفحاتهما
وأما الدعاء بالقبول فمستحب ولفظه اللهم هذا منك وإليك فتقبل مني ومعنى ذلك هذه نعمة وعطية منك سقتها وتقربت بها إليك واحتج لذلك بأنه عليه الصلاة والسلام قال عند التضحية بذاتك الكبشين اللهم تقبل من محمد وآل محمد. والله أعلم

3. At-Tadzhib Fi Adillati Taqrib, Hal: 245

ويستحب عند الذبح خمسة أشياء: 1 - التسمية 2 - والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم 3 - واستقبال القبلة 4 - والتكبير 5 - والدعاء بالقبول (1)
__________
(1) قال تعالى: "فَكلُوا ممَّا ذُكِرَ اسمُ الله عَلَيْهِ "، الأنعام: 118/.
وفي حديث أنس رضي الله عنه: وَسمّى وَكًبَرَ.
وعند مسلم (1966): أنه صلى الله عليه وسلم قال: (بِاسم اللهِ وَاللهُ أكْبَر).
وعنده أيضاً (1967) أنَه صلى الله عليه وسلم ضَحى بكَبْش، وقال عند ذبحه: (بِاسمِ اللهِ، اللَّهم تَقبلْ مِنْ مُحمَّد، وآلِ مُحَمَد، وَمِنْ أمَة مُحَمّد).
وأما الصَلاة على النبي صلى الله عليه وسلم: فلأنه محل شرع فيه ذكر الله تعالى، فيشرع فيه ذكر نبيه صلى الله عليه وسلم بالصلاة عليه، كالأذان.
وأما استقبال القبلة: فلأنها أشرف الجهات، فهي أولى أن يتوجه إليها في القربات، ويكون الاستقبال بمذبح الذبيحة، فيتحقق الاستقبال من الذابح أيضاً

Hukum memberikan daging kurban kepada orang kafir (non muslim)



Pertanyaan:
Assalamualaikum...
Berhubungan mau ibadah kurban nih, mau tanya Dalil/Qaul Ulama yang menerangkan bolehkah non muslim kita beri daging kurban?
Tolong dicarikan kitabnya. Terima kasih banyak.

(Dari Ozik Mas Ozik).


Jawaban:
Wa alaikum salam waraohmatulloh wabarokatuh

Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya memeberikan daging kurban kepada orang kafir, sebagian ulama’ tidak memperbolehkannya, sedangkan sebagian lainnya memperbolehkan.

Ulama’ yang menyatakan ketidak bolehan memberikan daging kurban kepada orang kafir beralasan bahwa tujuan ibadah kurban adalah bentuk sikap kasih sayang terhadap sesama muslim dengan cara memberikan makanan, selain itu kurban merupakan hidangan dari Allah bagi kaum muslimin pada hari raya idul adha, karena itu hidangan ini tidak boleh diberikan kepada selain mereka. Pendapat ini dikemukakan oleh imam Romli dalam kitab Nihayatul Muhtaj, pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Al-Laits.

Sedangkan ulama yang memperbolehkan beralasan bahwa pemberian daging kurban merupakan bentuk sedekah, sedangkan dalam aturan agama yang tidak ada larangan untuk memberikan sedekah kepada orang non muslim, asalakan bukan kafir harbi (orang kafir yang memerangi orang islam). Allah berfirman:

لَايَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (QS. Al Mumtahanah : 8 ).

Syekh Ilkiya Al-Hirosi Asy-Syafi’i dalam kitabnya, “Ahkamul Qur’an” menjelaskan bahwa ayat ini merupakan dalil kebolehan memberikan sedekah kepada kafir dzimmi, bukan kafir harbi.

Pendapat ini merupakan pendapat yang sesuai dengan ketentuan madzhab (syafi’i) menurut penjelasan imam Nawawi, selain itu pendapat ini merupakan pendapat Imam Hasan Al-Basri, Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Tsur.

Namun imam nawawi menambahkan bahwa kebolehan memberikan daging kurban kepada orang kafir dzimmi ini berlaku apabila hewan kurban tersebut merupakan kurban sunah bukan kurban wajib (berkurban karena sudah nadzar). Jadi jika kurbannya kurban nadzar hanya boleh dibrerikan kepada kaum muslimin saja.

Kesimpulannya, ulama’ berbeda pendapat mengenai kebolehan memberikan daging kurban kepada non muslim, sebagian melarangnya dan sebagian memperbolehkan memberikannya kepada kafir dzimmi, dengan syarat daging hewan kurbannya bukan dari hewan kurban wajib. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Al Murtadho dan Siroj Munir).


Referensi:
 1.  Nihayah al Muhtaj 8/141.

وله) أي المضحي عن نفسه إن لم يرتد (الأكل من أضحية تطوع) وهديه بل يندب أما الواجبة فيمتنع أكله منها سواء في ذلك المعينة ابتداء أو عما في الذمة، وخرج بما مر ما لو ضحى عن غيره أو ارتد فلا يجوز له الأكل منها كما لا يجوز إطعام كافر منها مطلقا، ويؤخذ من ذلك امتناع إعطاء الفقير والمهدى إليه منها شيئا للكافر، إذ القصد منها إرفاق المسلمين بالأكل لأنها ضيافة الله لهم فلم يجز لهم تمكين غيرهم منه لكن في المجموع أن مقتضى المذهب الجواز

2.  Al Majmu' Syarh al Muhadzdzab, 8/425.

قال ابن المنذر أجمعت الأمة على جواز إطعام فقراء المسلمين من الأضحية
واختلفوا في إطعام فقراء أهل الذمة فرخص فيه الحسن البصري وأبو حنيفة وأبو ثور
وقال مالك غيرهم أحب إلينا وكره مالك أيضا إعطاء النصراني جلد الأضحية أو شيئا من لحمها وكرهه الليث قال فإن طبخ لحمها فلا بأس بأكل الذمي مع المسلمين منه هذا كلام ابن المنذر
ولم أر لأصحابنا كلاما فيه ومقتضى المذهب أنه يجوز إطعامهم من ضحية التطوع دون الواجبة والله أعلم

  3.  Ahkamul Qur’an, 4/49

قوله تعالى: (لا يَنْهاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ) فيه دليل على جواز التصدق على أهل الذمة دون أهل الحرب

HUKUM MEMEMOTONG-MOTONG TULANG HEWAN AQIQAH


 

Pertanyaan:
Assalaamualaikum..
Dalam aqiqoh yang sunah tulang-tulang dari kambing tidak dipecah-pecah atau diremuk,tetapi dipotongi pas ruas-ruasanya. tapi suatu saat pernah dengar pengajian dalam selametan, bahwa mengolahnya malah sunnah diremuk, dipotong kecil-kecil, dan memang sesuai dengan masyarakat dan mudah dibagi-bagikan.
Pertanyaan saya, minta tolong kepada dewan asatidz, apa benar demikian dan sekalian ta’birnya? Terimakasih .

(Dari: Sari Similikiti)


Jawaban:
Wa’alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Hukum memotong-motong tulang hewan aqiqah yang telah disembelih diperselisihkan diantara ulama’;

1. Menurut madzhab syafi’i dan hanbali disunatkan untuk tidak memotong-motong tulang hewan sembelihan aqiqah. Hikmahnya adalah tafa’ulan (sebagai do’a) agar anak yang diaqiqahi kelak tidak menderita patah tulang. Diantara dalilnya adalah riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha;

يُطْبَخُ جُدُولًا، وَلَا يُكْسَرُ مِنْهَا عَظْمٌ

“(Daging aqiqah itu) dimasak sepenggal-penggal, dan tulangnya tidak dipecah”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, No.24263)

Namun, seumpama hal itu dilakukan hukumnya tidak makruh, tapi khilaful aula (menyelisihi yang lebih utama).

2. Menurut madzhab maliki, tulang tersebut boleh dipotong-potong atau dibiarkan utuh. Imam Malik dalam “Al-Muwaththo’” menjelaskan bahwa aqiqoh itu sepertihalnya qurban, karena itu diperbolehkan memotong-motong tulangnya. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Ibnu Hazm, pemuka ulama’ madzhab dhohiri, beliau menjelaskan, tidak ada satu pun hadits yang shahih yang bisa dijadikan dalil mengenai pelarangan hal tersebut, termasuk riwayat dari aisyah diatas.

Kesimpulannya, memang hukum memotong-motong tulang hewan aqiqah itu diperselisihkan oleh ulama’, ada yang menyatakan sunah untuk tidak dipotong-potong dan ada yang menyatakan diperbolehkan dipotong-potong. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Siroj Munir, Octaviant Cheerfull dan Ubaid Bin Aziz Hasanan)


Referensi:
1. Al-Muhadzdzab, 1/439  (Madzhab Syafi’i)

والمستحب أن يفصل أعضاءها ولا يكسر عظمها لما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: السنة شاتان مكافئتان عن الغلام وعن الجارية شاة تطبخ جدولاً ولا يكسر عظم

2. Tuhfatul Muhtaj, 9/372

ولا يكسر عظم) تفاؤلا بسلامة أعضاء المولود فإن فعل لم يكره لكنه خلاف الأولى

3. Al-Mughni, 13/172 (Madzhab Hanbali)

ويستحب أن تفصل أعضاؤها ولا تكسر عظامها لما روي عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: السنة شاتان مكافئتان عن الغلام وعن الجارية شاة تطبخ جدولا ولا يكسر عظم

4. At-Taj Wal-Iklil, 4/393 (Madzhab Maliki)

وجاز كسر عظمها) في الموطأ: العقيقة بمنزلة الضحايا وتكسر عظامها

5. Al-Muhallah, 7/523

وَلَا بَأْسَ بِكَسْرِ عِظَامِهَا . . . وَلَمْ يَصِحَّ فِي الْمَنْعِ مِنْ كَسْرِ عِظَامِهَا شَيْءٌ . فَإِنْ قِيلَ : قَدْ رَوَيْتُمْ { عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ وَقَدْ قِيلَ لَهَا فِي الْعَقِيقَةِ بِجَزُورٍ , فَقَالَتْ : لَا , بَلْ السُّنَّةُ أَفْضَلُ , عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ , وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُقْطَعُ جُدُولًا وَلَا يُكْسَرُ لَهَا عَظْمٌ فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ , وَلْيَكُنْ ذَلِكَ يَوْمَ السَّابِعِ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَفِي إحْدَى وَعِشْرِينَ } . قُلْنَا : هَذَا لَا يَصِحُّ ; لِأَنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ الْعَرْزَمِيِّ

Bolehkah mengaqiqahi anak lelaki dengan seekor kambing saja?


Pertanyaan :
Bolehkah mengaqiqahi anak laki-laki  hanya dengan satu  ekor kambing?

(Dari Kalisah Zyta Viana).


Jawaban:
 Wa’alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh
Aqiqoh yang disyari’atkan bagi anak laki-laki Ketentuan hewan yang disembelih untuk aqiqoh adalah satu kambing untuk setiap satu anak laki-laki dan satu anak perempuan, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhu ;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا

"Bahwasannya Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam mengaqiqahi untuk Hasan dan Husain dengan masing-masing satu kambing." (Sunan Abu Dawud, no.2841)

Namun dianjurkan untuk menyembelih 2 kambing bagi satu anak lelaki, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Aisyah rodhiyallohu 'anha ;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُمْ عَنِ الغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

"Bahwasanya Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada para sahabat untuk mengaqiqahkan anak laki-lakinya dengan dua kambing yang besar dan untuk anak perempuan cukup satu kambing" (Sunan turmudzi, no.1513)

Jadi, Orang yang hanya mampu menyembelih seekor kambing dengan niat mengaqiqahi anak laki-lakinya karena masalah keuangan sejatinya telah mendapatkan kesunahan aqiqah dan telah gugur tuntutan aqiqah pada dirinya. Wallahu a’lam.

 (Dijawab oleh: Ubaid Bin Aziz Hasanan Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Al Murtadho dan Siroj Munir).


Referensi:
1. Al-Iqna’ Lisy Syarbini, 2/594

ويتأدى أصل السنة عن الغلام بشاة لأنه صلى الله عليه وسلم عق عن الحسن والحسين كبشا    

2. Minhajul Qowim, 1/634

  و) لكن (الأكمل شاتان) متساويتان (للذكر) ويحصل بالواحدة فيه أصل السنة

3. Al-Fiqhul Manhaji, 3/57-58

تتحقق السنة في العقيقة بأن يذبح الولي شاة عن الغلام، وشاة عن الجارية. ودليل ذلك ما رواه الترمذي في [الأضاحي ـ باب ـ ما جاء في العقيقة بشاة، رقم: 1519] عن علي - رضي الله عنه -، قال: عق رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عن الحسن بشاة
ولكن الأفضل أن يذبح الولي عن الصبي شاتين، وعن البنت شاة. ودليل ذلك ما رواه الترمذي في [الأضاحي ـ باب ـ ما جاء في العقيقة، رقم: 1513] وغيره عن عائشة رضي الله عنها، أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: أمرهم: عن الغلام شاتان متكافئتان، وعن الجارية شاة

Aqiqah untuk orang tua yang sudah meninggal


Pertanyaan :
Assalamu'alaikum.
Bolehkah ahli waris(anak) mengaqiqahi orang tuanya yang sudah meninggal dunia dengan menjual bagian tanah warisanya padahal sewaktu hidup tidak  ada wasiat dari orang tuanya?

( Dari : Kalisah Zyta Viana )

Jawaban :

Wa alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh..
Mengaqiqahi orang tua yang masih hidup hukumnya boleh bila ada izin darinya, sedangkan mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal dunia hukumnya juga diperbolehkan bila ada wasiat sebagaimana diperbolehkannya melakukan qurban atas nama mayit (menurut sebagian pendapat).

Dan bila orang tua tidak pernah berwasiat untuk diaqiqahi maka cukup dengan menyembelih hewan dan disedekahkan atas nama orang tua telah menghasilkan kebaikan bagi orang tua yang telah meninggal. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ    

Dari Aisyah radliallahu anha bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam: "Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bersedekah untuknya (atas namanya)?". Beliau menjawab: "Ya, benar". (Shahih Bukhari bab Jana’iz no. 1299).

Kesimpulannya, mengaqiqohi orang tua yang sudah meninggal tanpa ada wasiat hukumnya tidak boleh, yang diperbolehkan dan dianjurkan adalah menyembelih hewan dan disedekahkan atas orang tua yang telah meninggal. Wallahu a’lam.

(Dijawab oleh: Ubaid Bin Aziz Hasanan Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Al Murtadho).


Referensi :
1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 30/277-278

ذهب الشافعية إلى أن العقيقة تطلب من الأصل الذي تلزمه نفقة المولود بتقدير فقره، فيؤديها من مال نفسه لا من مال المولود، ولا يفعلها من لا تلزمه النفقة إلا بإذن من تلزمه

2. Fathul Wahab, 2/330

ولا تضحية لاحد عن آخر بغير إذنه ولو) كان (ميتا) كسائر العبادات بخلاف ما إذا أذن له كالزكاة. وصورته في الميت أن يوصي بها، واستثنى من اعتبار الاذن ذبح أجنبي معينة بالنذر بغير إذن الناذر، فيصح على المشهور ويفرق صاحبها لحمها، لان ذبحها لا يفتقر إلى نية كما مر