Template information

Hukum pengobatan dengan leburan ayat alqur'an

Soal: Assalamualaikum, ustadz mau tanya, apa hukumnya menulis al qur'an di piring lantas tulisan al qur'an di piring itu di lebur dengan air lalu di minum, bolehkah kita mengobati dengan cara begitu?

(Pertanyan dari: Opick Syahreza )

Jawab: Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,
Secara umum, pengobatan dengan menggunakan al-qur’an itu diperbolehkan, sebab salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur'an adalah sebagai obat (syifa'), sebagaimana firman Allah:

وَنُنَزِّل مِنْ الْقُرْآن مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَة لِلْمُؤْمِنِينَ

"Dan telah kami turunkan Al-Qur'an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al Isra’ : 82)

Banyak ulama’ yang menafsiri arti “syifa’” pada ayat diatas adalah segala bentuk pengobatan yang mencakup pengobatan rohani dan jasmani.

Bahkan pengobatan dengan menggunakan al-qur’an juga dianjurkan oleh nabi sebagaimana dijelaskan dalam satu hadits;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " عَلَيْكُمْ بِالشِّفَاءَيْنِ: الْعَسَلِ، وَالْقُرْآنِ

“Dari Abdullah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Gunakanlah dua jenis terapi penyembuhan; madu dan Al Qur'an." (Sunan Ibnu majah, no. 3452).

Sedangkan mengenai cara pengobatan dengan cara menuliskan ayat al-qur’an kemudian dilebur dan diminum oleh orang yang sakin, hukumnya diperselisihkan diantara ulama’.

Imam Nawawi dalam Syarh al Muhadzdzab (Majmu')nya berkata ; “Jika ada seseorang menulis (ayat) al-Qur'an dalam sebuah wadah atau bejana. Kemudian (wadah atau bejananya) dituangi air (sehingga tulisan ayat al-Qur'annya lebur dengan air) dan diminumkan kepada orang yang sakit, maka imam Hasan al-Bashri, Mujahid, Abu Qilabah dan al-Auzai berkata ; (hal tersebut) tak masalah. Dan imam An-Nakhoi membencinya. Tapi beliau berkata ; Tuntutan dari madzhab kita (Syafiiyyah) bahwasanya hal tersebut tidak masalah. Karena sungguh al-Qodli Husain, al-Baghowi dan yang lainnya berkata ; Seandainya ada seseorang menulis (ayat) al-Qur'an di sebuah manisan dan makanan, maka tak masalah memakan manisan dan makanan tersebut.”

Pendapat  yang tak memperbolehkan cara seperti ini juga dikemukakan oleh ibnu abdis salam dalam kitab fatwanya bahwa beliau mengharamkan meminum air leburan alqur’an karena akan masuk kedalam perut yang otomatis terkena najis yang ada didalam perut.  Namun pendapat ini oleh banyak ulama dianggap lemah.

Kesimpulannya menurut mayoritas ulama’ pengobatan dengan cara meminum air leburan ayat al-qur’an hukumnya boleh. Wallahu a’lam

(Dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad , Al Murtadho, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi :
1. Al-Itqon, juz 2 hal. 401

ﻣﺴﺄﻟﺔ : ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ : ﻟﻮ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺇﻧﺎﺀ ، ﺛﻢ ﻏﺴﻞ ﻭﺳﻘﺎﻩ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ ، ﻭﻣﺠﺎﻫﺪ ﻭﺃﺑﻮ ﻗﻼﺑﺔ ﻭﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻲ : ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻭﻛﺮﻫﻪ ﺍﻟﻨﺨﻌﻲ . ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﻘﺘﻀﻰ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺣﺴﻴﻦ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ : ﻟﻮ ﻛﺘﺐ ﻗﺮﺁﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﺣﻠﻮﻯ ﻭﻃﻌﺎﻡ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﺄﻛﻠﻪ ﺍﻧﺘﻬﻰ

2. Mughnil Muhtaj, juz 1 hal. 152

فوائد: يكره كتب القرآن على حائط ولو لمسجد وثياب وطعام ونحو ذلك، ويجوز هدم الحائط ولبس الثوب وأكل الطعام، ولا يضر ملاقاته ما في المعدة بخلاف ابتلاع قرطاس عليه اسم الله تعالى فإنه يحرم، ولا يكره كتب شيء من القرآن في إناء ليسقى ماؤه للشفاء خلافا لما وقع لابن عبد السلام في فتاويه من التحريم

3. Fatawa Al-Azhar, juz 8 hal.10

ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻠﺸﻔﺎﺀ
ﺍﻟﻤﻔﺘﻲ: ﻋﻄﻴﺔ ﺻﻘﺮ . ﻣﺎﻳﻮ 1997
ﺍﻟﻤﺒﺎﺩﺉ: ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ: ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﺗﻜﺘﺐ ﺑﻌﺾ ﺁﻳﺎﺕ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻳﻌﻠﻘﻬﺎ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﺃﻭ ﻳﻤﺤﻮﻫﺎ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ؟

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﺃﻣﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺷﻔﺎﺀ ﻓﺬﻟﻚ ﺃﻣﺮ ﻻ ﺷﻚ ﻓﻴﻪ ، ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ (( ﻭﻧﻨﺰﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺷﻔﺎﺀ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ )) ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ : 82 ، ﻭﻗﺎﻝ (( ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺪ ﺟﺎﺀﺗﻜﻢ ﻣﻮﻋﻈﺔ ﻣﻦ ﺭﺑﻜﻢ ﻭﺷﻔﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﻭﺭ )) ﻳﻮﻧﺲ : 57 . ﻭﻗﺪ ﺣﻤﻞ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻌﻢ ﺍﻟﺸﻔﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﺍﻟﻌﻘﻠﻴﺔ ﻭﺍﻟﻨﻔﺴﻴﺔ ﻭﺍﻟﺨﻠﻘﻴﺔ ﻭﺍﻟﺠﺴﻤﻴﺔ، ﺣﻴﺚ ﻻ ﻳﻮﺟﺪ ﻣﺎ ﻳﻤﻨﻊ ﺫﻟﻚ . ﻓﻬﻮ ﻳﺼﺤﺢ ﺍﻟﻔﻜﺮ ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ، ﻭﻳﻬﺬﺏ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﻳﻤﻨﺤﻬﺎ ﺍﻷﻣﻦ ﻭﺍﻟﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ ، ﻭﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺴﻠﻮﻙ ﺑﺎﻷﺧﻼﻕ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪﺓ ، ﻭﻳﺰﻳﻞ ﺍﻟﻌﻠﻞ ﻭﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﻌﺘﺮﻯ ﺍﻷﺟﺴﺎﺩ . ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭﻣﺴﻠﻢ ﺣﻜﺎﻳﺔ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﺤﻰ ﺍﻟﺬﻯ ﻟُﺪﻍ ، ﻭﺭﻗﺎﻩ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﺸﻔﺎﻩ ﺍﻟﻠّﻪ ، ﻭﺃﺧﺬﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺃﺟﺮﺍ ﺃﻗﺮﻫﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻗﺎﻝ " ﺇﻥ ﺃﺣﻖ ﻣﺎ ﺃﺧﺬﺗﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺟﺮﺍ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ " ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻄﻮﻟﻪ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻓﻰ ﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺩ ﻻﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ " ﺝ 3 ﺹ 121 " ﻭﺫﻛﺮ ﺃﻥ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺭﻭﻯ ﻓﻰ ﺳﻨﻨﻪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻠﻰ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺪﻭﺍﺀ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ " ﻭﻭﺿﺢ ﺗﺄﺛﻴﺮ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﺗﻮﺿﻴﺤﺎ ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻳﻤﻜﻦ ﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻴﻪ .

ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺸﻔﺎﺀ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺷﻔﺎﺀ ﺍﻷﺟﺴﺎﻡ ، ﺑﺪﻟﻴﻞ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥ ﻟﻜﻞ ﺩﺍﺀ ﺩﻭﺍﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺃﻭ ﺇﻻ ﺍﻟﻬﺮﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺪﺍﻭﻯ ، ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﻴﻦ ﻛﺎﻟﺤﺎﺭﺙ ﺑﻦ ﻛﻠﺪﺓ ، ﻭﻋﺎﻟﺞ ﺑﺎﻟﻔﺼﺪ ﻭﺍﻟﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭﺷﺮﺏ ﺍﻟﻌﺴﻞ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻭﺿﺤﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻄﺐ ﺍﻟﻨﺒﻮﻯ .

ﻭﺍﻟﺤﻖ ﺃﻥ ﻋﻼﺝ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ ﻣﻄﻠﻮﺏ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﻴﻦ ، ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻯ ﺃﺭﺷﺪ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺴﺆﺍﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ، ﻭﺑﺎﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ ﻭﺍﻹﻓﺎﺩﺓ . ﻣﻊ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﺑﻔﺎﻋﻠﻴﺘﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﺍﻟﻔﻜﺮﻯ ﻭﺍﻟﻨﻔﺴﻰ ، ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﻓﻰ " ﺍﻹﺗﻘﺎﻥ " ﺝ 2 ﺹ 163 ﻃﺮﻓﺎ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺹ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﺍﻟﻌﺎﻡ ، ﻭﺃﻭﺭﺩ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ " ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺸﻔﺎﺀﻳﻦ ﺍﻟﻌﺴﻞ ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ " ﻭﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻠﺪﻳﻎ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﺤﻰ ﻭﻋﻼﺟﻪ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺍﻟﺬﻯ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ ﻭﻣﺴﻠﻢ ، ﻭﺫﻛﺮ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻰ ﻋﻦ ﻋﻠﻰ ﻗﺎﻝ : ﻟَﺪَﻏَﺖْ ﺍﻟﻨﺒﻰَّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻘﺮﺏٌ ، ﻓﺪﻋﺎ ﺑﻤﺎﺀ ﻭﻣﻠﺢ ﻭﺟﻌﻞ ﻳﻤﺴﺢ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻳﻘﺮﺃ : ﻗﻞ ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ ﻭﺍﻟﻤﻌﻮﺫﺗﻴﻦ . ﺛﻢ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﻮﻭﻯ ﻗﺎﻝ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ : ﻟﻮ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻰ ﺇﻧﺎﺀ ﺛﻢ ﻏﺴﻠﻪ ﻭﺳﻘﺎﻩ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻯ ﻭﻣﺠﺎﻫﺪ ﻭﺃﺑﻮ ﻗﻼﺑﺔ ﻭﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻰ : ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ، ﻭﻛﺮﻫﻪ ﺍﻟﻨﺨﻌﻰ، ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﻘﺘﻀﻰ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ - ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ - ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ . ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺰﺭﻛﺸﻰ : ﻭﻣﻤﻦ ﺻﺮﺡ ﺑﺎﻟﺠﻮﺍﺯ ﻓﻰ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻹﻧﺎﺀ ﺍﻟﻌﻤﺎﺩ ﺍﻟﻨﻴﻬﻰ، ﻣﻊ ﺗﺼﺮﻳﺤﻪ ﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺑﺘﻼﻉ ﻭﺭﻗﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺁﻳﺔ ، ﻟﻜﻦ ﺃﻓﺘﻰ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺑﺎﻟﻤﻨع ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﺏ ﺃﻳﻀﺎ ، ﻷﻧﻪ ﻳﻼﻗﻰ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ . ﻭﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ . ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﻌﻼﺝ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ، ﻓﻬﻮ ﻧﺎﻓﻊ ﺇﻥ ﺷﺎء الله ... الخ..

Hukum melihat aurat anak masih kecil


Soal: Assalamu'alaikum, apa hukumnya  melihat aurat cewek (bukan mahram) yang masih kecil, balita, tapi tanpa di sertai nafsu..?

(Pertanyaan dari: Amar Ma'ruf Nahi Mukar)

Jawab: Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh,
Semua ulama' sepakat bahwasanya melihat aurot anak kecil -berapapun usianya dan bagian tubuh yang mana saja yang dilihat-, apabila disertai dengan syahwat hukumnya haram. Sebaliknya, mereka bersepakat mengenai kebolehan melihat melihat aurot anak kecil jika dilakukan tanpa adanya syahwat. Hanya saja kesepakatan mengenai kebolehan ini berlaku jika yang dilihat adalah bagian tubuh selain alat kelamin, sedangkan dalam masalah melihat alat kelamin anak kecil yang belum sampai pada "haddus syahwah" (batasan umur yang dapat menimbulkan syahwat) para ulama' berbeda pendapat.

Dalam madzhab syafi'i uga terdapat perelisihan dalam msalah ini, menurut Imam Rofi'i melihat alat kelamin anak kecil hukumnya haram, bahkan penulis kitab "Al-Uddah' menyatakan bahwa keharaman ini telah disepakati ulama' madzhab syafi'i. Namun pernyataan ini tidak dibenarkan oleh Imam Nawawi, sebab  Qodhi Husain berpendapat bahwa melihat kelamin anak kecil yang belum sampai pada "haddus syahwah" hukumnya boleh. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Mutawalli yang menyatakan bahwa pendapat yang shahih adalah pendapat yang membolehkannya, sebab hal seperti itu sudah dianggap biasa oleh masyarakat dari dulu hingga kini, dan kebolehan ini berlaku sampai anak tersebut menginjak usia tamyiz(kurang lebih 7 tahun).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa melihat aurot anak perempuan yang masih kecil tanpa disertai syahwat hukumnya boleh, apabila yang di;lihat adalah bagian selain alt kelaminnya, sedangkan apabila yang dilihat adalah alat kelaminnya hukumnya diperselisihkan diantara ulama', dan menurut pendapat yang dishahihkan Imam Mutawalli hukumnya juga boleh jika anak tersebut masih belum menimbulkan syahwat pada umumnya dan orang yang melihat tidak syahwat . Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh :Kaum Sarungan New Version, Bani Slagah Al Husaini,Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir)

Referensi :

1. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, juz 40 hal. 347

نظر الرجل إلى الصغيرة
اتفق الفقهاء على أن النظر إلى الصغيرة بشهوة حرام، مهما كان عمرها، ومهما كان العضو المنظور إليه منها، واتفقوا أيضا على أنه يجوز للرجل أن ينظر بغير شهوة إلى جميع بدن الصغيرة التي لم تبلغ حد الشهوة سوى الفرج منها. ثم اختلفوا في حكم النظر إلى فرج الصغيرة التي لم تبلغ حد الشهوة، وفي تقدير السن التي تبلغ فيها حد الشهوة، وفيما يحرم النظر إليه من الصغيرة التي بلغت حد الشهوة

2. Roudlotut thalibin, juz 7 hal. 24

الخامسة: في النظر إلى الصبية، وجهان. أحدهما: المنع. والأصح الجواز، ولا فرق بين عورتها وغيرها، لكن لا ينظر إلى الفرج
قلت: جزم الرافعي، بأنه لا ينظر إلى فرج الصغيرة. ونقل صاحب العدة الاتفاق على هذا، وليس كذلك، بل قطع القاضي حسين في تعليقه بجواز النظر إلى فرج الصغيرة التي لا تشتهى، والصغير، وقطع به في الصغير إبراهيم المروذي. وذكر المتولي فيه وجهين، وقال: الصحيح الجواز، لتسامح الناس بذلك قديما وحديثا، وأن إباحة ذلك تبقى إلى بلوغه سن التمييز، ومصيره بحيث يمكنه ستر عورته عن الناس. - والله أعلم

Cara Menguburkan Jenazah Saat Terjadi banjir

Soal: Assalamualaikum, Bagaimana caranya mengubur mayit jika keadaan sdang banjir?

(Pertanyaan dari: Ayix Juga Faried)

Jawab: Wa'alaaikum salam warohmatulloh wabarokatuh
Jika masih memungkinkan untuk dimakamkan didaerah tersebut, maka pemakaman dilakukan didaerah tersebut, dan apabila dikhawatirkan jenazah yang dimakamkan akan terkena air didalam kuburannya maka solusinya jenazah tersebut dimasukkan kedalam peti saat dimakamkan.

Hal ini dilakukan karena memindahkan pemakaman jenazah kedaerah lain itu tidak diperbolehkan, karena pemindahan tempat pemakaman akan menyebabkan penundaan pemakaman padahal pemakaman jenazah dianjurkan untuk sesegera mungkin dikerjakan, ketetapan hukum ini juga hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abi Malikah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata;

تُوُفِّيَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ بِحُبْشِيٍّ  قَالَ: فَحُمِلَ إِلَى مَكَّةَ، فَدُفِنَ فِيهَا، فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ أَتَتْ قَبْرَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، فَقَالَتْ
وَكُنَّا كَنَدْمَانَيْ جَذِيمَةَ حِقْبَةً ... مِنَ الدَّهْرِ حَتَّى قِيلَ لَنْ يَتَصَدَّعَا
فَلَمَّا تَفَرَّقْنَا كَأَنِّي وَمَالِكًا ... لِطُولِ اجْتِمَاعٍ لَمْ نَبِتْ لَيْلَةً مَعَا
ثُمَّ قَالَتْ: وَاللَّهِ لَوْ حَضَرْتُكَ مَا دُفِنْتَ إِلَّا حَيْثُ مُتَّ، وَلَوْ شَهِدْتُكَ مَا زُرْتُكَ

"Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal di Hubsyi. Kemudian dia dibawa ke Makkah dan dikubur di dalamnya. Tatkala Aisyah datang, dia mengunjungi kuburan Abdullah bin Abu Bakar, lalu berkata; "Kami adalah orang yang duduk di suatu raja di Iraq dalam waktu yang lama (empat puluh tahun) sampai dikatakan tidak akan berpisah lagi. Tatkala kami berpisah, seolah saya dan si mayit karena lamanya bersatu, belum pernah sekalipun bermalam bersama." Lalu beliau berkata; "Demi Allah, kalau saja saya hadir pada (kematian) mu, niscaya kamu tidak akan dikubur kecuali di tempat kamu meninggal. Seandainya saya menyaksikanmu, niscaya saya tidak akan mengunjungimu." (Sunan Turmudzi, no.1055).

Sedangkan jika daerah tersebut memang jenazah tersebut tidak mungkin bisa dimakamkan didaerah tersebut, maka pemakamannya dipindahkan kedaerah lain yang tidak kebanjiran.

Syekh Zakariya Al-Anshori menjelaskan bahwa jika tanah yang akan dijadikan tempat pemakaman mayit rusak atau jika dimakamkan ditempat tersebut mayit tersebut akan rusak, maka sebaiknya tidak dilakukan pemakaman ditempat tersebut, bahkan bisa jadi wajib dipindahkan ketempat lain.

Syekh Ad-Dardir, seorang ulama' madzhab Maliki juga menjelaskan tentang kebolehan memindahkan mayit sebelum dimakamkan dari satu tempat ketempat lainnya jika memang terdapat kemaslahatan seperti dikhawatirkan kuburannya tergerus air laut.

Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Muh KHolili Aby Fitry, Ubaid Bin Aziz Hasanan dan Siroj Munir).

Referensi:
1. Roudlotut Tholibin, juz 2 hal. 143

وأما نقل الميت من بلد إلى بلد قبل دفنه، فقال صاحب (الحاوي) قال الشافعي: لا أحبه إلا أن يكون بقرب مكة أو المدينة، أو بيت المقدس،  فنختار  أن ينقل إليها  لفضل الدفن فيها وقال صاحب (التهذيب) ، والشيخ  أبو نصر  البندنيجي  من العراقيين:  يكره نقله. وقال القاضي  حسين،  وأبو الفرج  الدارمي،  وصاحب  (التتمة) : يحرم  نقله.  قال  القاضي وصاحب (التتمة) : ولو أوصى به، لم تنفذ وصيته، وهذا أصح، فإن  في نقله تأخير دفنه وتعريضه لهتك حرمته من وجوه

2. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, juz 21 hal. 10

وذهب جمهور الشافعية والحنابلة  إلى أنه لا يجوز نقل الميت  قبل الدفن من بلد  إلى آخر إلا لغرض صحيح. وبه قال الأوزاعي وابن المنذر. قال عبد الله بن أبي مليكة: توفي عبد الرحمن بن أبي بكر بالحبشة، فحمل  إلى مكة فدفن،  فلما قدمت  عائشة رضي الله تعالى عنها أتت قبره، ثم قالت: والله  لو حضرتك ما دفنت إلا حيث مت، ولو شهدتك  ما زرتك. ولأن ذلك أخف لمؤنته، وأسلم له من التغيير، وأما إن كان فيه غرض صحيح جاز

3. Mughnil Muhtaj, juz 2 hal. 53

ويكره دفنه في تابوت) بالإجماع؛ لأنه بدعة  (إلا في أرض ندية) بسكون الدال وتخفيف التحتية (أو رخوة) وهي بكسر الراء  أفصح من فتحها: ضد  الشديدة  فلا يكره للمصلحة

4. Asnal Matholib, juz 1 hal. 324

ولو كانت المقبرة مغصوبة أو سبلها ظالم  اشتراها  بمال خبيث أو نحوهما أو كان أهلها أهل بدعة أو فسق أو كانت تربتها فاسدة لملوحة أو نحوها  أو كان نقل الميت إليها يؤدي لانفجاره فالأفضل اجتنابها قلت بل يجب في بعض ذلك

5. Syarah Al-Kabir Ala Mukhtashor Kholil, juz 1 hal. 421

و) جاز (نقل) الميت قبل الدفن وكذا بعده من مكان إلى آخر بشرط أن لا ينفجر حال نقله وأن لا تنتهك حرمته وأن يكون لمصلحة  كأن يخاف عليه أن يأكله البحر أو ترجى بركة الموضع المنقول إليه أو ليدفن بين أهله أو لأجل قرب زيارة أهله

Download Kitab At-taqrirot As-Sadidah - Al-Kaff


Judul kitab : At-taqrirot As-Sadidah Fil Masa'il Al-Mufidah

Penulis : Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff

Muhaqqiq : -

Penerbit : Darul Ilmi Wad Da'wah, Tarim - Yaman

Cetakan : Pertama

Tahun : 2003

Link download (PDF) : Klik disini 

Deskripsi: Kitab ini merupakan salah satu kitab fiqih madzhab syafi'i yang paling populer dikalangan pelajar ilmu fiqih saat ini, dan sering kali dijadikan rujukan oleh para santri dalam mempelajari fiqih madzhab syafi'i. Kelebihan utama kitab ini adalah metode penyusunannya yang sangat rapi, dimana permasalahan yang dibahas diberi nomer dan tabel untuk memudahkan pemahaman, seperti tabel perbedaan antara "al-lams" dan "al-mass" pada penjelasan masalah perkara-perkara yang membatalkan wudhu', perbedaan antara wudhu dan tayammum, tabel hukum seputar siklus haid dan nifas, dan pada pembahasan-pembahasan lainnya. Selain itu selain mencantumkan ukuran dan timbangan yang berlaku dalam fiqih, seperti farsah dan qullah, dicantumkan juga ukuran dan timbangan tersebut jika memakai ukuran dan timbangan yang berlaku pada masa ini.