Dosa yang sudah terlampau banyak, masihkah bisa diampuni?



Pertanyaan:
Assalamu'alaikum....
Saya ingin bertanya, ketika seseorang telah berbuat 3 maksiat; zina,mabuk dan judi, apakah masih ada harapan untuk pintu taubat? dan apakah sudah terlalu besar dosa yg dia lakukan, baik dilakukan secara sengaja maupun tidak?.
Di lingkungan saya byak sekali terjadi,tolong ya penjelasannya..

(Dari: Wahid X-friend Jamby)


Jawaban:
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Sebesar apapun dosa, sebanyak apapun dosa meski sampai memenuhi rongga antara langit dan bumi asal mau bertaubat dengan sungguh-sungguh Allah akan mengampuni dosa seseorang yang telah berbuat dosa. Dalam satu hadits diriwayatkan;   

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

"Dari Anas bin Malik Radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selagi engkau berdoa kepadaKu dan memohon kepadaKu, maka akan Aku ampuni engkau, Aku tidak perduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepadaKu niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan ampunan sepenuh itu pula". (Sunan Turmudzi, No.3540)

Dengan catatan selama bukan berupa syirik (menyekutukan Allah), sebagaimana firman-Nya;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni perbuatan syirik dan akan mengampuni yang selain itu bagi orang yang dikehendaki" (QS. An-Nisa' : 48 & 116)

Terakhir, ada satu kisah menarik dari nabi yang menunjukkan betapa luasnya ampunan allah bagi orang yang mau bertaubat;

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ، فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ، وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ، فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ، فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ، فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ   

"Dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya Nabiyullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; 'Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.' Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; 'Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ' Orang alim itu menjawab; 'Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.' Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; 'Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.' Malaikat Azab membantah; 'Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.' Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; 'Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.' Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat". (Shahih Muslim, no.2766).

Wallahu a'alam.

(Dijawab oleh: Lafeek Ziyan Zeek,  Aslim Tas'ad Sie Pengajian, Al Murtadho, Ibnu Lail dan Siroj Munir)

Anjuran untuk mengubur potongan kuku dan rambut




Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr wb
Saya mau bertanya; kalau kita memotong kuku atau pangkas rambut,apakah potongan tersebut harus di kubur atau di buang begitu saja bercampur dengan sampah.?

( Dari : Ahmad Kakange Jafar )


Jawaban :

Wa’alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh

Potongan kuku dan rambut disunatkan untuk dikubur menurut pendapat yang disepakati oleh ulama’-ulama’ ashab madzhab syafi’i sebagaimana dituturkan Imam Nawawi dalam “Al-Majmu’”. Alasannya adalah karena potongan kuku dan rambut tersebut adalah bagian dari tubuh manusia, sebagaimana manusia yang telah mati dimuliakan dengan dikuburkan mayitnya begitu juga bagian tubuh yang terpisah juga dimuliakan dengan cara dikuburkan. Alloh berfirman;

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Dan telah kami muliakan bani Adam” (Al-Isro’ : 70)

Meski dikatakan bahwa hadits-hadits yang menjelaskan mengenaimasalah ini adalah hadits dho’if, namun dalil yang mendasari pendapat disunahkannya mengubur potongan kuku dan rambut adalah atsar yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhu. Dalam kitab “Su’alat Muhannan” dijelaskan;

َقَالَ مُهَنَّا سَأَلْت أَحْمَدَ عَنْ الرَّجُلِ يَأْخُذُ مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ أَيَدْفِنُهُ أَمْ يُلْقِيهِ ؟ قَالَ يَدْفِنُهُ قُلْت بَلَغَكَ فِيهِ شَيْءٌ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ

“Muhannan berkata; “Aku bertanya pada Imam Ahmad mengenai seorang laki-laki yang memotong/rambut dan kuku-kunya apakah ia kuburkan atau ia buang?” beliau menjawab; “dikuburkan” aku bertanya lagi; “Adakah satu riwayat yang menjelaskan hal ini?” beliau menjawab; “Ibnu Umar melakukannya”.

Selain itu, Ibnu Abi Syaibah dalam “Mushonnaf”-nya menuturkan beberapa atsar yang menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan oleh Muhammad, Mujahid, Hisyam, dan Al-Qosim, berikut ini riwayat-riwayatnya;

عَنْ هِشَامٍ: أَنَّ مُحَمَّدًا: كَانَ إِذَا قَلَّمَ أَظْفَارَهُ دَفَنَهَا

“Dari Hisyam; bahwasanya Muhammad ketika memotong kukunya, mengubur (potongan) kuku-kukunya tersebut” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.25658)

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُهَاجِرٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ: أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَلَّمَ أَظْفَارَهُ دَفَنَهَا، أَوْ أَمَرَ بِهَا , فَدُفِنَتْ

“Dari Ibrohim bin Muhajir dari Mujahid; bahwasanya beliau ketika memotong kukunya, mengubur (potongan-potongan ) kuku tersebut atau menyuruh orang untuk menguburnya”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.25662)

عَنْ مَهْدِيٍّ، قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ يَوْمَ جُمُعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَدَعَا بِمِقْصَرٍ فَقَلَّمَ أَظْفَارَهُ فَجَمَعَهَا، قَالَ مَهْدِيٌّ: فَأَنْبَأَنَا هِشَامٌ: أَنَّهُ كَانَ يَأْمُرُ بِهَا أَنْ تُدْفَنَ

“Dari Mahdi, beliau berkata; “Aku menemui Muhammad bin Sirin pada hari jum’at setelah ashar, kemudian ia meminta alat pemotong lalu memotong kuku-ku beliau, kemudian beliau mengumpulkanya”. Mahdi berkata; “Hisyam menceritakan kepadaku bahwa beliau memerintahkan untuk mengubur kuku-kuku tersebut”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.25664)

عَنْ أَفْلَحَ، عَنِ الْقَاسِمِ: أَنَّهُ كَانَ يَدْفِنُ شَعْرَهُ بِمِنًى

“Dari Aflah, dari Al-Qosim; bahwasanya beliau mengubur rambutnya di Mina”
(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, no.25663)

Adapun salah satu hikmah disunahkannya mengubur bagian dari tubuh yang telah terpisah adalah agar bagian tubuh yang terpisah tersebut tidak digunakan sebagai media untuk menyihir pemilik potongan tubuh tersebut. Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Abdy Manaf El-Muchaveeydzooch, Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Al-Majmu’, Juz : 1  Hal : 289 - 290
2. Asnal Matholib, Juz : 1  Hal : 313
3. Fathul Bari Syarah Bukhori, Juz : 10  Hal : 346
4. Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 5  Hal : 241

Ibarot :
Al-Majmu’, Juz : 1  Hal : 289 - 290


فرع: يستحب دفن ما أخذ من هذه الشعور والأظفار ومواراته في الأرض نقل ذلك عن ابن عمر رضي الله عنهما واتفق عليه أصحابنا وسنبسطه في كتاب الجنائز حيث ذكره الأصحاب إن شاء الله تعالى

Asnal Matholib, Juz : 1  Hal : 313

وَيُسْتَحَبُّ دَفْنُ مَا انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ) لَمْ يَمُتْ فِي الْحَالِ أَوْ مِمَّنْ شَكَكْنَا فِي مَوْتِهِ (كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ وَدَمِ فَصْدٍ وَنَحْوِهِ) إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا

Fathul Bari Syarah Bukhori, Juz : 10  Hal : 346

وفي سؤالات مهنا عن أحمد قلت له يأخذ من شعره وأظفاره أيدفنه أم يلقيه قال يدفنه قلت بلغك فيه شيء قال كان بن عمر يدفنه وروي أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بدفن الشعر والأظفار وقال لا يتلعب به سحرة بني آدم قلت وهذا الحديث أخرجه البيهقي من حديث وائل بن حجر نحوه وقد استحب أصحابنا دفنها لكونها أجزاء من الآدمي والله أعلم

Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Juz : 5  Hal : 241

ما يؤمر به الرجل إذا احتجم، أو أخذ من شعره، أو قلم أظفاره، أو قلع ضرسه

حدثنا عفان، قال: حدثنا محمد بن دينار، عن هشام: أن محمدا: كان إذا قلم أظفاره دفنها -إلى أن قال
حدثنا الفضل بن دكين، عن حسن بن صالح، عن إبراهيم بن مهاجر، عن مجاهد: أنه كان إذا قلم أظفاره دفنها، أو أمر بها , فدفنت
حدثنا أبو بكر الحنفي، عن أفلح، عن القاسم: أنه كان يدفن شعره بمنى
حدثنا أبو أسامة، عن مهدي، قال: دخلنا على محمد بن سيرين يوم جمعة بعد العصر، فدعا بمقصر فقلم أظفاره فجمعها، قال مهدي: فأنبأنا هشام: أنه كان يأمر بها أن تدفن