Hukum Mempercayai Hari Naas (Hari Sial)


KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-3
Di Surabaya Pada Tanggal 12 Rabiuts Tsani 1347 H. / 28 September 1928 M.


58. Mempercayai Hari Naas

Pertanyaan: Bolehkah berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar?

Jawaban: Muktamar memilih pendapat yang tidak membolehkan.

Keterangan, dalam kitab:
1. Al-Fatawa Al-Haditsiyah, hal. 28

مَنْ يَسْأَلُ عَنِ النَّحْسِ وَمَا بَعْدَهُ لَا يُجَابُ إِلَّا بِالْإِعْرَاضِ عَنهُ وَتَسْفِيْهِ مَا فَعَلَهُ وَيُبَيِّنُ لَهُ قُبْحَهُ، وَأََنَّ ذَلِكَ مِنْ سُنَّةِ الْيَهُوْدِ لَا مِنْ هَدْيِ الْمُسْلِمِيْنَ المتوكلين على خالقهم وبارئهم الَّذين لَا يَحْسَبُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَمَا يُنْقَلُ مِنَ الْأَيَّامِ الْمَنْقُوْطَةِ وَنَحْوِهَا عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ بَاطِلٌ كَذِبٌ لَا أَصْلَ لَهُ فَلْيَحْذَرْ مِنْ ذَلِكَ

     Barangsiapa yang bertanya tentang hari sial dan sesudahnya maka tidak perlu dijawab, melainkan dengan berpaling, menganggap bodoh tindakannya dan menjelaskan keburukannya, dan menjelaskan bahwa semua itu merupakan kebiasaan orang yahudi, bukan petunjuk bagi orang Islam yang bertawakal kepada penciptanya yang tidak pernah menggunakan hisab (perhitungan hari baik dan buruk).

     Sedangkan keterangan menegenai hari-hari apes dan semacamnya yang dinukil dari Ali karramallahu wajhah adalah batil dan merupakan suatu kebohongan yang tidak memiliki dasar, karena itu berhati-hatilah kalian dari hal-hal tersebut.

Hukum Demonstrasi/Unjuk Rasa dan Batasan-batasannya


HASIL KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL
ALIM ULAMA NAHDLATUL ULAMA
TENTANG MASAIL DINIYAH WAQI’IYYAH
16-20 Rajab 1418 H/17-20 Nopember 1997 M
Di Ponpes QOMARUL HUDA, Bagu, Pringgata Lombok Tengah, NTB

418. Demonstrasi dan Unjuk Rasa

     Akhir-akhir ini terjadi banyak demonstrasi, unjuk rasa, pemogokan dan bahkan pengrusakan fasilitas umum (kerusakan). Motif dan tujuannya beragam, tapi intinya tidak puas atas kebijakan, sikap atau tindakan suatu lembaga/instansi, dan mencari keadilan.

Soal: Bolehkah mencari keadilan melalui demonstrasi? Sampai batas manakah demonstrasi dibenarkan islam?

Jawaban: Demonstrasi dan unjuk rasa yang bermuatan amar ma’ruf nahi munkar untuk mencari kebenaran dan demi tegaknya keadilan itu boleh selama:
1.    Tidak menimbulkan mafsadah yang lebih besar.
2.    Sudah tidak ada jalan lain seperti menempuh musywarah dan lobi.
3.    Apabila ditujukan pada penguasa pemerintah, hanya boleh dilakukan dengan cara ta’rif (menyampaikan penjelasan) dan al-wa’zhu (pemberian nasihat).

Keterangan, dari kitab:
1. Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid 2, h. 337
قد ذكرنا درجات الأمر بالمعروف وأن أوله التعريف وثانيه والوعظ وثالثه التخشين في القول ورابعه المنع بالقهر في الحمل على الحق بالضرب والعقوبة. والجائز من جملة ذلك مع السلاطين الرتبتان الأوليان وهما التعريف والوعظ. وأما المنع بالقهر فليس ذلك لآحاد الرعية مع السلطان فإن ذلك يحرك الفتنة ويهيج الشر ويكون ما يتولد منه من المحذور أكثر وأما التخشين في القول كقوله يا ظالم يا من لا يخاف الله وما يجري مجراه فذلك إن كان يحرك فتنة يتعدى شرها إلى غيره لم يجز وإن كان لا يخاف إلا على نفسه فهو جائز بل مندوب إليه. فلقد كان من عادة السلف التعرض للأخطار والتصريح بالإنكار من غير مبالاة بهلاك المهجة والتعرض لأنواع العذاب لعلمهم بأن ذلك شهادة
2. Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair, Juz 2, h. 156
والنسائي من رأى منكم منكرا فغيره بيده فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بيده فغيره بلسانه فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بلسانه فغيره بقلبه - أي أنكره - فقد برئ وذلك أضعف الإيمان
3. Al-jami’ al-Shaghir min Hadits al-Basyir al-Nadzir, Juz 2, h. 327
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان. (حم م ٤) عن أبي سعيد (صح

Perlunya Mencantumkan Dalil Al-Qur'an, Hadits dan Perbandingan Madzhab Dalam Menetapkan Hukum - Keputusan Muktamar NU


KEPUTUSAN KOMISI BAHTSUL MASAIL AD-DINIYAH AL-MAUDHU’IYYAH
MUKTAMAR KE-32 NAHDLATUL ULAMA
di Asrama Haji Sudiang Makassar
Tanggal 06-13 rabiul Akhir 1431 H/22-29 Maret 2010

26. Format Penetapan Bahtsul Masail

A. Deskripsi masalah
     Itsbath al-ahkam dalam NU selama ini tidak dimaksudkan sebagai aktifitas menetapkan hukum yang secara langsung bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits, karena yang bisa melakukan ini adalah ulama yang masuk kategori mujtahid. Itsbat al-ahkam dalam konteks ini dimaksudkan sebagai penetapan hukum dengan cara mentathbiq-kan (mencocokkan/menerapkan) secara tepat dan dinamis dari qaul dan ‘ibarah terutama dalam kutub mu’tabarah di lingkungan madzhab Imam Syafi’i.
     Dalam Munas Alim Ulama di Lampung tahun 1992, Ulama NU merumuskan perkembangan penting dari sistem itsbat al-ahkam. Ketika itu mulai diintrodusir ijtihad manhaji meskipun belum sepenuhnya mampu diaplikasikan dalam bahtsul masail. Dalam Munas tersebut dirumuskan prosedur dan langkah-langkah penetapan hukum.
     Dalam Muktamar NU ke-31 di Donohudan Solo ada perkembangan baru, yaitu sejumlah ayat al-Quran dan al-Hadits dicantumkan dalam setiap jawaban persoalan hasil bahtsul masail. Tradisi demikian, nyaris tidak pernah dilakukan dalam bahtsul masail NU sebelumnya. Disamping itu, dalam Munas Alim Ulama di Surabaya tahun 2006, Ulama NU membuat pengelompokan kutub mu’tamadah di semua madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali).

B. Pertanyaan
  1. Apakah perlu mencantumkan ayat al-Quran, al-Hadits, dan dalil-dalil syara’ lainnya dalam bahtsul masail NU?
  1. Jika memang diperlukan mencantumkan ayat al-Quran, al-Hadits dan dalil-dalil syara’ lainnya, bagaimana formatnya? Apakah menggunakan urutan sesuai tingkat kekuatannya, yaitu al-Quran, al-Hadits, dan dalil-dalil syara’ lainnya kemudian aqwal al-ulama, ataukah aqwal al-ulama baru kemudian ayat al-Quran, al-Hadits, dan dalil-dalil syara’ lainnya?
  1. Sejauh mana muqaranah al-madzahib diperlukan dalam bahtsul masail NU dengan menggunakan kutub mu’tamadah yang telah dirumuskan dalam Munas Alim Ulama NU di Surabaya?
C. Jawaban
  1. Pencantuman ayat al-Quran, al-hadits, dan dalil-dalil syara’ lainnya diperlukan dalam setiap jawaban, karena pada hakikatnya setiap hukum pasti berdasarkan al-Qur’an, al-Hadits dan dalil-dalil syara’ lainnya, dengan ketentuan bahwa ayat al-Qur’an, al-Hadits dan dalil-dalil syara’ lainnya tersebut merupakan bagian dari pendapat Ulama yang terdapat dalam kutub mu’tamadah. Hal ini karena Ulama NU menyadari, bahwa yang mampu berijtihad langsung dari al-Qur’an, al-hadits dan dalil-dalil syara’ lainnya adalah para mujtahid, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab, diantaranya Tarsyih al-Mustafidin.
  1. Aqwal al-ulama didahulukan, baru kemudian dilengapi dengan ayat al-Qur’an beserta tafsirnya, al-Hadits beserta syarhnya, dan dalil-dalil syara’ lainnya. Karena al-Qur’an dan dalil-dalil syara’ lainnya dalam pandangan Ulama NU tidak dijadikan sebagai dalil yang mandiri, tetapi merupakan bagian dari ijtihad ulama.
  1. Muqaranah al-Madzahib dalam madzhab empat diperlukan untuk memperoleh pendapat yang ansab (lebih sesuai) dengan tetap berpegang pada prinsip عَدَمُ تَتَبُّعِ الرُّخَصِ (tidak ada maksud mencari kemudahan) sejalan dengan AD NU tentang prinsip bermadzhab.

Hukum Memilih Pejabat Dari Kalangan Non Muslim - Keputusan Muktamar NU

KEPUTUSAN BAHTSUL MASA'IL AL-DINIYAH AL-WAQI'IYYAH 
MUKTAMAR XXX NU
DI PP. LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR
TANGGAL 21 s/d 27 NOPEMBER 1999

A. Pertanyaan
   Bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam?

B. Jawaban
   Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non Islam kecuali dalam keadaan darurat, yaitu:
a. Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsung atau tidak langsung karena faktor kemampuan.
b. Dalam bidang-bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat.
c. Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non Islam itu nyata membawa manfaat.
   Catatan: Orang non Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahl al-dzimmah dan harus ada mekanisme kontrol yang efektif.

C. Dasar Pengambilan Hukum
1. Al-Quran Al-Karim

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

"dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (QS: An-Nisaa Ayat: 141)

2. Tuhfah al-Muhtaj dan Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 72

ولا يستعان عليهم  بكافر ) ذمي أو غيره إلا إن اضطررنا لذلك
قول المتن: ولا يستعان إلخ) أي يحرم ذلك اه. سم, عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة

3. awasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 73

 نعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين

4. Kanz al-Raghibin dan Hasyiyah al-Qulyubi, Jilid IV, h. 156

ولا يستعان عليهم بكافر) لأنه يحرم تسليطه على المسلمين
قوله: ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة

5. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 22

والوزارة على ضربين وزارة تـفويض ووزارة تـنـفيذ. اما وزارةالتـفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبـير الأمور برأيه وإمـضاء ها على اجتـهاده

6. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 23

واما وزارة التـنـفيـذ فحكمها اضعـف وشروطها اقل لأن النـظر فيها مقـصور على رأي الإمام وتـدبـيره  

Hukum Transaksi Bisnis dan Pernikahan Melalui Media Telekomunikasi - Keputusan Muktamar NU

KEPUTUSAN KOMISI BAHTSUL MASAIL AD-DINIYYAH AL-MAUDHU'IYYAH
MUKTAAR KE-32 NAHDLATUL ULAMA
Di Asrama Haji Sudiang Makassar
Tanggal 06-13 Rabiul Akhir 1432 H/22-29 Maret 2010

27. Dhawabith Ittihad al-Majlis
(Ketentuan Satu Majlis)

A. Deskripsi Masalah
   Secara umum, istilah ittihad al-majlis berarti kesatuan tempat, dan besar sekali pengaruhnya terhadap akad/transaksi jual beli dan nikah dalam sisi ijab kabul.
   Seiring dengan perkembangan teknologi saat ini, konsep ittihad al-majlis dalam jual beli mengalami pergeseran. Banyak terjadi akad jual beli tidak dalam satu tempat, seperti jual beli ekspor/impor dengan menggunakan media telekomunikasi modern, misalnya, via teleconference, telepon, faksimile, email, layanan pesan singkat (SMS). Begitu juga dalam akad munakahah, menggunakan media seperti yang telah disebutkan.
   Pada prinsipnya, setiap akad harus jelas ijab kabulnya, dan media komunikasi modern ternyata mampu memberikan jaminan kejelasan antara ijab dan qabul.

B. Pertanyaan
1. Bagaimana pandangan Islam tentang akad bai' dan munakahat dengan menggunakan media telekomunikasi modern, misalnya teleconference, telepon, suarat elektronik (email), layanan pesan singkat (SMS) maupun faksimile?
2. Apa batasan (dhawabith) ittihad al-majlis, apakah satu tempat, satu waktu atau satu session?
3. Kapan muta'aqidain (kedua pihak yang bertransaksi) dikatakan berpisah, sehngga menggugurkan hak khiyar al-majlis?

C. Jawaban
1. Akad jual beli dengan cara tersebut duatas dianggap fi hukm ittihad al-majlis sehingga akad jual belinya sah karena masing-masing muta'aqidain saling mengetahui serta mengetahui obyeknya (al-mabi') sehingga tidak terjadi gharar (ketidakjelasan), dengan begitu akan terealisasi ijab dan qabul yang taradhin (suka sama suka). Sementara untuk munakahat, ketentuan di atas tidak berlaku.
2. Ittihad al-majlis bisa bermakna ittihad al-zaman (satu waktu), ittihad al-makan (satu lokasi), dan ittihad al-haiah (satu posisi). Perbedaan tempat yang disatukan dengan media komunikasi modern, membuat dua tempat yang berjauhan itu bisa dianggap menyatu (ta'addud al-makan fi manzilah ittihad al-makan).
3. Ittihad al-majlis dianggap berakhir apabila:
   a. Alat komunikasi yang menghubungkan muta'aqidain berakhir.
   b. Berdasarkan 'urf (adat kebiasaan) akad dianggap erakhir, misalnya pembicaraan beralih ke persoalan lain.

D. Dasar Penetapan
Aqwal Ulama
1. Raudhah al-Thalibin wa 'Umdah al-Muftin, (Beirut: a-Maktab al-Islami, 1405 H), Juz VII, h. 381

فرع المراد بالمجلس الذي يشترط فيه الاعطاء مجلس التواجب وهو ما يحصل به الارتباط بين الايجاب والقبول، ولا نظر إلى مكان العقد

2. Raudhah al-Thalibin wa 'Umdah al-Muftin, (Beirut: a-Maktab al-Islami, 1405 H), Juz VII, h. 395

الركن الخامس الصيغة ولا بد منها ويشترط أن لا يتخلل بين الإيجاب والقبول كلام أجنبي فإن تخلل كلام كثير بطل الارتباط بينهما وإن تخلل كلام يسير لم يضر على الصحيح

3. Badai' al-Shanai' fi Tartib al-Syarai', Juz V hal. 137
فصل: وأما الذي يرجع إلى مكان العقد فواحد وهو اتحاد المجلس بأن كان الإيجاب والقبول في مجلس واحد فإن اختلف المجلس لا ينعقد حتى لو أوجب أحدهما البيع فقام الآخر عن المجلس قبل القبول أو اشتغل بعمل آخر يوجب اختلاف المجلس ثم قبل لا ينعقد لأن القياس أن لا يتأخر أحد الشطرين عن الآخر في المجلس لأنه كما وجد أحدهما انعدم في الثاني من زمان وجوده فوجد الثاني والأول منعدم فلا ينتظم الركن إلا أن اعتبار ذلك يؤدي إلى انسداٍٍٍد باب البيع فتوقف أحد الشطرين على الآخر حكما وجعل المجلس جامعا للشطرين مع تفرقهما للضرورة وحق الضرورة يصير مقتضيا ثم اتحاد المجلس فإذا اختلف لا يتوقف وهذا عندنا وعند الشافعي رحمه الله الفور مع ذلك شرط لا ينعقد الركن بدونه

4. Al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1990), Juz IV, h. 16

رابعها: أن تكون الصيغة مسموعة للعاقدين فلا بد أن يسمع كل من العاقدين لفظ الآخر إما حقيقة كما إذا كانا حاضرين أو حكما كالكتاب من الغائب لأن قراءته قامت مقام الخطاب هنا

5. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), Juz IV, h. 106

اتصال القبول بالإيجاب: بأن يكون الإيجاب والقبول في مجلس واحد إن كان الطرفان حاضرين معا، أو في مجلس علم الطرف الغائب بالإيجاب. ويتحقق الاتصال بأن يعلم كل من الطرفين بما صدر عن الآخر بأن يسمع الإيجاب ويفهمه، وبألا يصدر منه ما يدل على إعراضه عن العقد، سواء من الموجب أو من القابل. ومجلس العقد: هو الحال التي يكون فيها المتعاقدان مشتغلين فيه بالتعاقد. وبعبارة أخرى: اتحاد الكلام في موضوع التعاقد

6. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), Juz IV, h. 106

ليس المراد من اتحاد المجلس المطلوب في كل عقد كما بينا كون المتعاقدين في مكان واحد، لأنه قد يكون مكان أحدهما غير مكان الآخر، إذا وجد بينهما واسطة اتصال، كالتعاقد بالهاتف أو اللاسلكي أو بالمراسلة (الكتابة) وإنما المراد باتحاد المجلس: اتحاد الزمن أو الوقت الذي يكون المتعاقدان مشتغلين فيه بالتعاقد ، فمجلس العقد: هو الحال التي يكون فيها المتعاقدان مقبلين على التفاوض في العقد  ، وعن هذا قال الفقهاء "إن المجلس يجمع المتفرقات". وعلى هذا يكون مجلس العقد في المكالمة الهاتفية أو اللاسلكية: هو زمن الاتصال ما دام الكلام في شأن العقد، فإن انتقل المتحدثان إلى حديث آخر انتهى المجلس