Template information

BIOGRAFI IMAM IZZUDDIN IBNU ABDISSALAM (Bagian kedua)



Karir Intelektual Imam Izzuddin

Setelah imam izzuddin belajar kepada guru-guru tersebut, beliau mulai kehidupan intelektual beliau dengan mengajar, berfatwa dan menjadi khothib. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci kegiatan-kegiatan beliau tersebut.

Pertama;  Mengajar

Selama beliau tinggal di Damaskus, beliau mengajar dibeberapa madrasah, diantaranya :

1. Madrasah Al-‘Aziziyah
Imam Izzuddin ditetapkan sebagai staf pengajar dimadrasah ini, yang juga merupakan tempat mengajar guru beliau, Imam Al-Amidi, beliau sudah mulai mengajar ditempat ini saat guru beliau itu juga masih mengajar disana.

2.  Zawiyah Al-Ghozaliyah
Zawiyah Al-Ghozaliyah adalah sebiah tempat kecil yang berada disalah satu sudut masjid jami’ al-umawi (zawiyah artinya pojokan). Tempat ini dinamakan zawiyah al-ghozaliyah karena sering dipakai oleh imam Ghozali sebagai tempat i’tikaf dan juga mengajar murid-muridnya. Tempat ini merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat mengajar oleh beberapa ulama’ besar pada masa itu. Imam Izzuddin ditetapkan oleh Sultan Al-Kamil sebagai pengajar ditempat itu menggantikan Syaikh Jamaluddin bin Muhammad Ad-Daula’i  yang telah wafat.

Kedua; Berfatwa

Pada masa beliau memberikan fatwa bukanlah tugas resmi dimana pemerintah menetapkan seseorang menjadi mufti yang memiliki tugas khusus untuk memberikan fatwa, Berfatwa adalah tanggung jawab moral yang dijalankan oleh seorang ulama’ yang sudah ahli, wira’i dan bertakwa. Jika ada orang yang sudah memenuhi kriteria tersebut maka masyarakat dengan sendirinya akan mendatangi orang tersebut untuk dimintai fatwa mengenai satu permasalahan. Jadi pada masa beliau berfatwa bukanlah tugas dari pemerintah namun murni karena Allah semata.

Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, imam izzuddin sangat terpengaruh dengan ketegasan guru-gurunya dalam berfatwa dan tak memperdulikan jika pendapat beliau bertentangan dengan penguasa.

Dikisahkan bahwa beliau memiliki pendapat yang berbeda dengan Sultan Al-Asraf mengenai masalah hakikat al-qur’an, yang pada kurun itu merupakan salah satu masalah yang menyebabkan fitnah yang sangat besar dikalangan kaum muslimin. Beberapa orang yang mengetahui bahwa pendapat beliau berbeda dengan sultan sengaja mengajukan pertanyaan tersebut kepada imam izzuddin, dan nanti jawaban itu akan disampaikan kepada sang raja. Saat orang-orang itu menghadap beliau berkata; “permintaan untuk menulis fatwa mengenai masalah ini adalah ujian bagiku, demi Allah aku hanya akan menulis pendapat yang haq”.

Lalu beliau menulis kitab beliau yang masyhur “Milhatul I’tiqod”. Ketika kitab itu dibaca oleh Sultan Asyraf, ia marah dan menuliskan jawaban dari kitab fatwa tersebut, setelah sampai pada imam izzuddin, jawaban sang raja diminta untuk dikembalikan lagi. Hal ini membuat sultan marah besar lalu mengutus perdana menterinya yang bernama Al-Ghoroz untuk mendatangi imam izzuddin dan memberitahukan 3 keputusan yang diberlakukan bagi beliau, yaitu; larangan memberikan fatwa, tidak boleh bertemu dengan siapapun dan tidak boleh keluar rumah.

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Al-Ghoroz, imam izzuddin berkata : “Wahai Ghoroz, 3 ketetapan itu adalah nikmat yang sangat besar dari Allah kepadaku, yang wajib disyukuri selamanya. Aku memberikan fatwa secara suka rela dan sebenarnya aku tidak menyukainya karena aku berkeyakinan bahwa seorang mufti berada ditepi neraka jahannam, jika saja bukan karena aku meyakini bahwa tugas ini merupakan kewajiban dari Allah yang harus aku emban dimasa ini tentu aku tak akan mengerjakannya, dan sekarang aku telah memiliki udzur untuk tidak melaksanakan tugas tersebut dan aku terbebas dari tanggunganku, jadi aku patut berucap Alhamdulillah.

Wahai Ghoroz, ketetapan agar aku tetap dirumah merupakan suatu keberuntungan bagiku, karena keadaan itu adalah kesempatan bagiku untuk menghabiskan waktu beribadah kepada Allah, karena orang yang beruntung adalah orang yang tetap tinggal didalam rumah,  menangisi segala kesalahan yang telah diperbuat dan menyibukkan diri beribadah kepada Allah. Sultan member keputusan itu karena marah sedangkan aku yang menerimanya malah senang.

Demi Allah, wahai Ghoroz, andai saja aku memiliki mahkota yang pantas untukmu akan aku lepas dan kuberikan padamu sebagai imbalan surat yang berisi kabar gembira dari sang raja, ambillah sajadah ini dan pakailah untuk sholat. Setelah beliau menyerahkan sajadah itu Ghoroz kembali keistana untuk menghadap sultan dan menyampaikan semua yang dikatakan imam izzuddin. Mendengar cerita itu sang raja berkata kepada orang-orang yang hadir disityu; “Coba katakana kepadaku, apa yang harus aku lakukan kepada dia, lelaki ini menganggap hukuman sebagai nikmat”.

Keadaan imam izzuddin yang dilarang berfatwa, tidak boleh bertemu siapa siapa dan keluar dari rumah berlangsung selama 3 hari, hingga akhirnya Syaikh Al-Allamah Jamaluddin Al-Hushoiri, seorang ulama’ pembesar madzhab Hanafi dimasa itu menghadap kepada sultan Al-Asyraf. Syaikh Jamaluddin berkata pada sultan; “Apa yang terjadi antara anda dan Ibnu Abdissalam, orang ini adalah seorang lelaki yang jika saja ia berada di negeri india atau berada diujung dunia, sudah sepantasnya bagi seorang sultan untuk pergi menghadap kepadanya, dan memintanya untuk tinggal dinegerinya agar negerinya bertambah berkah, dan agar negerinya berbangga karena ada seorang ulama’ besar yang tinggal dinegeri itu”.

Sultan berkata; “Saya memiliki tulisan fatwanya mengenai masalah aqidah, juga satu tulisan lagi yang ditulis sebagai jawaban atas satu pertanyaan”. Lalu sang sultan memperlihatkan kedua tulisan tersebut dan membacanya dari awal sampai akhir, setelah membacanya Syaikh Jamaluddin berkata; “Ini adalah i’tiqod dan keyakinan semua orang islam dan merupakan syi’ar orang-orang sholih, semua yang tertulis disitu adalah benar”.

Mendengar pernyataan dari Syaikh Jamaluddin sang sultan mengakui kesalahannya lalu berucap; “Kami memohon ampun pada Allah atas segala yang telah terjadi dan kami akan membayar kesalahan kami dengan memberikan hak beliau”. Setelah kejadian itu sultan meminta maaf kepada belimam izzuddin. Semenjak saat itu sang sultan menuruti semua fatwa beliau dan meminta pertimbangan beliau sebelum mengambil keputusan.

Pada saat sang sultan sakit parah dan merasa bahwa ajlnya sudah dekat, sultan memanggil imam izzuddin untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat kepada san imam dan meminta beliau untuk memberikan nasehat. Memenuhi permintaan sultan, imam izzuddin memberikan nasehat untuk membatalkan pengiriman bala tentara yang telah disiapkan untuk memerangi saudara sultan Al-Asyraf yaitu sultan Al-Kamil yang berkuasa di Mesir, dan mengalihkan tentara tersebut untuk memerangi tentara Tartar yang menjadi musuh bersama, kala itu tentara Tartar sudah mulai mulai menguasai bagian timur Negara-negara islam. Sultan Asyraf mematuhi nasehat dan saran dari imam Izzuddin lalu mengirimkan pasukan untuk memerai tentara tartar.

Selain itu imam izzuddin memberikan nasehat kepada sultan agar menindak tegas para pegawainya yang berzina, suka mabuk-mabukan, meminta pungutan liar dari kaum muslimin dan bersikap dholim pada warga, beliau meminta sultan untuk memberantas semua itu. Beliau juga bercerita pada sultan bahwa sebagian dari hal-hal tersebut telah mampu beliau hilangkan dengan usahanya.

Setelah mendengar semua nasehat dari sang imam, sultan Asyraf berkata; “Semoga Allah membalas atas jasa anda pada agama dan atas semua nasehat yang telah anda beikat, dan semoga Allah mengumpulkan aku dengan anda kelak disurga”, lalu sang sultan memberikan uang 1000 dinan mesir namun beliau menolaknya seraya berkata ; “Pertemuan kita ini adalah murni karena Allah, karena itu aku tak akan mengotorinya dengan urusan dunia”.

Setelah meninggalnya Sultan Asyraf, kepemimpinan beralih kepada wakilnya yaitu Sultan Ismail. Maka Sultan Isma’il yang pada akhirnya menjalankan nasehat dari Imam Izzuddin untuk menindak pegawai-pegawai pemerintah yang suka melakukan kemungkaran.

Ketegasan imam izzuddin dalam memberikan fatwa juga ditampakkan pada masa pemerintahan Sultan Isma’il, beliau menentang kebijakan Sultan isma’il yang bersekongkol dengan tentara salib dan meminta bantuan mereka untuk berperang melawan Sultan Najmuddin Ayyub bin Kamil yang berkuasa di Mesir, tentu saja bantuan dari tentara salib itu tidak diberikan dengan cuma-cuma, Sultan Isma’il menyerahkan beberapa benterng yang sebelumnya dikuasai kaum muslimin kepada tentara salib.

Selain itu tentara salib diperkenankan masuk ke Damaskus untuk membeli alat-alat perang yang akan digunakan untuk berperang menyerang mesir. Para pembuat persenjataan perang dan penjualnya datang kepada Imam Izzuddin untuk menanyakan hukum membuat dan menjual alat-alat perang kepada tentara salib yang bersekongkol dengan Sultan Isma’il. Maka Imam Izzuddin memberikan fatwa bahwa hal tersebut dilarang, beliau berkata; “Diharamkan bagi kalian menjual pedang alat-alat perang kepada mereka, sebab kalian telah yakin bahwa mereka akan menggunakannya untuk memerangi saudara-saudara kalian sendiri yang sama-sama beragama Islam”. Fatwa inilah yang membuat sang raja marah besar pada beliau, namun Imam Izzuddin tak memperdulikan hal tersebut, karena bagi beliau memang fatwa itulah yang seharusnya diberikan.

Keahlian dan ketegasan beliau dalam berfatwa itulah yang membuat nama beliau dikenal dimana-mana, sampai sampai beberapa orang sengaja datang jauh-jauh menghadap beliau hanya untuk meminta fatwa. Kemasyhuran beliau juga sampai kenegeri Mesir sebelum akhirnya beliau pindah kesana, ini terbukti ketika beliau pindah ke Mesir, ulama’ yang menjadi mufti disana, yaitu Al-Hafidh Al-Mundhiri sudah tak mau lagi memberikan fatwa, Imam Al-Mundhiri memberikan alas an; “Aku memberikan fatwa sebelum Syaikh Izzuddin datang, jika beliau telah datang maka beliau yang lebih pantas untuk menjadi mufti”.

Ketiga; Menjadi Khothib

Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam menjadi khothib di masjid jami’ Al-Umawi pada masa pemerintahan Sultan isma’il, beliau mulai ditetapkan sebagai khothib pada bulan robi’ul awwal tahun 637 H. Pada saat menjadi khothib beliau menghilangkan beberapa hal yang beliau anggap sebagai perbuatan bid’ah, seperti mengetokkan pedang kemimbar, memakai pakaian hitam, menggunakan kalimat-kalimat yang diperindah yang terlalu dipaksakan dan pujian kepada para sultan. Pujian-pujian kepada sultan yang biasanya diucapkan ketika khutbah beliau ganti dengan do’a untuk mereka.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Imam Izzuddin menentang keras kebijakan sultan yang akan memerangi saudaranya sendiri, penguasa mesir dengan meminta bantuan tentara salib, dan beliau memberikan fatwa agar para penjual perlengkapan perang tidak menjualnya kepada tentara salib. Selain memberikan fatwa yang sangat berani, dalam khutbahnya beliau menyindir sang sultan dalam khutbah yang beliau sampaikan di Masjid jami’ Umayyah. Beliau mengucapkan do’a tidak seperti biasanya, beliau berdo’a;

اللهم أبرم لهذه الأمة أمرا رشدا تعز فيه وليك وتذل به عدوك ويعمل فيه بطاعتك وينهى فيه عن معصيتك

“Ya Allah, kuatkanlah umat ini dengan aturan yang benar, yang akan memuliakan kekasihMu dan merendahkan musuhMu, mengamalkan ketaatan kepadaMu dan mencegah berbuat maksiat kepadaMU”.

Ketika beliau menyampaikan khutbah itu sang sultan sedang berada diluar Damaskus, lalu setelang Sang Sultan diberikan kabar akan hal itu ia semakin marah karena do’a itu jelas jelas menyindirnya, karena itulah ia mengeluarkan keputusan untuk memberhentikan imam izzuddin sebagai khotib dan menghukum beliau dengan hukuman tahanan. Namun setelah sultan kembali ke Damaskus atas berbagai pertimbangan ia memutuskan untuk melepaskan imam izzuddin. Dan setelah imam izzuddin keluar dari tahanan beliau pergi ke Baitul Maqdis dan berencana untuk pindah ke Mesir.

Biografi Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam (Bagian 1)



Nama, Nasab dan Nisbat

Abu Muhammad, Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam bin Abul Qosim bin Al-Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab As-Sulmi Al-Maghrobi Ad-Damasyqi Al-Mishri Asy-Syafi’i, begitulah nama, nasab dan nisbat beliau.

Nama asli Imam Izzuddin adalah Abdul Aziz, Abu Muhammad adalah kunyah beliau, sedangkan “izzuddin”, yang artinya “kebanggaan agama” adalah laqob (julukan/gelar) beliau. Pemberian gelar dengan tambahan “ad-din” (agama) sedang masyhur dikala itu, banyak para ulama’ dan para pemimpin menambahkan kata tersebut dalam gelar mereka, sebut saja semisal Sholahuddin Yusuf, Ruknuddin Adzdzohir Beibres, Tajuddin Abdul Wahab bin Bintul Al’A’azz, dan lainnya. Namun biasanya penyebutan nama beliau disingkat dengan “Al-‘Izz bin Abdussalam”.

Selain gelar izzuddin, beliau juga diberi gelar “Sulthonul Ulama’” yang artinya sultan/raja  dari para ulama’, gelar ini dipopulerkan oleh murid beliau, Imam Ibnu Daqiq Al-’Id. Kemungkinan gelar ini disematkan pada nama beliau lantaran beliau dikenal sebagai seorang ulama’ yang berani menentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tak sejalan dengan ajaran agama, dan mendatangi para penguasa untuk menyampaikan hujah-hujah beliau dihadapan mereka.

Adapun nisbat As-Sulmi (huruf sin-nya dibaca dhommah, sebagaimana yang tertera pada lampiran pertama naskah kitab tafsir brliau, dan juga sebagaimana dikemukakan dalam beberapa sumber yang menjelaskan biografi beliau) mengarah pada satu kabi;lah yang bernama Bani Sulaim, salah satu kabilah yang masih dari kabilah-kabilah Mudhor.

Daerah asal nenek moyang beliau adalah daerah Maghrib (Maroko) karena itu terdapat kata “Al-Maghrobi” pada nisbat beliau. Lalu nenek moyang beliau pindah ke Damaskus, dan disitulah beliau dilahirkan, makanya beliau diberi nisbat “Ad-Damasyqi”. Sedangkan nisbat “Al-Mishri” dicantumkan dalam nama beliau sebab beliau pindah ke Negara mesir dan menetap disana. Adapun nisbat “Asy-Syafi’i” sudah maklum kiranya sebab beliau merupakan pengikut madzhab Syafi’i meskipun dalam beberapa hal beliau memiliki pendapat yang berseberangan dengan madzhab syafi’i.

Kelahiran dan Perkembangan

Semua sumber sejarah yang mencantumkan biografi beliau sepakat bahwa beliau dilahirkan di Damaskus, Syiria, hanya saja terdapat dua pendapat berbeda mengenai tahun kelahiran beliau, ada yang menyatakan beliau lahir pada tahun 577 H. dan ada yang menyatakan beliau lahir pada tahun 578 H.

Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam dilahirkan dari keluarga miskin dan dari keturunan biasa, karena itulah sangat sedikit informasi yang didapat mengenai kehidupan masa kecil beliau dan sejarah nenek moyang beliau, karena memang beliau bukanlah keturunan seorang ulama’, orang terpandang, atau pemimpin pemeritahan. Syaikh Ibnu As-Subki mengisahkan, bahwa pada masa awal hidupnya Imam Izzuddin sangat faqir, karena itulah beliau baru mulai menuntut ilmu pada usiau tua.

Masa-Masa Menuntut Ilmu

Meskipun beliau baru mulai menuntut ilmu pada usia tua, namun beliau sangat bersemangat menghafalkan kitab dan giat belajar, dan secara berkala mengaji p[ada para ulama’ besar pada masa beliau, semua itu beliau lakukan untuk menebus masa kecil beliau yang tak sempat mengenyam pendidikan karena keadan keluarga beliau yang miskin.

Ketekunan dan ketelatenan beliau bisa kiuta lihat dari sikap beliau yang tak mau memutuskan pelajaran sebelum menyelesaikannya. Dikisahkan bahwa suatuketika guru beliau berkata; “Engkau sudah tidak membutuhkan apa-apa dariku lagi”, namun Imam Izzuddin tetap saja mengaji dengan tekun kepada sang guru dan mengikuti pelajaran sang guru hingga selesai kajian kitab yang diajarkan.

Ketekunan beliau juga dituunjukkan dengan jarangnya tidur pada malam hari, beliau pernah berkata bahwa selama 30 tahun beliau tidak tidur sebelum benar-benar memahami kitab yang sedang beliau pelajari. Selain itu lingkunagn dimana beliau tinggal, yaitu Damaskus pada waktu itu adalah kawasannya para ulama’, daerah yang dipenuhi ulama’-ulama’ yang masyhur dalam berbagai ilmu.

Guru - Guru Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam


1. Al-Qodhi Abdus Shomad Al-Harostani
Al-Qodhi Abdus Shomad bin Muhammad bin Ali bin Abdul Wahid bin Al-Harostani Al-Anshori Al-Khozroji Al-Ubadi As-Sa’di Ad-Damasyqi  merupakan seorang qodhi (hakim) yang dikenal adil, zuhud dan wira’i, beliau merupakan salah satu pembesar fuqoha’ madzhab syafi’i, imam izzuddin menceritakan bahwa gurunya ini hafal kitab “Al-Wasith” karya imam ghozali. Tak heran jika Imam Izzuddin begitu kagum pada gurunya tersebut, Imam Izzuddin sampai mengatakan; “Tak pernah aku melihat orang yang ahli fiqih seperti beliau”.

Al-Qodhi Abdus Shomad Al-Harostani dikenal sebagai seorang hakim yang sangat berani dan tegas dalam memberikan keputusan hukum, Dikisahkan suatu ketika ada dua orang yang mengadukan permasalahan yang menimbulkan pertikaian diantara keduanya, salah satu diantara mereka membawa surat dari sang raja yang ditujukan kepasa sang qodhi yang berisi wasiat kepada qodhi, namun ketika beliau menerima surat itu, beliau tidak membukanya, setelah mendengarkan keterangan dari kedua orang tersebut beliau memberikan keputusan bahwa orang yang membawa surat dari raja itulah yang benar. Setelah memberikan keputusan, sang qodhi baru membuka surat tersebut, lalu membacanya dan mengembalikannya kepada orang yang membawa surat tersebut, seraya berkata; “Kitabulloh (al-qur’an) telah telah memberikan keputusan pada kitab (surat) ini”. Apa yang beliau lakukan akhirnya sampai kepada raja, lalu sang raja berkata; “Dia benar, kitabulloh lebih utama dari kitabku”.

Keberanian gurunya inilah yang sangat membekas dan berpengaruh pada keperibadian imam izzuddin, ini nampak ketika kelak beliau mulai memberikan fatwa, seringkali fatwa beliau berseberangan dengan apa yang dikehendaki oleh para pemimpin-pemimpin daulah Mamalik di Mesir. Imam Izzuddin juga memiliki pendapat yang berseberangan dengan raja Najmuddin Ayyub hingga membuat sang raja marah besar.

2. Syaikh Saifuddin Al-Amidi
Dalam bidang ushul (ilmu tauhid), Imam Izzuddin belajar pada Syaikh Saifuddin Al-Amidi, seorang ulama’ yang dikenal sangat pandai dalam bidang ushul dan diskusi (munadhoroh). Imam Izzuddin sangat terpengaruh dengan Syaikh Al-‘Amidi dan mengagumi gurunya itu, Imam Izzuddin mengatakan; “Tak pernah aku mendengar orang yang menyampaikan pelajaran sebagus beliau”,  Imam Izzuddin juga pernah berkata; “Aku tidak mengetahui kaidah-kaidah berdiskusi kecuali dari beliau”.

3. Imam Fakhruddin bin ‘Asakir
Abu Manshur Abdurrohman bin Muhammad bin Al-Hasan bin Hibatulloh bin Abdulloh bin Al-Husain Ad-Damasyqi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Asakir merupakan guru imam izzuddin dalam bidang hadits dan fiqih madzhab syafi’i, seorang ulama’ yang dikenal wira’i dan zuhud. Beliau juga dikenal sebagai ulama’ yang sangat berani dalam memberikan fatwa dan tak perduli meskipun keputusannya itu bertentangan dengan keputusan yang dikeluarkan oleh raja, jika memang menurut beliau keputusan itu salah dan melanggar agama.. Beliau menolak dijadikan sebagai hakim ketika diminta oleh raja, dan mengatakan kepada sang raja; “Cari saja orang lain”.

Ketiga  ulama’ inilah guru-guru yang berpengaruh besar pada akhlak dan pola pemikiran beliau kelak. Selain ketiga ulama’ tersebut, Imam izzuddin juga belajar kepada beberapa ulama’ lainnya, diantaranya ;

4. Syaikh Al-Qosim bin ‘Asakir
Beliau adalah Al-Hafidh Baha’uddin Abu Muhammad Al-Qosim bin Al-hafidh Al-Kabir Abul Qosim boin Asakir.

5. Syaikh Abdullathif bin Syaikhus Syiuyukh

Beliau adalah Abul Hasan Dhiya’uddin Abdullathif bin Isma’il bin Syaikhus Suyukh Abu Sa’d Al-Baghdadi. Beliau merupakan guru imam izzuddin fdalam bidang hadits.

6. Syaikh Al-Khusyu’i
Beliau adalah Abu Thohir Barokat bin Ibrohim bin Thohir Al-Khusyu’i. Beliau merupakan guru imam izzuddin fdalam bidang hadits.

7. Syaikh Hanbal Ar-Rushofi
Beliau adalah Abu ‘Ali Hambal bin Abdulloh bin Al-Faroj bin Sa’adah. Beliau merupakan guru imam izzuddin fdalam bidang hadits.

8. Syaikh Umar bin Thobarzad
Beliau adalah Abu Hafsh Umar bin Muhammad bin Yahya, yang lebih dikenal dengan Ibnu Thobarzad Ad-Darqozi.

Biografi Imam Suyuthi (Bagian 2)






Guru-Guru Imam Suyuthi

Imam Suyuthi memiliki banyak sekali guru yang tak terrtandingi jumlahnya pada masa beliau hidup. Berikut ini nama-nama guru Imam Suyuthi yang paling masyhur baik laki-laki maupun perempuan;

A. Guru - Guru Laki-Laki

1. Syaikh Ahmad bn Ibrohim bin Nashr bin Ahmad bin Muhammad bin Abul Fath Al-Kinani Al-Asqolani Al-Qohiri Ash-Sholihi Al-Hanbali.

2. Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Abu Bakar Asy-Syarimsahi Asy-Syafi’i.

3. Syaikh Taqiyyuddin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Hasan bin Ali bin Yahya Ats-Tsumunni.

4. Syaikh Taqiyyuddin Asy-Syibli Al-Hanafi, beliau adalah guru Imam Suyuthi dalam bidang hadits.

5. Imam ‘Alamuddin Al-Bulquni; Sholih bin Umar bin Ruslan.

6. Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Wahid bin Abdulloh bin Muhammad Al-Izz bin At-Taj At-Takruri Asy-Syafi’i.

7. Syaikh Abul Fadl Abdul Aziz bin Muhammad bin Muhammad bin Al-Izz Al-Miqoti.

8. Syaikh Abdul Qodir bin Abul Qosim bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Mu’thi Al-Anshori As-Sa’di Al-Ubadi Al-Maliki.

9. Imam Jalaluddin Al-Mahalli; Muhammad bin Ahmad bin Ibrohim Al-Mahalli Asy-Syafi’i.

10. Syaikh Muhammad bin Sulaiman bin Sa’ad bin Mas’ud Ar-Rumi Al-Bar’Ami Al-Kafiji Al-Hanafi.

11. Imam Kamaluddin Al-Hammam Al-Hanafi; Muhammad bin Abdul Wahid bin Abdul Hamid Al-Iskandari. 

12. Imam Al-Munawi; Syarofuddin, Yahya bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad.

B. Guru - Guru Wanita

1.   Amatul Kholiq (Ummul Khoir). Beliau adalah seorang ahli hadits dan merupakan orang terakhir yang meriwayatkan Shohih Bukhori dari ulama’ Hijaz.

2. Amatul Aziz binti Muhammad bin Yunus Al-Amani. Beliau juga merupakan ahli hadits, Imam Suyuthi belajar kitab “Tsulatsiyatul Bukhori” pada beliau.

3. Ummul Fadhl binti Muhammad Al-Mishriyah. Beliau juga merupakan seorang ahli hadits. Imam Suyuthi bercerita; “Aku bertemu dengan Ummul Fadhl binti Muhammad Al-Mishriyah, beliau bertanya kepadaku mengenai nama, kunyah, nama, nasab, daerah asalku dan dimana aku tinggal, aku menjawab semuanya, kemudian beliau berkata; “Aku bertemu dengan Abdulloh bin Umar Al-Azhari, beliau menanyakan kepadaku mengenai nama, kunyah, nasab, daerah asal dan dimana aku tinggal.... Anas -rodhiyallohu ‘anhu-  berkata; “Saya bertemu dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam kemudian beliau bertanya kepadaku sebagaimana yang aku tanyakan kepadamu, kemudian beliau bersabda; “Wahai Anas, perbanyaklah teman, karena kelak sebagian dari kalian akan bisa member syafa’at kepada sebagian yang lain”.

4. Ummul Fadl bin Muhammad Al-Maqdisi. Beliau juga merupakan ahli hadits.

5. Ummu Hani’ binti Abul Hasan Al-Hurini. Beliau adalah seorang penulis dan ahli hadits.

6. Khodijah binti Abul Hasan bin Al-Mulqin.

7. Fathimah binti Ali bin Al-Yasir. Beliau juga seorang ahli hadits.

8. Kamaliyah binti Muhammad bin Abu Bakar Al-Marjani. Beliau juga seorang ahli hadits.

9. Nasywan binti Abdulloh Al-Kanani. Beliau juga seorang ahli hadits.

10. Hajar binti Muhammad Al-Mishriyah. Beliau juga seorang ahli hadits.

11. Hajar binti Muhammad Al-Maqdisi. Beliau juga seorang ahli hadits.

Haji ke Baitulloh

Imam Suyuthi menceritakan bahwa sewaktu menunaikan haji ke Baitulloh beliau minum air zamzam dengan niat dan berdo’a agar memiliki kemampuan dalam ilmu fiqih seperti yang dimiliki oleh guru beliau, Imam Bulqini, dan dalam ilmu hadits berharap seperti Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqolani.

Cabang-Cabang Ilmu Yang Dikuasai Imam Suyuthi

Imam Suyuthi dikenal dikalangan ulama’ karena penguasaannya dalam berbagai cabang ilmu. Hal tersebut bisa diketahui dari kitab-kitab yang beliau tulis dalam beberapa cabang ilmu agama. beliau menguasai 7 cabang ilmu agama, yaitu; tafsir, hadits, fiqih, nahwu, ma’ani, bayan dan badi’ (nahwu, ma’ani, bayan dan badi’ adalah cabang-cabang ilmu bahasa arab).

Beliau juga menguasai ilmu ushul fiqih, jadal (metode diskusi), tashrif (cabang ilmu bahasa arab), insya’ (metode penulisan), faro’idh (ilmu pembagian warisan), qiro’ah (perbedaan tata cara pembacaan al-qur’an) dan ilmu kedokteran. Hanya saja penguasaan ilmu-ilmu tersebut tidak secara mendalam sebagaimana 7 cabang ilmu diatas, bahkan untuk cabang ilmu qiro’ah beliau mempelajarinya sendiri secara otodidak tanpa berguru,

Sedangkan ilmu yang paling suling menurut beliau, sebagaimana beliau akui sendiri, adalah ilmu hisab (berhitung), beliau sampai mengatakan saat mempelajari satu masalah dalam ilmu hisab rasanya seperti membawa gunung.

Kemampuan luar biasa yang dimiliki Imam Suyuthi yang dianugerahi pikiran yang cerdas dan ketekunan juga ditunjang dengan perpustakaan pribadi yang beliau miliki, perpustakaan tersebut adalah warisan dari ayahnya. Namun meski memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi kitab yang sangat banyak beliau dengan rutin mengunjungi perpustakaan Mahmudiyah semenjak beliau masih kecil.Perpustakaan Mahmudiyah berada di madrasah yang didirikan oleh Mahmud bin Ali Al-Istadar, perpustakaan ini merupakan salah satu perpustakaan terbesar di Kairo dan memiliki banyak koleksi kitab-kitab langka. Imam Suyuthi menulis satu kitab berjudul “Badzlul Majhud Fi Khozanati Mahmud” untuk mendata nama-nama kitab yang ada di perpustakaan Mahmudiyah.

Perjalanan Karir Intelektual Imam Suyuthi

Pada usia yang masih sangat muda, 17 tahun. beliau juga sudah mulai menulis kitab. Kitab pertama yang beliau tulis berjudul “Syarah Al-‘Isti’adzah Wal Basmalah” yang menjelaskan kandungan dari kalimat isti’adzah dan Basmalah. Setelah menyelesaikan penulisannya beliau membawa kitab karyanya ini untuk ditunjukkan dan dikoreksi oleh guru beliau, Imam Bulqini, guru beliau menuliskan kata pengantar untuk karya perdana dari Imam Suyuthi tersebut.

Selain mulai mengajar, pada awal tahun 866 H. dalam usia 17 tahun beliau mendapatkan ijazah dari gurunya untuk mengajar bahasa arab, kemudian pada tahun berikutnya, 876 H. beliau mendapatkan ijazah untuk mengajar dari guru beliau, Imam Bulqini, dimana pengajian kitab yang pertama kali beliau adakan juga dihadiri langsung oleh gurunya tersebut. Imam Suyuthi juga mengajar fiqih di masjid Jami’ Asy-Syaikhni menggantikan ayah beliau, selain itu Imam Kamaluddin Al-Hammam Al-Hanafi, orang yang diberi wasiat oleh ayah beliau agar mengurus Imam Suyuthi, juga menetapkan sebagai pengajar hadits sebagai pengganti ayah beliau.

Murid -Murid Imam Syuthi

Diantara murid-murid beliau yang paling masyhur adalah :

1. Syaikh Abdul Qodir bin Muhammad bin Ahmad Asy-Syadzili Asy-Syafi’i.

2. Syaikh Ibnu Iyas, Abul Barokat, Muhammad bin Ahmad bin Iyas Al-hanafi, penulis kitab “Badai’uz Zuhur Fi Waqo’iud Duhur”.

3. Syaikh Al-Hajj Muhammad Sukyah.

4. Syaikh Syamsuddin, Muhammad bin Abdurrohman bin Ali bin Abu Bakar Al-‘Alqomi.

5. Syaikh Syamsuddin, Muhammad bin Ali bin Ahmad Ad-Dawudi Al-Mishri.

6. Ibnu Thulun; Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Thulun Ad-Damasyqi Al-Hanafi.

7. Syaikh Muhammad bin Al-Qodhi Rodhiyuddin Muhammad bin Muhammad bin Abdulloh binBadr bin Utsman bin Jabir Al-Ghozi Al-‘Amiri Al-Qurosyi Asy-Syafi’i.

8. Syaikh Muhammad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf Asy-Syami.

9. Syaikh Jamaluddin, Yusuf bin Abdulloh Al-hasani Al-Armayuni Asy-Syafi’i.

Fokus Menulis Dan Beribadah

Pada usia empat puluh tahun Imam Suyuthi memfokuskan dan menyibukkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, dan menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan penduduknya seakan-akan beliau tidak mengenal seorang pun, kemudian beliau mulai menulis karya-karyanya, dan meninggalkan berfatwa dan mengajar. Dalam kitab beliau yang berjudul “at-Tanfis” beliau menjelaskan mengenai alasan meninggalkan mengajar dan berfatwa dan memilih menyendiri untuk menulis kitab dan beribadah.Hal tersebut beliau lakukan sampai beliua wafat, beliau tidak membukakan pintu rumahnya di pesisir sungai Nil.

Akhlak Imam Suyuthi


Imam Suyuthi adalah seorang ulama’ yang dikenal dengan kezuhudannya, tekun beribadah dan menjauhi urusan-urasan dunia. Para pemimpin dan orang-orang kaya seringkali berdatangan kepada beliau, lalu mereka menmberikan an harta kepada beliau, namun beliau menolaknya. Suatu ketika ada orang yang memberikan seorang budak dan uang sebanyak seribu dinar, beliau mengembalikan uang tersebut dan mengambil budak lalu dia memerdekakannya dan menjadikannnya sebagai pelayan di ruangan makam Nabi, kemudian dia berkata kepada orang yang menghadiahkan uang seribu dinar dan budak tersebut: “Janganlah kamu datang kepadakudengan hadiyah, karena sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepadaku dari hadiah-hadiah tersebut. Beliau tidak pernah  membeda-bedakan antara orang terpandang

Selain itu beliau tidak senag terlalu sering menghadap para impinan, bahkan berkali-kali para pemimpin mengundang beliau namun beliau enggan untuk datang. Pernah suatu ketika seseorang bertanya kepada beliau; ”Bukankah ulama’ - ulama’ yang masyhur akan kewaliannya juga sering mendatangi para pemimpin demi memenuhi hajat rakyat”. Beliau menjawab; ”Mengikuti para ulama’ salaf dengan tidak mendatangi mereka lebih menyelamatkan agama seorang muslim”. Karena itulah beliau menulis kitab yang berjudul ”Ma Rowahul Asathin Fi ’Adamit Taroddud ’Alas Salathin”, sebuah kitab yang menjelaskan riwayat-riwayat ulama’ salaf yang menjelaskan agar tidak terlalu sering mendatangi para pemimpin.

Dalam muqodimah kitab ”Al-Asybah Wan Nadho’ir” imam Suyuthi mengtakan; ”Hum warotsatul anbiya’... wa yuhtada kanujumis sama’... wahum al-muluuk? la, bal al-muluuk tahta aqdamihim wa fi tashorifi aqwalihim wa aqlamihim” (Para ulama’ adalah pewrais para Nabi, mereka memberikan petunjuk laksana bintang-bintang dilangit. Apakah mereka raja? tidak, mereka bukan raja tapi para raja harus tunduk pada mereka dan mengikuti perkataan dan tulisan mereka).

Karya-karya Imam Suyuthi


Imam as-Suyuthi telah meninggalkan karya-karyanya begitu banyak dalam berbagai disiplin ilmu, dikarenakan beliau rajin menulis buku semenjak masih sangat muda. Dalam kitab ”Kasyfudh Dhunun” karya Haji Kholifah dijelaskan bahwa karya tulis Imam Suyuthi mencapai 540 kitab. Dalam ”An-Nurus Safir ’An Akhbaril Qurnil Asyir” yang ditulis oleh Syaikh As-Sayyid Abdul Qodir bin Abdulloh Al-Idrus dijelaskan bahwa arya-karya beliau telah mencapai jumlah hingga 600 karya selain yang dia perbaiki kembali dan yang dicuci (tidak jadi diedarkan)”. Sedangkan menurut Sayyid Muhammad Abdul Hayy Al-Kattani, jumlah keseluruhan karya Imam Suyuthi adalah 904 kitab dalam berbagai disiplin ilmu.

Diantara karya-karyanya yang terkenal, antara lain :
”Al-Itqan Fi ’Ulum al-Quran”. Kitab yang menjadi rujukan utama dalam disiplin ilmu ulumul qur’an, kitab ini sebenarnya adalah muqoddimah (kata pengantar) kitab tafsir yang beliau berikan judul ”Majma’ul Bahro’in Wa Mathla’ul Badroin Al-Jami’ Li Tahririr Riwayah Wa Taqrirud Diroyah” satu kitab tafsir yang menggabungkan tafsir bil ma’tsur (tafsir berdasarkan riwayat) dan tafsir bir ro’yi (tafsir berdasarkan pemikiran) yang rencananyanya akan beliau tulis namun beliau wafat sebelum menyelsaikan penulisan kitab tafsir tersebut, para ulama’ mengatakan; seandainya kitab itu telah ditulis dengan sempurna tentu tak akan ada tandingannya.

Ad-Durrul Mantsur fit-Tafsir Bil Ma’tsur. Kitab tafsir yang mengikuti metode tafsir bil ma’tsur, baru-baru ini kitab ini dicetak dalam 16 jilid. kitab ini adalah ringkasan dari kitab tafsir yang lebih besar lagi yang bernama “Tarjumanul Qur’an”, sayangnya sampai sekarang kitab tarjumanul qur’an tidak diketahui keberadaannya.

3. “Tafsir Jalalain”. Kitab tafsir ini merupakan kitab tafsir yang dikenal dan diajarkan diseluruh kawasan dunia islam karena tidak terlalu tebal namun sarat kandungan ilmu. Kitab ini adalah kitab tafsir yang ditulis oleh Imam Suyuthi yang menyempurnakan kitab tafsir yang ditulis oleh guru beliau, Imam Mahalli yang wafat sebelum merampungkan penulisannya, karena itulah kitab ini dikenal dengan nama; “Tafsir Jalalain” artinya kitab tafsir yang ditulis oleh 2 orang yang agung, 2 orang yang dimaksud adalah Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

 4.  ”Al-Iklil fi Istinbath at-Tanzil”. Kitab ini termasuk dalam kategori ”Tafsir Ahkam”, maksudnya yaitu kitab tafsir yang mengkhususkan pembahasan tafsir dari sudut pandang penunjukan suatu ayat mengenai satu hukum, sayangnya kitab ini kurang begitu populer dikalangan para pelajar fiqih madzhab syafi’i di Indonesia.

 ”Alfiyah As-Suyuthi Fi Ilmil Hadits”. Judul asli kitab ini adalah ”Nadhmud Duror Fi ’Ilmil Atsar”, namun lebih populer dengan sebutan ”Alfiyah As-Suyuthi” karena kitab ini memuat 1000  nadhom (bilangan tepatnya 994 nadhom) yang menjelaskan tentang ilmu hadits.

6. ”Tadribur Rowi Syarah Taqribun Nawawi”. Kitab ini merupakan syarah dari kitab ”At-Taqrib Wat-Taisir Li Ma’rifati Sunanil Basyir An-Nadzir” atau yang lebih dikenal dengan sebutan ”Taqrib An-nawawi” karya Imam Nawawi. Kitab Tadriburt Rowi merupakan salah satu rujukan utama dalam bidang ilu hadita.

7.  “Jami’us Shoghir”. Kitab ini merupakan kitab hadits yang mencantumkan lebih dari 10.000 hadits yang disusun berdasarkah huruf hija’iyah, sehingga menjadi salah satu rujukan utama saat mencari keberadaan matan suatu hadits dengan mencarinya dikitab ini dengan melihat huruf pertama dari matan hadits tersebut, selain itu keistimewaannya terletak dari ditunjukkannya dalam kitab apa hadits tersebut ditulis dan ditambah penjelasan mengenai derajat hadits tersebut yang keduanya diisyaratkan dengan symbol-simbol huruf dakhir setiap hadita. Kitab ini sebetulnya merupakan ringkasan dari kitab “Jawami’ull Jawami’” yang lebih dikenal dengan sebutan “Jamiul Kabir” yang kitabnya mencapai 25 jilid.

8. “Al-Asybah Wan-Nadho’ir Fi Qowa’id Wa Furu’is Syafi’iyyah”. Kitab ini merupakan kitab induk dalam bidang ilmu qo’idah fiqih dalam madzhab syafi’i secara khusus dan dalam ilmu fiqih islam secara umum, selain itu kitab ini juga membahas mengenai beberapa faedah-faedah yang sangat bermanfaat dalam fiqih sehingga tak heran bila kitab ini diajarkan dihampir semua pondok pesantren salaf pada tingkat aliyah di pulau jawa khususnya.

9. “Al-hawi Lil-Fatawi”. Kitab ini memuat fatwa-fatwa beliau dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan tauhid, al-qur’an, hadits, fiqih, nahwu dan tasawuf.

Mimpi Bertemu Rasulullah

Dalam kitab “Al-Kawakibus Sa’irohg Fi A’yanil Mi’ah Al-Asyiroh” karya Syaikh Najmuddin Al-Ghozi diceritakan; pada suatu malam Imam Suyuthi mimpi bertemu derngan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau menanyakan kepada Nabi perihal beberapa hadits, Nabi memanggil beliau dengan sebutan “Syaikhus Sunnah’ (guru/pakarnya sunnah Nabi).

Selain itu beliau juga juga pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan terjaga (bukan dalam mimpi) sebagaimana dikisahkan oleh Syaikh Abdul Qodir Asy-Syadzili. Imam Suyuthi bercerita bahwa beliau pernah melihat langsung Rosululloh, kemudian beliau bertanya; “Wahai Rosululloh, apakah aku termasuk penghuni surga” Rosululloh menjawab; “Iya”, lalu aku bertanya lagi; “Apakah aku akan masuk surga dengan tanpa disiksa terlebih dahulu sebelumnya?”. Rosululloh menjawab “Itulah yang akan diberikan kepadamu”. Syaikh Abdul Qodir Asy-Syadzili pernah bertanya beliau tentang berapa kali beliau bertemu dengan Rosululloh dalam keadaan terjaga, beliau menjawab; “70 kali lebih”.

Berdasarkan pengalaman tersebut Imam Suyuthi menulis kitab berjudul “tanwirul Halaq Fi Imkani Ru’yatin Nabi Wal Malak”, isi dari kitab ini juga terdapat dalam kitab “Al-Hawi Lil Fatawi”, dalam kitab tersebut beliau menjawab pertanyaan tentang kemungkinan melihat Nabi dalam keadaan terjaga dan membantah pernyaan dari orang-orang yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi, beliau membantah pernyataan mereka dengan menyebutkan dalil-dalilnya disertai kisah-kisah ulama’ yang mengalaminya..

Meninggalnya Imam As-Suyuthi

Imam As-Suyuthi wafat  pada waktu sahur malam jum’at tanggal 17 Jumadil Ula tahun 911 H. dirumah beliau yang berada di Roudlotul Miqbas. Beliau dimakamkan di Haush Qushun sebelah timur pintu al-Qarafah. Nama beliau dinisbatkan kepada daerah asal ayah beliau, yaitu Asyuth, karena itu beliau dikenal dengan nama Imam Suyuthi.

Semoga Alloh menempatkan beliau ditempat yang mulia di Surga, dan semoga kita  mendapat barokah dan manfaat dan dapat meneladani beliau.. Amiiin..

Referensi Utama :
1. Husnul Muhadhoroh Fi Tarikhil Mishr Wal Qohiroh
2. Muqoddimah tahqiq “Tafsir Ad-Durrul Mantsur” cetakan Markaz Al-Hijr
3. Muqoddimah Tahqiq cetakan Universitas Al-Azhar


Ditulis oleh : Siroj Munir

Biografi Imam Suyuthi (Bagian 1)




Pendahuluan

Sumber utama mengenai riwayat hidup Imam Suyuti rohimahullah adalah kitab beliau yang berjudul "Husnul Muhadloroh Fi Tarikhi Mishr Wal Qohiroh", satu kitab mengenai sejarah negara mesir secara umum dan kota Kairo secara khusus. Dalam kitab tersebut beliau juga menjelaskan secara rinci menegenai hal-hal yang berkaitan dengan beliau mulai dari kelahiran beliau, nasab, masa-masa belajar dll. Beliau menulis kitab ini pada umur 66 dan saat itu kitab yang beliau tulis sudah mencapai 300 judul selain kitab-kitab yang tidak jadi diedarkan karena beliau koreksi kembali.

Alasan beliau menulis sendiri biografinya adalah karena mengikuti para ulama' ahli hadits (muhadditsin) terdahulu, dimana saat mereka menulis kitab yang menjelaskan sejarah suatu daerah atau menjelaskan tentang biografi para tokoh terkenal mereka juga menuturkan biografi mereka sendiri dalam kitab tersebut. Beliau mencontohkan diantara ulama' yang meuturkan biografinya sendiri adalah;

1. Al-Hafidh Abul Hasan Abdul Ghofir Al-Farisi An-Naisaburi dalam kitab beliau yang menjelaskan tentang biografi ulama’-ulama’ Naisabur, daerah yang kini masuk dalam kawasan negara Iran, berjudul “As-Siyaq Li Tarikh Naisabur” yang lebih dikenal dengan nama “Tarikh Naisabur”.

2. Syaikh Yaqut Al-Hamawi dalam kitab beliau; “Irsyadul Arib Ila Ma’rifatil Adib” atau yang lebih dikenal dengan nama "Mu'jamul 'Udaba'. Kitab yang menuturkan biografi para sastrawan.

3. Lisanuddin bin Al-Khothib dalam kitab “Al-Ihathoh Fi Akhbari Ghornathoh” yang menjelaskan sejarah Granada, provinsi yang berada didalam kawasan otonomi Andalusia, Spanyol.

4. Al-Hafidh Taqiyyuddin Al-Fasi dalam kitab-kitab beliau yang menjelaskan sejarah kota Mekah, seperti “Al-‘Aqduts Tsamin Fi Tarikh Baladil Amin”, “Syifa’ul Ghorom Bi Akhbari Baladil Harom” dan ‘Az-Zuhur Al-Muqtatho’ah Min Tarikh Makkah Al-Musyarrofah”.

5. Al-Hafidh Abul Fadhl Ibnu Hajar dalam kitab yang menjelaskan mengenai biografi hakim-hakim Mesir yang berjudul “Rof’ul Ishr ‘An Qudlot Mishr”.

6. Syaikh Abu Syamah dalam kitab beliau “Ar-Roudlotain Fi Akhbarid Daulatain An-Nuriyah Was-Sholahiyah”. KItab yang mengisahkan sejarah kesultanan Sultan Nuruddin Zanki dan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi, dua sultan yang berjasa besar dalam perang salib.

Imam Suyuthi menjelaskan alas an beliau tersebut agar tidak dianggap bahwa menulis riwayat hidup dalam satu kitab yang ditulis sendiri adalah sesuatu yang aneh sebab hal seperti itu sudah dilakukan oleh ulama’-ulama’ sebelum beliau, bahkan diantara mereka terdapat nama Syaikh Abu Syamah, seorang ulama’ yang terkenal wira’i dan zuhud.

Nama dan Nasab

Nama dan nasab beliau adalah; Abdurrohman bin Al-Kamal Abi Bakar bin Muhammad Sabiquddin bin Al-Fakhr bin Nadhiruddin Muhammad bin Yusufuddin bin Khodhir bin Najmuddin Abis Sholah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad bin Syaikh Hammamuddin Al-Hammam Al-Khudloiri Al-Asyuthi.

Khudloiri yang menjadi nisbat bagi keluarga beliau berasal dari nama daerah Al-Khudloiriyah, satu kawasan di Baghdad, Irak dimana kakek tertinggi beliau dahulu tinggal disana. Kakek tertinggi beliau adalah  Hammamuddin, beliau termasuk ulama’ ahli ilmu hakekat (ahlul haqiqoh) dan termasuk salah satu guru-guru tarekat (masyayikhut thoriqoh).

Anak cucu dari Syaikh Hammam kebanyakan menjadi tokoh dan memiliki kedudukan dalam pemerintahan didaerahnya masing-masing, diantara mereka ada yang terjun dalam bidang kehakiman, bidang keamanan, pedagang dalam pemerintahan Amir Syaikhun, membangun madrasah di Asyuth, dan mewakafkan beberapa wakafan, selain itu ada juga yang menjadi konglomerat. Diantara keturunan Syaikh Hammam hanya ayah Imam Suyuthi yang mengabdikan dirinya dalam bidang ilmu keagamaan.

Masa Kelahiran dan Pertumbuhan 

Imam Suyuthi dilahirkan seusai Maghrib pada malam Ahad awal bulan Rajab pada tahun 849 H. bertepatan pada bulan September tahun 1445 H M.. Saat masih kecil ayah beliau pernah mengajaknya mengunjungi syaikh Muhammad Al-Majdzub seorang pembesar para wali dimasa itu yang bermukim di samping Masyhad An-Nafisi, yang kemudian mendo’akan keberkahan kepada beliau. Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, sebab ayah beliau meninggal pada tahun 855 H,. Sebelum wafat, ayah beliau berwasiat kepada Syaikh Kamaluddinn bin al-Hammam untuk  menjaga dan mengurus serta mendidik beliau.

Masa - Masa Belajar 

Belum genap berusia 8 tahun, beliau telah hafal al-Qur’an, selain itu  beliau juga telah hafal kitab al-‘Umdah (Umdatul Ahkam, kitab yang menjelaskan mengenai dalil-dalil hukum karya Syaikh Ibnu Daqiqi Al-‘Id), kitab Al-Minhaj dalam cabang ilmu fiqih (Minhajut Tholibin, kitab fiqih madzhab Syafi’i karya Imam Nawawi), dan kitab Al-Minhaj dalam cabang ilmu ushul (Minhajul Wushul Ila ‘Ilmil ‘Ushul, kitab ushul fiqih karya Imam Baidlowi) serta kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam cabang ilmu bahasa arab.

Pada awal tahun 864 H. beliau mulai menyibukkan diri dengan pendalaman ilmu agama Imam Suyuthi belajar Fikih dan Nahwu dari beberapa ulama besar di masa itu. Beliau secara khusus belajar ilmu Faroidh kepada syaikh Al-‘Allamah Syihabuddin Asy-Syarmasahi , seorang ulama’ yang telah mencapai usia lebih dari seratus tahu, pada Syaikh Syihabuddin Asy-Syarrnasahi beliau juga belajar kitab Al-Majmu’.

Diantara ulama’ yang pernah menjadi guru beliau dalam ilmu fiqih adalah Syaikhul Islam ‘Alamuddin Al-Bulqini, Dibawah bimbingan Imam Bulqini, beliau mempelajari kitab-kitab berikut ini;

1. “At-Tadrib”, kitab fiqih madzhab syafi’i karya Sirojuddin Al-Bulqini, ayah dari Syaikh ‘Alamuddin Al-Bulqini. Kitab ini ditulis untuk dipersembahkan kepada putranya, yaitu Imam Bulqini, namun penulisannya hanya sampai pada bab rodlo’ (persusuan). Imam Suyuthi mempelajari kitab ini mulai dari awal kitab sampai bab wakalah,

2. “Al-Hawi Ash-Shoghir”, kitab fiqih madzhab syafi’i karya Syaikh Najmuddin Al-Qozwini yang meringkas kitab Syarah Al-Kabir karya Imam Rofi’i, kitab ini ditulis untuk anak beliau yang bernama Muhammad, dalam madzhab syafi’i jika disebutkan kitab “Al-hawi” maka yang dimaksud adalah kitab “Al-Hawi Ash-Shoghir” karya Imam Qozqini, bukan “Al-Hawi Al-Kabir” karya Imam Mawardi. Imam Suyuthi mempelajari kitab ini sampai bab iddah.

3. “Minhajut Tholibin”, salah satu kitab paling populer dan menjadi rujukan utama dalam fiqih madzhab syafi’i yang ditulis oleh Imam Nawawi. Imam Suyuthi mempelajari mempelajari kitab ini sampai bab zakat.

4. “At-Tanbih”, kitab fiqih madzhab syafi’i yang ditulis oleh Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi, kitab ini merpakan salah satu dari 5 kitab yang paling banyak dipakai pada masa Imam Nawawi, 5 kitab yang dimaksud adalah Mukhtashor Muzani, Al-Wasith, Al-Wajiz, At,Tanbih dan Al-Muhadzdzab. Imam Suyuthi mempelajarikitab ini hampir mendekati bab zakat.

5. “Roudlotut Tholibin”, kitab fiqih madzhab syafi’i yang ditulis oleh Imam Nawawi, kitab ini merupakan ringkasan dari kitab “Syarah Al-Kabir” karya Imam Rofi’i dengan menghilangkan dalil-dalilnya dan juga mencantumkan beberapa pendapat Imam Nawawi yang berbeda dari Imam Rofi’i. Imam Suyuthi mempelajari sebagian bab qodho’ (keputusan hakim) dari kitab ini.

6. “Takmilah Syarah Al-Minhaj”, kitab ini merupakan kitab fiqih madzhab syafi’i yang ditulis oleh Imam Zarkasyi, kitab ini adalah penyempunaan dari kitab “Kafil Muhtaj Ila Syarhil Minhaj” yang ditulis oleh guru beliau, Imam Al-Isnawi, Imam Isnawi menulis kitab tersebut hanya sampai bab musaqoh dan wafat sebelum menyelesaikannya, kemudian Imam Zarkasyi melanjutkan penulisannya samapai selesai

Setelah Imam Bulqini meninggal pada tahun 878 H. beliau belajar kepada Syaikhul Islam Syarofuddin Al-Munawi, dibawah asuhan Syaikh Munawi beliau belajar sebagian kitab “Al-Minhaj” dan kitab “Syarah Al-Bahjah” sekaligus kitab hasyiyahnya, selain juga mempelajari kitab “Tafsir Al-Baidhowi”.

Dalam cabang ilmu hadits dan bahasa arab beliau belajar kepada Imam Taqiyyuddin Asy-Syamanli Al-Hanafi selama 4 tahun, Imam Suyuthi merupakan salah satu murid kesayangan Imam Syamanli yang diakui kepiawaiannya dalam ilmu bahasa arab dan ilmu hadits dan menuliskan kata pengantar untuk kitab “Syarah Alfiyah Ibnu Malik” dan “Jam’ul Jawami’ Fil Arobiyyah” yang ditulis oleh Imam Suyuthi.

Imam Suyuthi juga merupakan murid yang kritis, pernah suatu ketika beliau membaca hasyiyah kitab “Asy-Syifa” yang ditulis oleh gurunya, Imam Syamanli, dalam kitab itu gurunya menuliskan hadits yang diriwayatkan oleh Abul Jamro’ mengenai kisah isro’ dikeluarkan oleh oleh Imam Ibnu Majah, setelah beliau cari hadits tersebut di kitab Ibnu Majah dan sudah beliau baca kitab mulai awal hingga akhir sampai 3 kali beliau tidak menemukan hadits tersebut, setelah mencari dikitab-kitab hadits lainnya beliau menemukan hadits tersebut ada di kitab “Mu’jamus Shohabah’ karya Ibnu Qoni’. Mendapati hal seperti itu beliau menghadap kepada gurunya untuk memberitahukan hal tersebut, seketika itu pula gurunya mengambil pena dan mengganti tulisan “Ibnu Majah” dengan “Ibnu Qoni’”.

Guru beliau yang lain adalah Syaikh Muhyiddin Al-Kafiji selama 14 tahun, selama belajar kepada Syaikh Al-Kafiji beliau mempelajari berbagai cabang ilmu mulai dari tafsir, ushul, bahasa ‘arab dll, selain itu beliau juga memperoleh banyak ijazah dari gurunya.

Selain itu beliau juga menghadiri beberapa kali pengajian Syaikh Saifuddin Al-Hanafi yang mengajarkan kitab;

1. “Al-Kasysyaf”, kitab tafsir  yang menjadi salah satu rujukan utama untuk mngetahui kandungan balaghoh dalam al-qur’an. Judul asli kitab ini adalah “Al-Kasysyaf An Haqoiq Ghowamidlit Tanzil Wa Uyunil Aqowil Fi Wujuhit Ta'wil”.

2. “Audlohul Masalik Syarah Alfiyah Ibnu Malik” atau yang lebih dikenal dengan nama “At-Taudlih”, kitab nahwu karya Ibnu Hisyam yang merupakan syarah kitab Alfiyah Ibnu Malik,  beserta hasyiyahnya, “At-Tashrih Bi Madlmunit Taudlih” yang biasa disebut “At-Tashrih Alat-Taudlih” karya Syaikh Kholid Al-Azhari.

3. “Talkhishul Miftah” kitab karya Imam Jalaluddin Muhammad bin Abdurrohman Al-Qozaini Asy-Syawini yang menjelaskan tentang sastra bahasa arab, kitab ini merupakan ringkasan kitab “Miftahul Ulum” karya Syaikh Abu Ya’qub As-Sakaki.

4. “Al-Adhud”

BIOGRAFI KHR ASNAWI, PENGARANG KITAB FASHOLATAN



Kelahiran, Nama dan Nasab
KH Raden Asnawi, atau biasa disebut Mbah Asnawi dilahirkan pada hari Jum’at Pon, kisaran tahun 1861 M (1281 H) di daerah Damaran, salah satu desa di kecamatan Kota Kudus, Jawa Tengah. Orang tuanya memberikan nama "Ahmad Syamsyi" bagi dirinya. Nama ayah beliau adalah H. Abdullah Husnin, sedangkan ibu beliau bernama Raden Sarbinah. H. Abdullah Husnin, ayah beliau berprofesi sebagai seorang pedagang konfeksi yang tergolong besar. Apabila dirunut keatas, beliau merupakan ma keturunan ke-14 Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 KH Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, seorang kiyai yang terkenal akan kewaliannya.

Perkembangan dan Pendidikan
Ahmad Syamsyi dikenalkan pada pelajaran agama semenjak kecil oleh orang tuanya, disamping juga mengajarkan cara berdagang. Pada usia 15 tahun, sekitar tahun 1876 M. orang tuanya pindah ke Tulungagung Jawa Timur. Di sana ayahnya mengajarkan cara berdagang  berdagang mulai dari pagi hingga siang. Sepulang dari berdagang, mulai dari sore sampai malam hari beliau  mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung. Beliau juga pernah mengahi kepada KH. Irsyad Naib, Mayong, Jepara.

Mengajar Ilmu Agama
Sewaktu umur 25 tahun, kira-kira pada tahun 1886 M. Ahmad Syamsi menunaikan ibadah haji yang pertama Sepulangnya dari haji pertamanya, nama Raden Ahmad Syamsi diganti dengan Raden Haji Ilyas.  Nama Ilyas ini kemudian diganti lagi dengan Raden Haji Asnawi, setelah pulang dari menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya.

Kira-kira umur 30 tahun KHR. Asnawi diajak oleh ayahnya untuk pergi haji yang kedua dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di saat-saat melakukan ibadah haji, ayahnya pulang ke rahmatullah, meskipun demikian, niat bermukim tetap diteruskan selama 20 tahun. Selama itu KHR. Asnawi juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk menjenguk ibunya yang masih hidup beserta adik yang bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus hingga wafat. Ibunya wafat di Kudus sewaktu KHR. Asnawi telah kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.

Sepulangnya dari ibadah haji ini, KHR. Asnawi mulai mangajar dan melakukan tabligh agama. Pada setiap Jumu’ah Pahing, sesudah shalat Jumu’ah, KHR. Asnawi mengajar Tauhid di Masjid Muria (Masjid Sunan Muria) yang berjarak + 18 Km dari kota Kudus, dan jalan pegunungan yang menanjak ini ditempuhnya dengan berjalan kaki. KHR. Asnawi juga selalu berkeliling mengajar dari masjid ke masjid sekitar kota saat shalat Shubuh.

Secara khusus KHR. Asnawi juga mengadakan pengajian rutin, seperti Khataman TafsirJalalain dalam bulan Ramadlan di pondok pesantren Bendan Kudus. Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam dalam bulan Ramadlan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Membaca kitab Hadist Bukhari yang dilakukan setiap jamaah fajar dan setiap sesudah jama’ah shubuh selama bulan Ramadhan bertempat di Masjid al-Aqsha Kauman Menara Kudus, sampai KHR. Asnawi wafat, kitab ini belum khatam, makanya diteruskan oleh al-Hafidh KHM. Arwani Amin sampai khatam. Kegiatan dakwah beliau tidaklah terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, melainkan juga menjangkau ke daerah lain seperti Demak, Jepara, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, dan Blora.

Di antara ilmu yang diutamakan oleh KHR. Asnawi adalah Tauhid dan Fiqih. Karenanya, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, KHR. Asnawi hingga kini masih selalu diingat melalui karya populernya yang kini dikenal dengan “Shalawat Asnawiyyah.”  Selain itu karya Asnawi seperti Soal Jawab Mu’taqad Seket, Fasholatan Kyai Asnawi (yang disusun oleh KH. Minan Zuhri), Syi'ir Nasihat, Du’aul ‘Arusa’in, Sholawat Asnawiyyah dan syi’iran lainnya juga tetap diajarkan di pengajian-pengajian pesantren dan masjid-masjid hingga saat ini.

Kehidupan di mekah
Di Mekah, KHR. Asnawi tinggal di rumah Syeikh Hamid Manan (Kudus). Namun setelah menikahi Nyai Hj. Hamdanah (janda Almaghfurlah Syeikh Nawawi al-Bantani), KHR. Asnawi pindah ke kampung Syami’ah. Dalam perkawinannya dengan Nyai Hj. Hamdanah ini, KHR. Asnawi dikaruniai 9 putera. Namun hanya 3 puteranya yang hidup hingga tua. Yaitu H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Shaleh Tayu) dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Selama bermukim di Tanah Suci, di samping menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, KHR. Asnawi masih mengambil kesempatan untuk memperdalam ilmu agama dengan para ulama besar, baik dari Indonesia (Jawa) maupun Arab, baik di Masjidil Haram maupun di rumah. Para Kyai Indonesia yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Saleh Darat (Semarang), KH. Mahfudz (Termas), KH. Nawawi (Banten) dan Sayid Umar Shatha.

Selain itu, KHR. Asnawi juga pernah mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya, di antara yang ikut belajar padanya, antara lain adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), KH. Bisyri Sansuri (Pati/Jombang), KH. Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu pati), KH. Chambali Kudus, KH. Mufid Kudus dan KHA. Mukhit (Sidoarjo). Di samping belajar dan mengajar agama Islam, KHR. Asnawi turut aktif mengurusi kewajibannya sebagai seorang Komisaris SI (Syariat Islam) di Mekah bersama dengan kawan-kawannya yang lain.

Pada waktu bermukim ini, KHR. Asnawi pernah mengadakan tukar pikiran dengan salah seorang ulama besar, Mufti Mekah bernama Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan secara tertulis dari awal masalah hingga akhir, meskipun tidak memperoleh kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena itu KHR. Asnawi bermaksud ingin memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka semua catatan baik dari tulisan KHR. Asnawi dan Syeikh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir, akan tetapi Mufti Mesir itu tidak sanggup memberi fatwanya. (sayang, catatan-catatan itu ketinggalan di Mekah bersama kitab-kitabnya dan sayang keluarga KHR. Asnawi lupa masalah apa yang dibahas, meskipun sudah diberitahu).

Melihat tulisan dan jawaban KHR. Asnawi terhadap tulisan Syeikh Ahmad Khatib itu, tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan KHR. Asnawi. Karena belum kenal, maka Mufti Mesir itu meminta bantuan Syeikh Hamid Manan untuk diperkenalkan dengan KHR. Asnawi Kudus. Akhirnya disepakati waktu perjumpaan yaitu sesudah shalat Jum’ah. Oleh Syeikh Hamid Manan maksud ini diberitahukan kepada KHR. Asnawi dan diatur agar KHR. Asnawi nanti yang melayani mengeluarkan jamuan.

Sesudah shalat Jum’ah datanglah Sayyid Husain Bek ke rumah Syeikh Hamid Manan dan KHR. Asnawi sendiri yang melayani mengeluarkan minuman. Sesudah bercakap-cakap, bertanyalah tamu itu: “Fin, Asnawi?” (Dimana Asnawi?), “Asnawi? Hadza Huwa” (Asnawi ? Inilah dia) sambil menunjuk KHR. Asnawi yang sedang duduk di pojok, sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah ditunjukkan, Mufti segera berdiri dan mendekat KHR. Asnawi, seraya membuka kopiah dan diciumlah kepala KHR. Asnawi sambil berkenalan. Kata Mufti Sayyid Husain Bek kepada Syeikh Hamid Manan: "Sungguh saya telah salah sangka, setelah berkenalan dengan Asnawi. Saya mengira tidaklah demikian, melihat jasmaniahnya yang kecil dan rapih".

Teguh Dalam Berdakwah
Saat menjenguk kampung halamannya, bersama kawan-kawannya KHR. Asnawi mendirikan Madrasah Madrasah Qudsiyyah (1916 M). Dan tidak berselang lama, KHR. Asnawi juga memelopori pembangunan Masjid Menara secara gotong royong. Malam hari para santri bersama-sama mengambil batu dan pasir dari Kaligelis untuk dikerjakan pada siang harinya. Di tengah-tengah melaksanakan pembangunan itulah, terjadi huru-hara pada tahun 1918 H, kejadian ini berbuntut pada penangkapan terhadap KH. Asnawi dan rekannya KH. Ahmad Kamal Damaran, KH. Nurhadi dan KH. Mufid Sunggingan dan lain-lain, dengan dalih telah mengadakan pengrusakan dan perampasan oleh pemerintah penjajah. Mereka pun akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman 3 tahun.

Pada zaman penjajahan Belanda, KHR. Asnawi  juga sering dikenakan hukuman denda karena pidatonya tentang Islam serta menyisipkan ruh nasionalisme dalam pidatonya. Begitu juga pada masa pendudukan Jepang. KHR. Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok KHR. Asnawi dikepung oleh tentara Dai Nippon, dan KHR. Asnawi pun dibawa ke markas Kempetai di Pati.

Meski sering menghadapi ancaman hukuman, namun KHR. Asnawi tidak pernah berhenti berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar. Bahkan di dalam penjara sekalipun, KHR. Asnawi tetap melakukan amar ma'ruf nahi munkar. KHR. Asnawi tetap membuka pengajian di penjara. Banyak kemudian di antara para penjahat kriminal yang dipenjara bersamanya, kemudian menjadi murid KHR. Asnawi.

Fatwa Larangan Berdasi
Dalam memperjuangkan Islam, KHR. Asnawi memiliki pendirian yang teguh. Prinsip-prinsip hidupnya sangat keras dan watak perjuangnnya terkenal galak, sebab kala itu bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan kaum kafir. Keyakinan inilah yang dipeganginya sangat kokoh sekali. Bagi KHR. Asnawi, segala hal yang dilaksanakan oleh Belanda tidak boleh ditiru. Bahkan tidak segan-segan KHR. Asnawi memfatwakan hukum agama dengan sangat tegas, anti-kolonialisme, seperti mengharamkan segala macam bentuk tasyabbuh (menyerupai) perilaku para penjajah dan antek-anteknya.

Salah satu diantara fatwanya yang keras ini adalah larangan untuk memakai berdasi dan menghidupkan radio, termasuk menyerupai gaya jalan orang-orang kafir (Belanda dan China). Fatwa larangan berdasinya ini sangat terkenal, hingga suatu ketika KH Saifuddin Zuhri melepaskan dasi dan sepatunya ketika mengunjungi KHR. Asnawi. KH Saifuddin Zuhri kala itu sedang menjabat Menteri Agama, namun demi menghormati KHR. Asnawi, ia bertamu hanya dengan memakai sandal tanpa dasi.

Tawaran Menjadi Penghulu
Pada kisaran tahun 1927 M. KHR. Asnawi membangun pondok pesantren di Desa Bendan Kerjasan Kudus, di atas tanah wakaf dari KH. Abdullah Faqih (Langgar Dalem) dan dukungan dari para dermawan dan umat Islam. Pada tahun ini pula, Charles Olke Van Der Plas (1891-1977), seorang pegawai sipil di Hindia Belanda, pernah datang ke rumah KHR. Asnawi untuk meminta kesediaannya memangku jabatan penghulu di Kudus. Secara tegas KHR. Asnawi menolak penawaran tersebut.

Dalam pandangan KHR. Asnawi, jika dirinya diangkat sebagai penghulu, maka tidak akan lagi dapat bebas melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap para pejabat. Beda halnya jika tetap menjadi orang partikelir, ia dapat berdakwah tanpa harus menanggung rasa segan (ewuh pakewuh).

Wafatnya KH Asnawi
KHR. Asnawi berpulang ke rahmatullah pada Sabtu Kliwon, 25 Jumadil Akhir 1378 H. bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M. pukul 03.00 WIB. KHR. Asnawi meninggal dunia dalam usia 98 tahun, dengan meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit (buyut). Kabar wafatnya KH.R Asnawi disiarkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat Jakarta lewat berita pagi pukul 06.00 WIB. Penyiaran itu atas inisiataif Menteri Agama RI KH Wahab Chasbullah yang ditelepon oleh HM. Zainuri Noor.


*Dikutip dari beberapa sumber

Biografi Imam Haromain ( Imam Juwaini ), penulis kitab Al-Waroqot


Nama dan Nasab

Nama asli beliau adalah Abdul Malik, sedangkan ‘alam kunyah (nama dengan tambahan abu) beliau adalah “Abul Ma’ali”, dan ‘alam laqob (nama julukan/gelar) beliau adalah “Imamul Haromain” yang artinya Imam 2 tanah harom, maksudnya tanah harom Mekah dan tanah harom Madinah, selain itu beliau juga diberi gelar “Dhiya’uddin” (Cahaya Agama) dan juga “Fakhrul Islam” (kebanggaan Islam). Beliau diberi gelar “Imamul Haromain” karena beliau sempat bermukim di kota Mekah selama 4 tahun, begitu juga beliau pernah bermukim di kota Madinah selama 4 tahun, dikedua tempat tersebut beliau mengajar dan berfatwa.

Sedangkan nasab beliau adalah Abdul Malik bin Abdulloh bin Yusuf bin Muhammad bin Hayyuyah Al-Juwaini As-Sanbasi, At-Tho’I An-Naisaburi Asy-Syafi’i. Juwain adalah salah satu daerah dikawasan Naisabur, sedangkang Sanbas adalah salah satu kabilah/suku yang terkenal di daerah Thoyy.

Kelahiran dan perkembangan

Mayoritas ahli sejarah berpendapat bahwa imam haromain dilahirkan pada tanggal 18 muharrom tahun 419 H. di Naisabur, salah satu kota bagian Khurosan, yang kini termasuk wilayah Negara Iran. Naisabur adalah satu kota yang saat itu menjadi salah satu pusat kebudayaan di Khurosan.

Beliau dibesarkan ditengah – tengah keluarga yang shaleh dan bertakwa. Ayah beliau, Abdulloh bin Yusuf Abu Muhammad Al-Juwaini  adalah seorang ulama’ yang terkenal dalam bidang ilmu tafsir, fiqih, bahasa arab dan sastra, dan mengajar ilmu fiqih disalah satu madrasah yang ada dikota Naisabur. Sedangkan ibu beliau adalah seorang budak wanita yang shalehah yang dibeli oleh ayahnya dengan uang yang tak tercampur sedikitpun dengan harta syubhat, ayah Imam Haromain juga hanya memberikan nafkah dari harta yang murni halal kepada ibunya sampai ibunya mengandung beliau. Ayah beliau memang memegang kuat prinsip untuk tidak memberikan makanan bagi keluarga dan anknya kecuali dengan harta yang halal, dengan keyakinan yang teguh bahwa harta yang tidak halal akan merusak agama dan dunia, dan member pengaruh buruk pada orang yang memakannya. 
  
Masa – Masa Menuntut Ilmu

Tempat pertama bagi beliau untuk belajar adalah rumahnya sendiri, dibawah bimbingan ayahnya beliau menghafalkan al-qur’an dan juga belajar ilmu tafsir, hadits, fiqih, ushul dan sastra, beliau juga mempelajari semua kitab – kitab karya ayahnya dengan dibawah bimbingan ayahnya langsung.

Selain itu beliau juga belajar hadits kepada beberapa guru, seperti Syaikh Abu Manshur dan lainnya. Di masa mudanya beliau tak mau hanya mengikuti pendapat – pendapat ayah beliau dan teman – temannya sebelum masalah itu benar benar dikaji secara mendalam, beliau mengkaji setiap masalah secara sungguh – sungguh dengan memperhatikan pendapat – pendapat dalam madzhab Imam Syafi’I dan juga dari madzhab lainnya saat berdiskusi, hal tersebut yang membuat beliau sangat menonjol diantara teman – teman diskusinya, sehingga pada saat usia beliau belum menginjak umur 20 tahun beliau sudah dijadikan ketua dalam diskusi yang diadakan dimajlis ayahnya.

Namun itu semua tak membuat minat belajar beliau berkurang, pada pagi buta beliau sudah pergi ke masjid ustadz Abu Abdulloh Al-Khobazi, beliau membaca al-qur’an dan mempelajari beberapa ilmu pada gurunya tersebut, setelah selesai beliau kembali ke madrasah ayahnya dan mengajar disana, setelah selesai mengajar beliau pergi ke madrasah Al-Baihaqi, disana beliau belajar ilmu kalam (ilmu tauhid/ushuluddin) pada Al-Ustadz Abul Qosim Al-isfaroyini. Begitulah keseharian beliau, menuntut ilmu mulai dari kecil sampai dimasa tua, bahkan saat sudah menjadi guru di madrasah.

Guru – Guru Imam Haromain

Imam Haromain mempelajari berbagai cabang ilmu dari beberapa guru dan para masyayikh yang hidup dimasa itu. Guru – guru utama beliau adalah sebagai berikut :

1. Ayah beliau sendiri, Syaikh Abu Muhammad, Abdulloh bin Yusuf Al-Juwaini, seorang ulama’ ahli dalam bidang ilmu fiqih, ushul dan tafsir. Diantara kitab – kitab karyanya yang terpenting adalah; Syarah kitab Ar-risalah karya Imam Syafi’I, Tafsir Al-Kabir, At-tabshiroh Wat-Tadzkiroh, Al-Furuq, as-Silsilah, Mauqiful Imam Wal Ma’mum dan Mukhtashorul Muhtashor. Syaikh Abdulloh al-Juwaini wafat pada tahun 438 H.

2. Syaikh Abul Qosim Al-Isfaroyini Al-Iskaf, Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan, ulama’ ahli ilmu fiqih, ushul dan ilmu kalam, beliau belajar pada Syaikh Abu Ishaq Al-isfaroyini dan Syaikh Abdulloh bin Yusuf Al-Ashfihani, beliau wafat pada tahun 452 H. Syaikh Abul Qosim Al-Isfaroyini merupakan guru utama Imam Haromain dalam ilmu kalam,

3. Syaikh Abu Abdulloh Al-Khobbazi, Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Hasan, seorang ulama’ utama yang ahli dalam ilmu qiro’ah (bacaan) al-qur’an di kota Naisabur, beliau dilahirkan pada tahun 372 H. dan wafat pada tahun 449 H. Imam Haromain belajar al-qur’an pada beliau diwaktu pagi hari sebelum mengajar.

4. Al-Imam Az-Zahid Asy-Syaikh Fadhlulloh bin Ahmad bin Muhammad Al-Maihani, beliau wafat pada tahun 440 H.

5. Al-Qodhi Asy-Syaikh Abu Ali, Husain bin Muhammad bin Ahmad Al-Marudzi, ulama’ yang menjadi guru utama dalam fiqih madzhab Imam Syafi’i. Dalam kitab – kitab fiqih madzhab syafi’I nama beliau bisa disebut dengan “Qodhi Husain”, beliau mendapat julukan “Habrul Ummat” (Ahli/pakarnya umat islam), diantara kitab karya beliau adalah ‘At-Ta’liqoh Al-Kubro’ dan ‘Al-Fatawi’. Beliau wafat pada tahun 462 H.

6. Al-hafidh Abu Na’im Al-Ashfihani, Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Ishaq, penulis kitab yang terkenal; “Hilyatul Ulama’. Salah seorang pembesar ulama’ – ulama’ ahli hadits, beliau wafat pada tahun 430 H.

7. Abul Qosim Al-Furoni Al-Maruzi Asy-Syafi’i, Abdurrohman bin Muhammad bin Ahmad bin Furon, ulama’ ahli ilmu fiqih madzhab syafi’I yang menjadi pemimpin ulama’ – ulama’ ahli fiqih didaerah Marwa, beliau banyak menulis kitab tentang ushul, fiqih dan khilaf ulama’, diantara karya beliau adalah kitab “Al-ibanah”, beliau wafat pada tahun 463 H.

8. Imam Baihaqi, Abu Bakar, Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi An-Naisaburi, salah seorang ulama’ pembesar ilmu hadits dan fiqih madzhab syafi’i. Setelah belajar pada beliau, Imam Haromain juga ikut mengajar dimadrasah Imam Baihaqi> Imam Haromain sangat mengagumi gurunya ini, sampai – sampai beliau mengatakan; “Semua orang yang mengikuti madzhab syafi’I memiliki hutang budi kepada Imam Syafi’I, kecuali Imam Baihaqi, sebaliknya Imam Syafi’I mempunyai hutang budi pada beliau karena kitab – kitab karya beliau yang ditulis untuk membela pendapat –pendapat Imam Syafi’I dan madzhabnya”. Diantara kitab karya beliau adalah “As-Sunan Al-Kubro”, “Ma’rifatus Sunan Wal Atsar” dan Al-Mabsuth”. Beliau wafat pada tahun 458 H.

Murid – Murid Imam Haromain

Imam Haromain banyak menelurkan ulama’ – ulama’ yang sangat terkenal di zamannya, Syaikh Ibnul Jauzi bercerita; “setiap hari tak kurang dari 300 orang yang menghadiri majlis beliau untuk belajar, dan banyak dari mereka yang menjadi ulama’ – ulama’ besar, bahkan sebagian dari mereka sudah mengajar disaat beliau masih hidup”.

Diantara murid – murid beliau yang terkenal adalah :

1. Imam Ghozali, Syaikh Abu Hamid, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Al-Ghozali, penulis kitab – kitab terkenal seperti “Ihya’ ulumiddin”, “Al-Mankhul”, “Al-Mustashfa” dan lainnya, beliau wafat pada tahun 505 H.

2. Imam Ilkiya Al-Harrosi, Syaikh Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ali Ath-thobari, seorang ahli fiqih madzhab syafi’i, ushul dan hadits yang mendapat gelar “Imaduddin” (Tiang agama). Diantara kitab karya utama beliau adalah ‘Syifa’ul Mustarsyidin” dan “Ahkamul Qur’an”. Beliau wafat pada tahun 504 H.

3. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Al-Mudhoffar An-Naisaburi, ulama’ ahli fiqih madzhab syafi’i yang menjadi salah satu murid andalan Imam Haromain, beliau wafat pada tahun 500 H.

4. Al-Ustadz Abu Nashr, Abdurrohim bin Abdul Karim bin Hawazin, putra dari Imam Abul Qosim Al-Qusyairi, penggemar kitab tafsir, fiqih dan ilmu kalam, diantara kitab karya beliau adalah “Al-Maqomat” dan “Al-Adab”, beliau wafat pada tahun 154 H.

Kitab – Kitab karya Imam Haromain

Beliau meninggalkan banyak kitab karangan yang sangat bermanfaat dan terkenal. Berikut ini diantara karya – karya beliau;

1. Nihayatul Mathlab Fi Diroyatil Madzhab

2. Ghiyatsul umam Fit-Tiyatsidh Dhulam

3. Al-Aqidah An-Nidhomiyah

4. Asy-Syamil Fi Ushuliddin

5. Mughitsul Kholqi Fi atba’il Haqqi

6. Madarikul Uqul

7. Al-Burhan Fi Ushulil Fiqhi

8. Al-Irsyad Fi ushulil Fiqhi

9. At-Talkhish Fi Ushulil fiqhi

10. Al-Waroqot Fi Ushulil Fiqhi

Wafat Imam Haromain

Imam Haromain wafat didesa Busytaniqon, pada malam rabu setelah sholat isya’, tanggal 25 bulan Robi’ul Akhir tahun 478 H. dalam usia 59 tahun.

.......................................................

Referensi : Pengantar kitab syarah a-waroqot, karya Ibnul Firkah, Hal : 15 - 25