Template information

Rencana Penerbitan Buku "FIQIH NIKAH" Kumpulan Hasil Diskusi Seputar Hukum Pernikahan

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh..

Para pengunjung website fikih kontemporer yang berbahagia...

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, artikel-artikel seputar permasalahan pernikahan, hasil diskusi grup fiqh kontemporer yang diposting di website fikih kontomperer merupakan postingan-postingan yang paling banyak dibaca.

Misalnya saja artikel yang berjudul "Hukum menjilat kelentit/klitoris istri" adalah artikel yang paling banyak dibaca dari ratusan artikel hasil diskusi lainnya, artikel ini hingga kini telah dibaca 23. 738 kali. Begitu juga halnya dengan artikel yang paling banyak dibagikan, diantara sekian banyak artikel, artikel berjudul "Hukum lelaki biasa menikahi syarifah (wanita keturunan habaib)" adalah artikel yang paling sering dibagikan, hingga kini artikel ini telah diberikan +1 oleh 41.312 pengguna google plus! Subhanallah...

Selain itu permasalahan-permasalahan seputar pernikahan juga sangat sering ditanyakan, bahkan beberapa masalah tertentu berulang kali ditanyakan di grup fiqh kontemporer, seperti masalah "Hukum meminum ASI seorang istri dan pengaruhnya dalam hubungan rodho' (persusuan)" yang telah selesai dibahas, didokumentasikan dan telah diposting ke website fikih kontemporer, namun masalah ini masih berulang kali ditanyakan. Artikel tersebut telah dibaca sebanyak 11. 741 kali semenjak dipostingkan.

Berdasarkan pengamatan tersebut kami mengambil kesimpulan bahwa hukum-hukum seputar permasalahan-permasalahan pernikahan memang banyak dibutuhkan dikalangan masyarakat umum.

Untuk itulah, kami para admin grup fiqh kontemporer berencana membukukan hasil-hasil diskusi seputar masalah pernikahan agar hasil-hasil keputusan diskusi grup fiqh kontemporer seputar masalah pernikahan tidak hanya dapat dibaca oleh orang yang memiliki akses internet namun bisa dibaca oleh semua orang. Sebagaimana dalam ilmu qo'idah fiqih terdapat satu qo'idah: العمل المتعدي أفضل من العمل القاصر (Amal perbuatan yang bisa dirasakan banyak orang lebih utama dari pada amal yang sifatnya hanya terbatas).

Kami merencanakan insya Allah bulan ini buku tersebut sudah bisa diterbitkan, dan bagi para pengunjung website fikih kontemporer yang berencana membelinya, bisa mendaftar mulai sekarang dengan cara SMS ke nomer: 0857 9080 5240.

Akhirul kalam, kami mohon do'a restu dari para pengunjung sekalian semoga kami diberi kemudahan dalam proses penerbitan buku ini..

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

NB: Mengenai harga dan ketentuan - ketentuan lainnya akan kami infokan secepatnya.. Insya Allah..

Hukum Menjawab Salam Saat Berpamitan/Perpisahan

Pertanyaan:
Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Mohon jawaban untuk semuanya, pertanyaan titipan; Si A berkunjung kerumahnya si B, di awal perjumpaan si A mungucap salam dan di jawab oleh si B, lantas (singkat cerita) setelah si A mau pulang dia mengucap salam lagi dan tidak di jawab oleh si B.

Yang jadi pertanyaan adalah ada satu oknum yang mempunyai persepsi bahwa salam dalam kasus terakhir diatas (ketika si A mau pulang) salam nya itu tidak wajib di jawab karena asumsi oknum tersebut, yang wajib di jawab adalah permulaan salam (إبتداء السلام).
Mohon tanggapan nya para teman-teman

(Pertanyaan dari : Izal Ya Fahri)

Jawaban:
Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Menurut pendapat mayoritas ulama' orang yang akan berpamitan pulang atau berpisah disunahkan menjawab salam, dan orang yang mendengarnya wajib menjawab salam tersebut. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian sampai pada suatu majlis hendaklah ia mengucapkan salam, dan jika akan bangkit hendaklah mengucapkan salam, dan tidaklah yang pertama itu lebih berhak dari yang terakhir." (Sunan Abu Dawud, no.4532 dan Sunan Turmudzi, no. 2630)

Sedangkan menurut  pendapat Qodli Husain dan imam al-Mutawalli salam yang diucapkan saat berpisah tidak wajib dijawab, alasannya karena salam merupakan suatu bentuk penghormatan, sedangkan perhormatan itu diberikan pada saat bertemu bukan pada saat berpisah.

Menanggapi pendapat ini, Imam Nawawi menyatakan bahwa pendapat ini menyalahi hadits yang telah disebutkan tadi. Pendapat tersebut juga ditentang oleh Imam Asy-Syasyi, bahkan beliau secara tegas menyatakan pendapat tersebut fasid (rusak), sebab mengucapkan disunahkan ketika bertemu dan juga ketika berpisah, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits diatas.

Kersimpulannya, anggapan bahwa salam yang diucapkan ketika berpisah tidak wajib dijawab itu tidak benar, sebab salam yang diucapkan ketika berpisah itu tetap wajib dijawab menurut pendapat yang benar dan diikuti oleh mayoritas ulama' dan didasarkan pada  hadits yang shahih. Wallahu a’lam

(Dijawab oleh; Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Al Murtadho, Ubaid Bin Aziz Hasanan, dan Siroj Munir)

Referensi :

1. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdab, juz 4 hal. 599

 ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻋﺸﺮﺓ )) : ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﻭﺃﺭﺍﺩ ﻓﺮﺍﻕ ﺍﻟﺠﺎﻟﺴﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ (( ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺠﻠﺲ ﻓﻠﻴﺴﻠﻢ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﻓﻠﻴﺴﻠﻢ ، ﻓﻠﻴﺴﺖ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺑﺄﺣﻖ ﻣﻦ ﺍﻷﺧﺮﻯ )) ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﺑﺄﺳﺎﻧﻴﺪ ﺣﺴﻨﺔ ، ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ : ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ، ﻓﻬﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ . (( ﻭﺃﻣﺎ ﻗﻮﻝ )) ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺣﺴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻲ : ﺟﺮﺕ ﻋﺎﺩﺓ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ ﻋﻨﺪ ﻣﻔﺎﺭﻗﺔ ﺍﻟﻘﻮﻡ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺩﻋﺎﺀ ﻣﺴﺘﺤﺐ ، ﺟﻮﺍﺑﻪ : ﻭﻻ ﻳﺠﺐ ; ﻷﻥ ﺍﻟﺘﺤﻴﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﺗﻜﻮﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ ﻻ ﻋﻨﺪ ﺍﻻﻧﺼﺮﺍﻑ (( ﻓﻈﺎﻫﺮﻩ )) : ﻣﺨﺎﻟﻒ ﻟﻠﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ، ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﺷﻲ : ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﻗﺎﻻﻩ ﻓﺎﺳﺪ ; ﻷﻥ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻻﻧﺼﺮﺍﻑ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﺳﻨﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ

2. Al Adzkar lin Nawawiy, hal. 258

فقد روينا في سنن أبي داود والترمذي وغيرهما بالأسانيد الجيدة عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " إذَا انْتَهَى أحَدُكُمْ إلى المَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ، فإذَا أَرَادَ أنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولى بأحَقّ مِنَ الآخِرَةِ " قال الترمذي: حديث حسن. قلت: ظاهر هذا الحديث أنه يجب على الجماعة ردّ السلام على هذا الذي سلَّم عليهم وفارقهم، وقد قال الإِمامان القاضي حسين وصاحبه أبو سعد المتولّي: جرتْ عادةُ بعض الناس بالسلام عند مفارقة القوم، وذلك دعاءٌ يُستحبّ جوابه ولا يجب، لأن التحية إنما تكون عند اللقاء لا عند الانصراف، وهذا كلامُهما، وقد أنكره الإِمام أبو بكر الشاشي الأخير من أصحابنا وقال: هذا فاسد، لأن السَّلامَ سنّةٌ عند الانصراف كما هو سنّة عند الجلوس، وفيه هذا الحديث، وهذا الذي قاله الشاشي هو الصواب

Hikmah Diwajibkannya Qodho' Puasa Wajib Bagi Orang Haid Tapi Tidak Diwajibkan Qodho' Sholat

Pertanyaan:
Kenapa seorang perempuan ketika haid sholat fardhunya tidak wajib diqodo', tapi kenapa kalau puasa wajib di qodo', pdahal dua-duanya sama-sama fardhu?

(Dari: Ahmadsyeckherkediri)

Jawaban:
Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Mu'adzah radhiyallahu 'anha;

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

"Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, 'Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' shalat? ' Maka Aisyah menjawab, 'Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ' Aku menjawab, 'Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.' Dia menjawab, 'Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' shalat'." (Shahih Muslim, no.335)

Berdasarkan hadits ini ditetapkan hukum bahwa wanita yang sedang haid diwajibkan mengqodho' puasa fardhu, namun tidak diwajibkan mengqodho' sholat fardhu. Ketentuan hukum ini telah disepakati oleh semua ulama' (ijma') segamaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi, Imam Ibnul Mundzir, Imam Zuhri dan ulama'-ulama' lainnya.

Sedangkan mengenai hikmahnya, imam Nawawi menjelaskan bahwa sholat fardhu merupakan kewajiban yang banyak dan berulang kali, sehingga apabila wajib diqodho' akan menyulitkan, berbeda dengan puasa fardhu yang hanya diwajibkan sekali setahun apalagi haid terkadang hanya berlangsung satu atau dua hari. Wallahu a'lam.

(Dijawab oleh: Moh ReUs Tnow, Imam Al-Bukhori dan Kudung Khantil Harsandi Muhammad)

Referensi:
1. I'anatut Tholibin, juz 1 hal. 85

ويجب قضاؤه) أي الصوم، لخبر عائشة رضي الله عنها كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاةأي للمشقة في قضائها لانها تكثر، ولم يبن أمرها على التأخير ولو بعذر بخلاف الصوم

2. Nailul Author, juz 1 hal. 348

وعن معاذة قالت سألت عائشة فقلت : ما بال الحائض  تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة ؟  قالت : كان يصيبنا ذلك مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة. رواه الجماعة
..................
نقل ابن المنذر والنووي وغيرهما إجماع المسلمين على أنه  لا يجب على الحائض قضاء الصلاة ويجب عليها قضاء الصيام . وحكى ابن عبد البر عن طائفة من الخوارج أنهم كانوا يوجبون على الحائض قضاء الصلاة وعن سمرة بن جندب أنه كان يأمر به فأنكرت عليه أم سلمة . قال الحافظ : لكن استقر ا الإجماع على عدم الوجوب كما قاله الزهري وغيره ،
ومستند ا الإجماع هذا الحديث الصحيح

3. Syarah Shahih Muslim Lin  Nawawi, juz 4 hal. 26

قولها (فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة) هذا الحكم متفق عليه أجمع المسلمون على أن الحائض والنفساء لاتجب عليهما الصلاة ولا الصوم في الحال وأجمعوا على أنه لايجب عليهما قضاء الصلاة وأجمعوا على أنه يجب عليهما قضاء الصوم قال العلماء والفرق بينهما أن الصلاة كثيرة متكررة فيشق قضاؤها بخلاف الصوم فإنه يجب في السنة مرة واحدة وربما كان الحيض يوما أو يومين

Download Kitab Al-Kulliyat Al-Fiqhiyah - Al-Maqarri


Judul Kitab: Al-Kulliyat Al-Fiqhiyah

Penulis: Imam Abul Abbas Ahmad bin Idris Ash-Shonhaji Al-Qorofi

Muhaqqiq: Muhammad bin Al-Hadi Abul Ajfan

Penerbit: Ad-Dar Al-Arobiyah Lil-Kitab

Tahun terbit: 1997

Link Download: Klik disini